Pemimpin: Antara Pencitraan Diri dan Anugerah dari Tuhan

 

Ketika Kita Ingin Dilihat Baik

Hampir setiap orang ingin dilihat oleh orang lain sebagai seorang yang baik. Kita ingin dikenal sebagai pribadi yang kompeten, dapat dipercaya, ramah, berhasil, dan layak diterima. Keinginan itu manusiawi. Sejak kecil kita belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan, bagaimana harus berbicara, bagaimana bersikap, serta bagaimana menunjukkan sisi terbaik dari diri kita kepada orang lain.

Ketika seseorang menjadi pemimpin, kebutuhan untuk dikenal sebagai orang yang layak dihargai sering menjadi semakin kuat. Semakin tinggi posisi seseorang, semakin banyak mata memperhatikan. Perkataannya didengar, keputusan dinilai, sikapnya diamati, dan kesalahan kecil sekalipun bisa mendapat perhatian yang lebih besar.

Erving Goffman menjelaskan bahwa dalam kehidupan sosial, manusia secara alami melakukan apa yang dikenal sebagai impression management. Kita menyesuaikan cara menampilkan diri sesuai dengan situasi dan orang yang kita hadapi. Cara kita berbicara kepada keluarga tentu berbeda dengan cara kita berbicara kepada atasan, bawahan, atau di depan publik. Dalam batas yang sehat, hal ini bukan sesuatu yang salah. Kemampuan membaca situasi, menjaga kesopanan, memilih kata dengan tepat, dan memahami orang lain merupakan bagian dari kematangan sosial.

Masalah mulai muncul ketika kita tidak lagi sekadar mengelola cara berkomunikasi, tetapi mulai berusaha mengendalikan bagaimana orang harus melihat diri kita. Dari sinilah seorang pemimpin perlahan bisa terjebak dalam pencitraan. Kita takut terlihat lemah, takut dianggap tidak mampu, takut dikritik, takut ditolak, atau takut orang lain melihat bagian dari diri kita yang tidak seideal gambaran yang selama ini kita tampilkan.

Tanpa disadari, energi yang seharusnya digunakan untuk menjalankan tanggung jawab mulai terserap untuk mempertahankan kesan. Kepemimpinan yang seharusnya menjadi panggilan dapat perlahan berubah menjadi panggung.

David McClelland, melalui konsep need for affiliation, menjelaskan bahwa manusia memiliki kebutuhan untuk diterima, disukai, dan menjadi bagian dari suatu kelompok. Kebutuhan ini juga bukan sesuatu yang salah. Kita membutuhkan relasi, persahabatan, keluarga, dan komunitas. Bahkan seorang pemimpin yang terlihat kuat tetap membutuhkan orang lain yang dapat menerima, mendukung, mengingatkan, dan berjalan bersama dengannya.

Namun kebutuhan yang baik dapat berubah menjadi jebakan ketika penerimaan manusia menjadi sumber utama rasa aman kita. Pada titik itu, seorang pemimpin dapat mulai lebih memikirkan apakah dirinya akan disukai daripada apakah sesuatu yang dilakukannya benar. Ia mungkin menghindari percakapan yang sulit karena takut kehilangan penerimaan, menunda keputusan karena khawatir dianggap keras, atau memilih kata yang aman meskipun tidak sepenuhnya sesuai dengan keyakinannya.

Paulus memberikan pengingat yang sangat tajam dalam Galatia 1:10: “Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.”

Ayat ini tentu bukan ajakan untuk menjadi kasar atau tidak peduli kepada orang lain. Kekristenan justru mengajarkan kasih dan perhatian. Paulus sedang membawa kita kepada sesuatu yang lebih dalam, yaitu pusat orientasi kehidupan. Seorang pemimpin Kristen pada akhirnya tidak dapat menjadikan penerimaan manusia sebagai fondasi utama identitasnya. Sebab ketika hidup terlalu bergantung pada pujian, penolakan manusia akan mudah mengguncang kita.

Di tengah refleksi tersebut, kehidupan Matius memberikan sebuah gambaran yang sederhana tetapi sangat kuat.

Matius dan Masa Lalu yang Tidak Dihapus

Ketika menuliskan daftar dua belas rasul, Matius menyebut dirinya sebagai “Matius pemungut cukai” dalam Matius 10:3. Menariknya, Markus dan Lukas ketika menuliskan daftar yang sama cukup menyebut namanya sebagai “Matius”. Tidak ada tambahan mengenai profesi lamanya.

Matius sendiri justru mempertahankan dua kata yang mengingatkan pembacanya pada masa lalu yang tidak membanggakan. Pada zamannya, pemungut cukai bukan profesi yang mempunyai citra baik di tengah masyarakat Yahudi. Mereka bekerja di dalam sistem pajak kekuasaan Romawi dan sering dipandang sebagai orang yang dekat dengan ketidakjujuran, ketamakan, serta pengkhianatan terhadap bangsanya sendiri.

