Aku Datang, Aku Lihat, Allah Menaklukkan… Kisah Pengepungan Kota Wina (1683)

Awal Juli 1683. Malam merambat sunyi di atas Wina. Leopold I, Kaisar Romawi Suci, melangkah dengan tergesa memanggil para punggawa Kota Wina ke balai kota. Malam itu terasa pekat dan bisu, makin senyap karena lonceng katedral tak dibunyikan. Di dalam ruangan temaram, ketegangan merayap di antara para hadirin. Tak ada suara, desah, bahkan helaan nafas sedikitpun. 
Gambar 2 : Leopold I
“Tuan-tuan,” tutur Leopold I dengan tenang, namun kata-katanya menghujam seperti pedang, “Pasukan Ottoman sudah berderap semakin dekat. Mereka tidak berhenti hanya sampai Gyor, sebagian besar melanjutkan menuju Wina.”  Ruangan itu jadi terasa semakin hampa dan dingin, bahkan di tengah musim panas yang melanda Eropa. “Mereka akan tiba di depan gerbang kota kita paling lama dua minggu lagi,” Leopold I melanjutkan, masih dengan nada datar. Ruangan semakin hening. Semua sadar ucapan apa pun tak akan membantu. Akhirnya, uskup Wina, Leopold Karl von Kollonitsch berdiri, mencoba membangkitkan semangat. “Wina, mutiara di jantung Eropa, pintu gerbang Kekristenan Barat, akan tetap bertahan. Pasukan kafir Ottoman akan dihukum Tuhan, sama seperti satu setengah abad yang lalu.”  “Aku tak sependapat, Bapa,” Walikota Wina, Johann Andreas von Liebenberg menimpali dengan sopan, “Kondisi sekarang sangat berbeda dengan 154 tahun lalu. Aliansi Eropa saat ini sangat rentan, bahkan Sri Paus sendiri yang sudah memohon dukungan para raja dan penguasa hanya berbalas keheningan.” Pelan-pelan, seorang bapak setengah tua berseragam tentara mengangkat tangan. Setiap mata tertuju kepadanya, seakan semua harapan kini ditimpakan kepada lelaki tua perkasa itu. “Wina terlalu penting untuk diserahkan begitu saja. Bila Wina jatuh, gerbang Eropa terbuka, serangan Ottoman akan terus berlanjut ke Germania, Prancis, dan akhirnya menuju Roma, pusat Kekristenan Barat!” Jenderal Ernst Rudiger von Starhemberg yang sedang berbicara kemudian melanjutkan, ”Aku akan mempertahankan tembok Kota Wina bersama garnisunku, sambil berharap pasukan bantuan tiba. Semoga Tuhan menolong kita.” 
Gambar 3: Jenderal Ernst Rudiger von Starhemberg
“Jumlah pasukan Ottoman dan aliansinya yang sedang bergerak menuju Wina mencapai 150.000 orang,” ujar Kaisar Leopold I, masih dengan ketenangan yang sama, “Berapa jumlah pasukanmu, Jenderal?” “Lima belas ribu, Yang Mulia,” jawab Jenderal Starhemberg.  Terdengar desahan di sana-sini, beberapa lebih mirip erangan. Harapan tampaknya sirna sudah. “Benteng berlapis Kota Wina sanggup menahan serbuan pasukan Ottoman lebih dari sebulan. Dengan logistik yang sudah disiapkan, kami akan bertahan sambil menunggu bantuan tiba,” ujar Jenderal Starhemberg masih mencoba memompa asa hadirin.    Uskup Kollonitsch mencoba menengahi, “Aku dan beberapa relawan akan menemani pasukan Jenderal Starhemberg. Tapi kuharap Yang Mulia segera mengungsi bersama keluarga dan warga sipil. Keberlangsungan Dinasti Harpsburg adalah yang paling utama. Semoga bantuan segera tiba, tak peduli apakah dari pasukan Katolik atau Protestan.” Maka, tak menunggu lama, Kaisar Leopod I diiringi 60.000 sanak keluarga dan warga sipil bergerak keluar tembok kota menuju Passau, Jerman. Tinggallah 15.000 pasukan artileri dan 8.700 relawan, dilengkapi dengan 370 kanon (meriam) yang sepertiganya tak bisa dipakai. Jenderal Starhemberg sempat berkata, “Kami adalah mayat hidup yang sedang menjaga kuburan.” Ia menyadari bahwa menghadapi pasukan penyerbu yang jumlahnya 10 kali lipat sebenarnya suatu kemustahilan.  Pada 14 Juli 1683, derap langkah 150.000 pasukan Ottoman tiba di depan benteng Kota Wina. Wazir Agung (Grand Vizier) Kara Mustafa Pasha memimpin langsung salah satu pasukan paling perkasa di dunia saat itu. Bayangkan, bila kita menonton barisan pasukan Ottoman lewat, perlu waktu tiga jam sejak kepala barisan muncul sampai ekornya lewat. 
