Jeremy Claudio Wijaya: Kedaulatan Tuhan di Balik Badai Hidup
Di usia 25 tahun, Jeremy Claudio Wijaya telah menjalani 11 kali tindakan operasi di
bagian kepala. Tahun lalu, dalam lima bulan ia harus dioperasi sebanyak lima kali.
Hidupnya akrab dengan rasa sakit yang hebat. Namun justru di tengah kisah
perjuangan fisiknya, ia berjumpa dengan kedaulatan Tuhan.
Ombak Kehidupan
Di saat kebanyakan pemuda menikmati hidup penuh kebebasan mengejar mimpi,
Jeremy menjalani kisah berbeda. Ia bergumul dengan masalah kesehatan sedari
kecil, bahkan mungkin sejak lahir.


Fasilitas dan alat kesehatan yang relatif terbatas pada awal 2000-an membuat
kondisi medis Jeremy baru terdeteksi dengan jelas ketika ia berusia sekitar dua
tahun. Ia didiagnosis mengidap hidrosefalus, sebuah kondisi di mana terdapat
penumpukan cairan di dalam rongga otak. Umumnya, gejala hidrosefalus tampak
berupa ukuran kepala yang membesar karena terjadi saat tulang tengkorak belum
menyatu. Namun tidak demikian dengan Jeremy. Tengkorak kepalanya sudah
mengeras terlebih dulu, sehingga cairan justru menekan jaringan otak dan
mempengaruhi area matanya. Ia kerap didera sakit kepala yang begitu hebat.
Jeremy menjalani operasi pertama saat usianya baru dua tahun. Tindakan tersebut
dilakukan untuk memasang sebuah selang khusus (shunt) untuk membuang
kelebihan cairan yang menekan otaknya. Sejak saat itu, seiring dengan
pertumbuhan fisiknya, Jeremy seperti memiliki jadwal rutin untuk operasi
penggantian shunt. Selama rentang 2002-2018, Jeremy menjalani enam kali
tindakan operasi.


Tentu saja, masa kecil Jeremy jadi tak seperti anak-anak lain. Ada masa-masa di
mana Jeremy terpaksa harus absen sekolah, bahkan pernah bolos selama sebulan
lebih karena menjalani masa pemulihan pascaoperasi. Namun, Jeremy bersyukur
dan bersaksi bahwa meskipun sering tertinggal pelajaran, nilai akademiknya tetap
bagus hingga ia selalu berhasil naik kelas. “Anugerah Tuhan,” katanya.
Kondisi kesehatan Jeremy juga berpengaruh terhadap kemampuan motoriknya. Ia
baru bisa mengendarai sepeda roda dua saat usianya 16 tahun. Meski begitu,
Jeremy tetap jadi remaja yang penuh semangat. Ia bahkan sempat nekat belajar
mengendarai sepeda motor untuk melepas stres di tengah tekanan persiapan Ujian
Nasional, sebuah keberanian yang menunjukkan semangat hidup yang pantang
menyerah.
Kala Ombak Menjadi Badai
Selama tujuh tahun, di rentang 2018-2025, Jeremy tidak mengalami masalah berarti
pada kepalanya. Seperti perkiraan dokter, masalah akan berkurang ketika beranjak
dewasa. Ia pun bisa leluasa menjalani hari-harinya: berkuliah, pelayanan, dan mulai
merajut masa depan. Di April 2025, Jeremy berhasil menyelesaikan pendidikannya
dan lulus dari program studi Sistem Informasi di Universitas Bunda Mulia (UBM).


Namun, selang dua bulan dari hari kelulusannya, masalah mendadak muncul,
bahkan jauh lebih buruk dari sebelumnya. Cairan di otaknya terkena bakteri, entah
apa penyebabnya. Akibatnya, selang pembuangan di kepalanya tersumbat. Masalah
bertambah karena selang tersebut sudah lama tertanam dan berisiko memicu
pendarahan jika dicabut.
Sejak Juni hingga November 2025, Jeremy harus menghadapi ujian fisik
terberatnya. Dalam rentang lima bulan, ia dioperasi sebanyak lima kali berturut-turut.