Jika Matius ingin membangun citra yang baru, sebenarnya ia memiliki kesempatan yang sangat mudah. Ia cukup menulis namanya saja. Ia sudah menjadi salah satu dari dua belas rasul. Ia telah dipanggil Kristus dan menjadi saksi Injil. Tidak ada keharusan untuk terus mengingatkan pembaca bahwa dahulu ia adalah seorang pemungut cukai.

Namun ia tidak menghapus dua kata itu.

Alkitab memang tidak secara eksplisit menjelaskan motif psikologis Matius, sehingga kita tidak perlu mengarang apa yang tidak dikatakan Kitab Suci. Tetapi sebagai sebuah refleksi, cara Matius memperkenalkan dirinya memberikan gambaran yang indah tentang seseorang yang tidak merasa perlu memoles masa lalunya agar dirinya terlihat lebih layak.

Ia tidak sedang merendahkan dirinya secara palsu. Ia juga tidak sedang menggunakan masa lalunya sebagai sebuah bentuk personal branding. Ia hanya mencatat sebuah fakta. Dan justru di dalam fakta itulah anugerah Tuhan terlihat semakin besar.

Seorang pemungut cukai dipanggil Kristus. Seorang yang memiliki masa lalu yang dipandang rendah oleh masyarakat diubahkan, dipakai, dan kemudian menjadi saksi Injil.

Masa lalu Matius tidak perlu dihapus karena masa lalu itu telah mendapatkan makna yang baru. Apa yang dahulu mungkin menjadi sumber rasa malu sekarang menjadi latar yang memperlihatkan betapa besar karya anugerah Tuhan.

 

Ketika Anugerah Lebih Besar daripada Citra Diri

Kita sering melakukan hal yang sebaliknya. Kita ingin orang lain mengingat keberhasilan kita dan melupakan kegagalan kita. Kita lebih nyaman memperlihatkan bagian kehidupan yang berhasil daripada bagian yang menunjukkan kelemahan dan keterbatasan kita.

Tentu bukan berarti setiap kegagalan dan kelemahan harus diumumkan kepada publik. Kebijaksanaan tetap diperlukan. Namun seorang pemimpin perlu memiliki kebebasan batin untuk tidak terus-menerus mempertahankan gambaran bahwa dirinya selalu mampu, selalu benar, dan selalu mengetahui semua jawaban.

Paulus mengungkapkan kesadaran yang sangat indah ketika berkata: “Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang.” – 1 Korintus 15:10. Pusat dari kehidupan Paulus bukanlah kebanggaan terhadap kemampuan dirinya, melainkan kasih karunia Allah.

Di sinilah seorang pemimpin menemukan kebebasan yang sesungguhnya. Kita tidak perlu berpura-pura sempurna. Kita boleh mengakui kita pernah salah, masih memiliki keterbatasan, masih harus belajar, dan terkadang membutuhkan bantuan orang lain. Mengakui hal tersebut tidak otomatis membuat seseorang menjadi pemimpin yang lemah.

Justru orang yang tidak terlalu bergantung pada citra dirinya akan lebih mudah mengakui kesalahan, menerima koreksi, dan belajar dari orang lain. Identitas Kristen bukanlah sebuah pernyataan, “Lihatlah betapa hebatnya saya,” tetapi sebuah kesaksian, “Lihatlah apa yang kasih karunia Tuhan mampu kerjakan melalui kehidupan yang tidak sempurna.”

Kesadaran inilah yang kemudian membawa kita kepada arti kepemimpinan Kristen itu sendiri.

Ketika Jabatan dan Status Menjadi Panggilan

Henry dan Richard Blackaby menggambarkan kepemimpinan rohani sebagai proses membawa orang kepada agenda Tuhan. Jika perspektif ini benar-benar dihidupi, maka posisi kepemimpinan tidak lagi menjadi tempat untuk membuktikan nilai diri. Jabatan berubah menjadi tempat pelayanan. Talenta menjadi titipan. Pengaruh menjadi tanggung jawab. Roma 11:36 mengingatkan kita: “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia.” Kalimat sederhana ini menempatkan seorang pemimpin pada posisi yang tepat.

Apa yang kita miliki pada akhirnya kita terima. Kesempatan memimpin, kemampuan berpikir, pengalaman, jaringan, bahkan kekuatan untuk menjalani tanggung jawab bukan sepenuhnya hasil usaha kita sendiri. Kita memang bekerja keras dan mengembangkan kemampuan, tetapi di balik semua itu ada anugerah yang memungkinkan kita berada di tempat kita sekarang.

Karena itu kepemimpinan tidak seharusnya menjadi panggung untuk meninggikan diri.

Hari ini kita mungkin berada di depan. Suatu hari orang lain akan menggantikan posisi tersebut. Hari ini nama kita mungkin dikenal, suatu hari nama itu mungkin tidak lagi disebut. Namun yang terutama bukan berapa lama orang mengingat kita, melainkan apakah selama kesempatan itu diberikan, kita telah menggunakan apa yang dipercayakan kepada kita dengan setia.