Gambar 4: Wilayah Ottoman abad ke-17
Pada abad ke-17, Kesultanan Ottoman (Utsmaniyah) masih berstatus sebagai adidaya, meskipun kekuatannya mulai meredup dibandingkan puncak kejayaan abad sebelumnya. Wilayah jajahannya saat itu sangatlah luas: mencakup Semenanjung Balkan, Rumania, dan Yunani di Eropa; Suriah, Lebanon, Irak, dan Palestina di Asia Barat; serta Mesir, Tunisia, dan Aljazair di Afrika Utara. Ambisi para sultan untuk menguasai Eropa Tengah dan Barat—yang kala itu menjadi pusat peradaban Kristen—telah mengakar sejak penaklukan Konstantinopel pada 1453, yang kemudian diubah menjadi ibu kota bernama Istanbul.  Upaya pertama merebut Wina pada 1529 gagal total akibat musim gugur ekstrem yang mengubah jalanan menjadi kubangan lumpur, memperlambat pergerakan, memaksa pasukan meninggalkan meriam berat, serta meruntuhkan kondisi prajurit karena kekurangan makanan. Untuk menebus kegagalan 154 tahun sebelumnya, kali ini Ottoman datang dengan persiapan jauh lebih baik: pasokan logistik dijamin oleh sekutu Balkan dan waktu serangan dipilih pada musim panas (Juli) demi memaksimalkan peluang kemenangan.
Gambar 5: Wazir Agung Kara Mustafa Pasha
Kara Mustafa tersenyum puas di depan benteng Wina. Ia telah memperoleh informasi mengenai jumlah pasukan musuh di dalam kota. Tak disangka, pertempuran ini tampaknya akan menjadi yang paling mudah baginya. Senyumnya semakin melebar saat membayangkan imbalan yang akan diterimanya dari Sultan Mehmed IV sepulangnya ke Istanbul nanti. Dengan penuh percaya diri, ia memerintahkan pemasangan tenda-tenda mewah di sekitar benteng, seolah-olah ia dan pasukannya hanyalah rombongan pelancong yang berkemah di depan Kota Wina yang indah. Tanpa tergesa-gesa, meriam dan persenjataan berat ditempatkan pada posisi yang tepat—tidak terlalu dekat agar tak terjangkau tembakan musuh, tetapi juga tidak terlalu jauh agar mampu meruntuhkan tembok pertahanan kota. Sebagian pasukan mulai menggali terowongan menuju dinding benteng, sementara yang lain menyiapkan bahan peledak untuk dipasang di ujung terowongan guna merusak fondasi tembok. Semua berjalan dengan tenang, karena Kara Mustafa lebih mengandalkan kelaparan dan wabah penyakit untuk menaklukkan Wina, ketimbang pertempuran besar yang juga akan memakan korban dari pihaknya.