Ini berarti ia harus naik ke meja operasi nyaris setiap bulan. Di operasi yang terakhir,
tim dokter memutuskan untuk melakukan tindakan dengan metode endoskopi.
Secara total, Jeremy sudah menjalani operasi sebanyak 11 kali sepanjang hidupnya.
Bagi sebagian kita, terutama yang tidak mengalami, “dioperasi sebulan sekali”
barangkali hanya terdengar sebagai rentetan jadwal medis. Namun bagi Jeremy, itu
adalah siksaan fisik dan mental yang luar biasa.


Sakit kepala yang ia rasakan sama sekali berbeda dengan sakit kepala biasa yang bisa sembuh dengan beristirahat atau meminum parasetamol. “Otak saya seperti sedang dicengkeram dengan sangat
kuat,” ujar Jeremy mendeskripsikan kesakitannya.
Sakit yang ia rasakan sudah sampai level tak bisa didefinisikan; jangankan untuk
beraktivitas, ia bahkan kerap terbangun dari tidur lantaran kesakitan. Malahan,
menurut Jeremy, ia seperti bukan sedang tidur, melainkan pingsan saking tubuhnya
tak mampu menahan sakit yang begitu hebat.
Setiap kali menjalani rawat inap yang difasilitasi BPJS, ia hanya dirawat selama tiga
hari lalu dipulangkan, dan rasa sakit yang menyiksa itu akan kembali datang satu
atau dua minggu kemudian.
Kondisi fisik Jeremy pun turun drastis. Setelah operasi ke-10, ia kehilangan
keseimbangan. Kaki-kakinya melemah. Bahkan untuk sekadar berjalan dari kamar,
ia harus merambat pelan sambil berpegangan pada tembok. Ia tak lagi mampu
menopang beban tubuhnya sendiri.
Jeremy masih ingat betapa frustrasinya ia saat merasa kuat tapi nyatanya sudah
kehilangan koordinasi motorik hingga membuatnya terjatuh dan tak sanggup berdiri.
Ia baru saja meraih gelar sarjana dan siap menyongsong dunia kerja; kehilangan
kendali atas tubuhnya sendiri tentu merupakan pukulan psikologis yang amat
menyakitkan.
Bergumul dan Menemukan Kedaulatan Tuhan
Di tengah rasa sakit yang mendera fisik dan mentalnya, Jeremy diuji. Ia sempat
merasa marah, kesal, hingga dihinggapi berbagai emosi negatif lainnya. Pertanyaan,
“Mengapa harus aku yang mengalami semua ini, Tuhan?” juga tercetus dalam
doanya. Namun, di titik terendah inilah Tuhan bekerja membentuk karakter dan
kedewasaan iman Jeremy secara luar biasa.
Jeremy tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam keputusasaan dan kemarahan
yang berkepanjangan. Dia justru mengambil langkah iman untuk belajar menerima
keadaannya. Ia berdoa dan mengubah perspektifnya; ketika mulai mengeluh
“Mengapa harus Jeremy?” ia membalikkan pertanyaan itu secara rasional,
“Mengapa harus orang lain?” Jeremy menyadari dan mengimani bahwa Tuhanlah
yang memilih dan mempercayakan ujian ini kepadanya.
Di tengah segala penderitaannya, Jeremy menemukan sebuah kebenaran teologis
yang sangat indah dan membebaskan. Ia menyadari bahwa kekristenannya bukan
sekadar konsep bahwa “ia memiliki Tuhan”, melainkan bahwa “Tuhanlah yang
memilikinya”. Kesadaran bahwa ia adalah milik Tuhan seutuhnya membuat Jeremy
mengerti bahwa sejauh apapun ia mencoba berlari atau bersembunyi dari kenyataan
hidup, Tuhan akan selalu menariknya kembali kepada-Nya dengan segala cara-Nya
yang berdaulat.
Karena pemahaman inilah, pujian manusia tidak lagi membuainya. Ketika orang-
orang memujinya sebagai pemuda yang kuat atau hebat karena sanggup bertahan,
Jeremy dengan rendah hati menjadi kebal terhadap pujian tersebut. Dia tahu persis
bahwa kekuatan itu mutlak berasal dari Tuhan, bukan dari dirinya sendiri.