Reputasi Bukanlah Pencitraan

Di sinilah kita juga perlu membedakan antara reputasi dan pencitraan. Seorang pemimpin tetap membutuhkan reputasi yang baik. Alkitab pun mengajarkan pentingnya nama baik dan kesaksian yang baik. Integritas harus dijaga. Perkataan dan tindakan perlu konsisten. Kepercayaan harus dibangun.

Namun reputasi berbeda dengan pencitraan. Reputasi tumbuh dari karakter yang dijalani secara konsisten. Pencitraan berusaha mengendalikan persepsi. Reputasi membutuhkan waktu. Ia dibentuk melalui keputusan-keputusan kecil yang dilakukan terus-menerus, baik ketika orang melihat maupun ketika tidak ada seorang pun yang melihat. Pencitraan lebih mudah berpusat pada apa yang tampak dari luar.

Komunikasi tentu tetap penting. Seorang pemimpin harus mampu menjelaskan keputusan, membangun kepercayaan, dan membawa orang memahami arah yang dituju. Namun komunikasi seharusnya menjadi ekspresi dari karakter, bukan alat untuk menyembunyikan karakter.

Ada satu bahaya lain yang juga perlu dijaga. Setelah seorang pemimpin belajar untuk tidak terlalu bergantung pada penilaian manusia, ia bisa jatuh pada bentuk kesombongan yang baru. Ia merasa dirinya lebih berani, lebih autentik, bahkan lebih rohani daripada orang lain karena merasa tidak membutuhkan penerimaan manusia.

Bahkan kerendahan hati pun dapat berubah menjadi pencitraan ketika kita ingin dikenal sebagai orang yang rendah hati.

Karena itu perjalanan seorang pemimpin Kristen bukan perjalanan menuju kondisi di mana ia merasa dirinya sudah selesai. Kita tetap manusia yang sedang dibentuk. Kita masih membutuhkan koreksi, komunitas, pertobatan, dan anugerah setiap hari.

Yakobus 4:6 mengingatkan: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.” Kerendahan hati bukan berarti mengecilkan kemampuan yang Tuhan berikan. Jika Tuhan memberi talenta, kita justru bertanggung jawab untuk mengembangkannya dan menggunakannya sebaik mungkin. Kerendahan hati berarti memahami kemampuan itu secara benar: sebagai pemberian, sebagai kepercayaan, dan sebagai sesuatu yang harus dipakai untuk melayani.

Ketika Tuhan Menjadi Semakin Terlihat

Pada akhirnya, pencitraan diri bukan sekadar persoalan media sosial, komunikasi publik, atau bagaimana orang melihat penampilan kita. Ini adalah persoalan hati.

Matius memberikan sebuah cermin yang sederhana. Ia tidak perlu menghapus kata “pemungut cukai” dari masa lalunya. Ia tidak perlu membuktikan bahwa dirinya layak menjadi rasul. Kristuslah yang memanggilnya, dan anugerah Tuhanlah yang memberi arah baru kepada hidupnya.

Mungkin disinilah seorang pemimpin menemukan kebebasan yang sebenarnya.

Kita tidak perlu hidup tanpa reputasi, tetapi kita juga tidak perlu hidup demi reputasi. Kita tidak perlu menolak apresiasi, tetapi jangan sampai apresiasi menjadi makanan utama bagi jiwa. Kita boleh dikenal, tetapi tidak harus hidup untuk dikenal. Kita boleh memiliki jabatan, tetapi jabatan tidak boleh menjadi sumber identitas kita.

Kiranya setiap posisi kepemimpinan kembali kita lihat sebagai anugerah. Dari Dia, oleh Dia, dan kepada Dia. Karena itu kita bekerja dengan sungguh-sungguh, menggunakan talenta dengan maksimal, terus belajar, berani mengambil tanggung jawab, menerima koreksi dengan rendah hati, dan tetap sadar bahwa kita pun masih terus dibentuk oleh Tuhan. Matius tidak perlu membuktikan bahwa dirinya layak. Kristuslah yang memanggilnya. Demikian pula dengan kita.

Yang terutama bukan seberapa berhasil kita membangun citra sebagai seorang pemimpin, tetapi apakah melalui kehidupan dan kepemimpinan kita, orang dapat melihat sesuatu yang jauh lebih besar daripada diri kita sendiri: kasih karunia, kebenaran, dan kemuliaan Tuhan.

Pemimpin Kristen tidak dipanggil untuk membuat dirinya tampak hebat dan besar, tetapi untuk hidup sedemikian rupa sehingga melalui dirinya, karya Tuhan semakin terlihat.

Soli Deo Gloria.

 

Referensi

Blackaby, Henry T., & Richard Blackaby. Spiritual Leadership: Moving People on to God’s Agenda.

Goffman, Erving. The Presentation of Self in Everyday Life.

McClelland, David C. Human Motivation.

Related Post