Gambar 6: Pasukan Ottoman Mengepung Wina
Gambar 7 : Perkemahan Ottoman
Pengepungan Kota Wina pun resmi dimulai pada 14 Juli 1683. Namun, berapa lamakah kota itu akan mampu bertahan? Dari atas benteng Kota Wina, Jenderal Starhemberg dan pasukannya menyaksikan hamparan bendera pasukan Ottoman bagaikan ombak lautan hijau, berlukiskan bulan sabit dan bintang berkilauan, menari di tengah ribuan senapan dan tombak, bergulung-gulung hingga ke ujung cakrawala. “Jangan takut! Tuhan menyertai kita,” serunya mengobarkan semangat, meski kata-kata itu lebih ditujukan pada hatinya sendiri yang gemetar. Belum pernah ia melihat prajurit sebanyak itu seumur hidupnya. Maka, hari-hari penuh siksaan pun dimulailah. Pengeboman tanpa henti dan upaya penggalian terowongan menjadi rutinitas mencekam yang mewarnai kehidupan di dalam benteng. Para prajurit dan warga sipil mati-matian memperbaiki dinding benteng, meski nyawa, logistik, dan kesehatan mereka terkikis pelan-pelan setiap harinya. Uskup Kollonitsch tak henti-hentinya memanjatkan doa dan memberkati para prajurit, sementara Walikota Johann Andreas memimpin para relawan merawat korban luka serta mengatur perlengkapan dan logistik. Namun, ketahanan fisik dan mental mereka akhirnya runtuh seiring waktu yang terus berjalan—bukan hanya satu bulan, melainkan hampir dua bulan sejak pengepungan pertama kali dimulai.
Gambar 8: Mempertahankan Benteng Kota Wina
Pada 10 September 1683, Walikota Johann Andreas von Liebenberg menghembuskan nafas terakhir akibat kelelahan yang berkepanjangan. Ia menutup mata bersama ribuan prajurit dan relawan yang gugur selama pengepungan. Di ambang keruntuhan kota, Jenderal Starhemberg menaiki benteng dan mengarahkan pandangannya ke Gunung Kahlenberg, seolah masih menggantungkan harapan pada pertolongan Tuhan yang muncul dari balik pepohonan hijau di lerengnya. Namun, jika esok pasukan Ottoman berhasil meruntuhkan tembok pertahanan terakhir, tekadnya telah bulat untuk mati demi kehormatan Wina.  ========== Hampir 500 kilometer di timur laut Wina, di istananya di Krakow, Raja Polandia Jan III Sobieski sedang membaca surat dari Paus Innocent XI. Isinya: permohonan dukungan bagi Kota Wina yang tengah terkepung. Sejatinya, Sobieski telah terikat perjanjian dengan Kekaisaran Romawi Suci (kini wilayah Austria–Hongaria) untuk saling melindungi. Namun, hatinya tetap bergelora membaca surat sang Paus. Bahkan tanpa perjanjian dengan Kaisar Leopold I, ia lama menyimpan amarah terhadap Ottoman, yang telah menjajah sebagian Eropa selama puluhan bahkan ratusan tahun.
Gambar 9: Jan III Sobieski
Namun, nalarnya tetap bekerja. Dengan hanya 18.000 tentara Polandia, ia tak cukup kuat untuk menyergap pasukan Ottoman. Waktu pun mendesak: Agustus telah berjalan separuh. Maka, sambil mengajak raja-raja dan penguasa Eropa lain untuk bergabung, Sobieski memimpin pasukan kavaleri Polandia yang telah termasyhur itu memulai perjalanan menuju Wina. Di tengah jalan, 28.000 pasukan infanteri Jerman dan 18.000 pasukan Kekaisaran Romawi Suci di bawah pimpinan Kaisar Leopold I turut bergabung. Meski jumlah total mereka masih jauh lebih kecil daripada pasukan Ottoman, Sobieski percaya diri karena menyimpan senjata rahasia yang kelak menjadi legenda hingga berabad-abad kemudian: para Hussar Bersayap—pasukan berkuda elit dengan tombak panjang di tangan para penunggangnya. 