Kerapuhan Manusia dan Kesetiaan Tuhan
Selama masa-masa berat perawatan kesehatannya, Jeremy tak henti-hentinya
mengucap syukur atas doa, bantuan finansial dari gereja dan jemaat, serta
kehadiran orang-orang sekitar yang membantu proses pemulihannya. Namun,
menghabiskan waktu berhari-hari menahan rasa sakit di atas ranjang rumah sakit
telah membawa Jeremy pada sebuah perenungan rohani yang mendalam tentang
kerapuhan manusia.
Ia menyadari bahwa sebaik apapun niat dan pertolongan manusia di sekitarnya,
mereka memiliki batasan. Manusia bisa memberikan obat atau bantuan materi,
tetapi mereka tidak bisa sepenuhnya merasakan penderitaan batin kita atau
memberikan kekuatan jiwa yang kita butuhkan. Melalui proses ini, Tuhan
mengizinkan Jeremy untuk menemukan sebuah kebenaran yang menguatkan:
“Hanya Tuhan satu-satunya pribadi yang sungguh-sungguh bisa dipegang dan
dijadikan tempat bersandar sepenuhnya.”
Menggantungkan sebagian atau seluruh kebahagiaan dan keamanan jiwa pada
manusia —siapa pun itu— suatu saat bisa mendatangkan kekecewaan, karena
manusia terbatas. Namun, bersandar pada Tuhan memberikan rasa aman yang tak
tergoyahkan. Pemahaman ini memacu Jeremy untuk menjadi pribadi yang mandiri.
Kini, ia tengah fokus berjuang mencari penghidupan melalui pekerjaannya dan
benar-benar menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya penopang hidupnya.
Melayani dari Apa yang Ada: Refleksi 2 Korintus 8:12
Sebelum memasuki dunia kerja, Jeremy adalah pemuda yang sangat aktif melayani
di gereja, baik di bidang sarana dan prasarana maupun dalam Caring Group
Fellowship Dobar (Doa Bareng – Connexion). Namun, di tengah proses pemulihan
kesehatan dan adaptasinya dalam pekerjaan, Jeremy menyadari bahwa ia
membutuhkan waktu untuk menyembuhkan dirinya sendiri terlebih dahulu —baik
secara fisik maupun batin. Ia tidak ingin pelayanannya menjadi rutinitas yang
kosong. Oleh karena itu, ia memutuskan mundur sejenak dari beberapa pelayanan.
Meskipun demikian, cintanya pada rumah Tuhan tidak padam. Saat ini, dengan sisa
waktu dan tenaga yang ia miliki di tengah kesibukan kerjanya, Jeremy tetap setia
mengambil bagian dalam pelayanan Peduli Anak Serpong (PAS). Di masa-masa
transisi ini, Tuhan menaruh sebuah rhema firman Tuhan di dalam hatinya melalui 2
Korintus 8:12
“Sebab jika kamu rela untuk memberi, maka pemberianmu akan
diterima, kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan
berdasarkan apa yang tidak ada padamu.”
Ayat ini memerdekakan jiwanya. Ia menyadari bahwa Tuhan tidak pernah menuntut
pelayanan yang melampaui kapasitas kita. Jika dipaksakan, pelayanan justru
kehilangan ketulusannya. Jeremy menyadari bahwa pelayanan yang bisa dikerjakan
saat ini adalah fokus untuk membereskan dirinya sendiri di hadapan Tuhan, bekerja
dengan setia, dan berusaha menjadi berkat bagi orang-orang di sekitarnya. Ia
percaya bahwa anugerah Tuhan senantiasa cukup untuk memampukannya
melayani senatural mungkin.
Jeremy sangat mensyukuri kebaikan Tuhan yang nyata, termasuk melalui dukungan
doa dan finansial dari gereja dan jemaat yang telah membantunya selama masa
pengobatan yang berat.
Biodata:
- Nama Lengkap: Jeremy Claudio Wijaya
- Nama Panggilan: Jey / Jeremy
- Tempat/tanggal lahir: Tangerang, 3 Desember 2000
- Pekerjaan: Admin Penjualan
- Pelayanan: Pengajar PAS Matematika