Gambar 10: Jan III Sobieski dan Leopold I
Pada 11 September 1863, pasukan Sobieski tiba di lereng Gunung Kahlenberg. Dari puncak bukit itu, ia bersama Karl V, Adipati Lorraine selaku panglima pasukan kekaisaran, menyusun strategi serangan. Tanpa menunggu lama, pasukan Jerman pun dikerahkan untuk melancarkan serangan awal ke jantung pasukan Ottoman pada dini hari 12 September. Pertempuran besar memperebutkan Kota Wina pun akhirnya dimulai.  Meski terkejut dengan serangan mendadak aliansi Eropa, pasukan Ottoman tetap menunjukkan ketenangan. Berkat pengalaman tempur mereka, terutama pasukan elit Janissary, mereka mampu menahan gempuran awal pasukan Eropa untuk sementara waktu. Namun, selepas tengah hari, tanpa diduga, Jan III Sobieski melancarkan serangan dahsyat dengan mengerahkan 18.000 pasukan kavaleri yang meluncur deras dari lereng Gunung Kahlenberg menuju pertahanan Ottoman. Jumlah ini tercatat sebagai pasukan kavaleri terbesar dalam sejarah. Yang lebih mencengangkan, di bagian terdepan adalah 3.000 pasukan Hussar bersayap—prajurit berkuda dengan hiasan sayap dari bulu elang atau burung unta yang terpasang di punggung zirah mereka. Saat berlari kencang, sayap-sayap itu menghasilkan bunyi gemuruh mengerikan yang berfungsi mengguncang moral musuh sekaligus menakuti kuda-kuda lawan. 
Gambar 11: Pasukan Hussar Bersayap
Gambar 12: Perang Wina 1683
Sebagian besar pasukan Ottoman belum pernah menghadapi pemandangan seperti itu; mereka tersentak bukan hanya oleh suara gemuruh yang bagaikan guntur, tetapi juga oleh penampilan para penunggang yang seperti malaikat pencabut nyawa. Kepanikan menyebar dengan cepat—ratusan ribu pasukan Ottoman tercerai-berai, sebagian besar mundur dan melarikan diri dalam kekacauan. Wazir Agung Kara Mustafa pun terpaksa meninggalkan medan pertempuran demi menyelamatkan nyawa. Dalam waktu hanya 15 jam, pasukan Sobieski berhasil menggulingkan pasukan Ottoman yang semula dianggap perkasa, meninggalkan medan yang dipenuhi mayat, korban luka, dan ribuan tawanan. ============ Sebelum tengah malam 12 September 1683, pasukan pembebas memasuki Kota Wina. Mereka disambut sebagai pahlawan oleh warga kota yang jumlahnya sudah berkurang hampir 4.000 orang dalam dua bulan. Jenderal tua Starhemberg bercucuran air mata saat menyadari pertempuran sudah berakhir, ia yang pertama kemudian memeluk Jan III Sobieski. Di kemudian hari, Sobieski menuliskan surat kepada istrinya menceritakan peristiwa itu , “Pampasan perang kami adalah harta karun yang tak pernah terdengar sebelumnya … tenda-tenda, domba, sapi, dan tak sedikit unta … ini adalah kemenangan yang tak diduga oleh siapa pun sebelumnya, musuh kini hancur total, segalanya hilang bagi mereka. Mereka harus berlari sekencang-kencangnya untuk menyelamatkan nyawa mereka … Jenderal Starhemberg memeluk dan menciumku serta menyebutku penyelamatnya.“ Malam itu, yang pertama dilakukan Jan Sobieski adalah mengunjungi katedral St. Stephen yang megah, berdoa di altar, mengucapkan syukur kepada Tuhan, dan kemudian berteriak, ”Venimus, vidimus, Deus vicit – We came, We saw, God conquered- Kami datang, kami melihat, Tuhan menaklukkan.”
Gambar 13: Kathedral St. Stephen, Wina
Pertempuran Wina pada tahun 1683 merupakan titik balik paling penting bagi Eropa dan Kesultanan (Kekhalifahan) Ottoman. Sejak kekalahan tersebut, Ottoman tidak pernah lagi melancarkan ekspansi militer ke benua Eropa, dan dalam beberapa dekade berikutnya, negara-negara Balkan satu persatu berhasil meraih kemerdekaan mereka. Menyadari dampak besar pertempuran itu bagi keselamatan dunia Kristen Barat, Paus Innocent XI menganugerahkan gelar Defensor Fidei (Pembela Iman) kepada Raja Jan III Sobieski.
Gambar 14: Monumen untuk mengenang Jan III Sobieski
***
Related Post