

Semua mata memandangnya. Ada yang menatap lurus, ada pula yang mengerlingkan mata sambil terus bekerja. Di sebuah pasar di kota Nikomedia yang ramai, semua orang tahu siapa wanita itu. Kabar tentangnya menyebar lebih cepat daripada kepak sayap burung; berita tentang istri perwira tinggi Romawi yang diceraikan suaminya dan menyingkir bersama putranya ke Nikomedia sudah beredar ke setiap sudut kota.
Wanita berusia tiga puluhan itu berjalan tenang menembus keramaian pasar. Stola yang dikenakannya putih bersih tanpa renda dan permata, tetapi keanggunannya bak magnet bagi semua mata. Orang tahu, di balik kain stolanya yang panjang, ada lengan dan jemari halus yang terawat. Di balik palla (selendang) yang menutup rambut dan separuh wajahnya, ada senyum tulus, cantik, lembut, tetapi entah mengapa, tersirat kepedihan.
Wanita itu Helena, atau Flavia Julia Helena bila ingin menyebut lengkap. Dilahirkan pada 248M di kota Drepamon, Bitinia, Asia Kecil (sekarang Turki), sebenarnya ia berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya seorang pegawai penginapan dan kemudian ia pun bekerja di tempat sama. Ia begitu rajin bekerja sehingga orang menjulukinya bona stabularia (pelayan yang baik).




Dalam suatu festival di kota Drepamon, Helena bertatap mata, bertukar senyum, dan berkenalan dengan seorang perwira Romawi yang sedang bertugas di Provinsi Bitinia. Konstantius Klorus, perwira tampan itu, jatuh cinta pada pandangan pertama, walau saat itu Helena tidak mengenakan pakaian mewah seperti kebanyakan wanita lainnya. Konon, keduanya sempat bertukar gelang perak yang dikenakan pada festival khusus untuk menghormati dewa-dewi Romawi. Pertemuan singkat yang mengguratkan berjuta rasa itu kemudian berlanjut ke jenjang perkawinan.


Hidup Helena sontak berubah. Ia menjadi istri perwira Romawi yang kelak menjadi jenderal, bahkan salah satu calon pemimpin kekaisaran Romawi. Sejak awal ia menjadi penopang setia suaminya, berkelana ke mana pun sang suami ditempatkan. Anaknya, Konstantin, dilahirkan di Naissus (sekarang Nis di Serbia) saat sang ayah bertugas di sana.
Kemudian datanglah badai kehidupan. Demi strategi dan ambisi politik, Konstantius yang telah menjadi jenderal memilih mengawini Theodora, anak kaisar Maximianus. Saat itu pemerintahan Romawi menganut sistem tetrarki, yakni membagi kekuasaan di antara empat kaisar: dua kaisar senior (disebut Augustus) dan dua kaisar junior (disebut Caesar). Kaisar Senior di Barat adalah Maximianus. Lantaran perkawinan politik tadi, Konstantius lantas diangkat menjadi Kaisar Junior di Barat. Sebelum mengawini Theodora, ia menceraikan Helena, pendamping setia hidupnya selama belasan tahun. Tentu Helena sangat terpukul, tetapi ia tak kehilangan semangat hidup. Bersama putra tunggalnya, ia menyingkir dari kemewahan Roma, hidup berdua di Nikomedia, ibu kota Kekaisaran Romawi di Timur (sekarang kota Izmit di Turki).


Hidupnya kini sepenuhnya hanya bagi anak tunggalnya yang sudah berusia belasan tahun. Limpahan kasih sayang untuk sang anak kelak akan berbalas penghormatan tertinggi untuk sang ibu. Namun, saat itu, di Nikomedia, Helena menjalani kehidupan sebagai plebeian (masyarakat biasa), hidup berbaur dengan penduduk setempat. Walau hatinya perih karena dicampakkan suami, ia tetap menjalankan aktivitas sebagai seorang ibu yang bertanggung jawab, membesarkan anaknya dengan penuh kasih sayang dan memberikannya pendidikan terbaik. Tak pernah terbayangkan anak itu kelak akan mengubah sejarah Romawi, bahkan seluruh dunia barat, untuk selamanya.
Penduduk Nikomedia mengenal Helena bukan karena darah bangsawannya, tapi karena kemurahan hatinya terhadap yang lemah dan tertindas. Di pasar, pedagang kecil mengenalnya dengan baik karena kerap memberi tip dan merelakan uang kembalian. Pengemis di persimpangan jalan bersorak dalam hati kala melihatnya melintas karena yakin perut mereka akan terisi penuh hari itu.
Helena akrab dan ramah kepada siapapun di Nikomedia, termasuk kepada sekelompok orang yang mengalami penindasan berat oleh pemerintah Romawi, yaitu umat Kristen. Saat itu penindasan paling hebat justru terjadi di Nikomedia, kota tempat bersemayamnya Diokletianus, kaisar Romawi senior di Timur. Diokletianus sangat membenci orang Kristen karena mereka menolak memuja dewa-dewi Romawi. Beragam peraturan dan dekrit dikeluarkan untuk menindas umat Kristiani yang jumlahnya terus berkembang.
Kini “agama asing” itu tidak hanya dipeluk oleh kalangan bawah, tetapi terus merambat ke atas, bahkan banyak perwira dan pejabat Romawi yang diam-diam menerima Kristus sebagai Juruselamat mereka. Konon, hampir separuh penduduk kota Nikomedia sebenarnya sudah memeluk Kristen. Puncak penindasan dan penganiayaan terjadi pada ibadah Natal tahun 303M. Pasukan Romawi mengepung gereja yang sedang mengadakan misa di malam Natal. Seorang perwira masuk dan membacakan maklumat: setiap orang harus keluar dari gereja dan mempersembahkan korban untuk dewa-dewi Romawi, sedangkan yang tetap tinggal di gereja akan dibakar hidup-hidup! Sejarah mencatat, hanya sedikit orang yang keluar dari gereja, sementara ribuan lainnya menolak menyangkal iman dan memilih menjadi martir, terbakar dalam lautan api yang kabarnya baru padam setelah enam hari berkobar.




Helena mendengar, menyaksikan, dan mencatat semua peristiwa itu dalam hatinya. Orang seperti apa yang memiliki iman begitu dahsyat? Pergaulannya dengan para tokoh Kristen yang kelak akan dikenal sebagai Bapa-bapa Gereja perlahan membuka matanya akan kebenaran Ilahi dan penuntun hidup yang sejati. Kedamaian hakiki meresap ke dalam sanubarinya saat ia mendengar madah (puji-pujian) serta homili (khotbah) dalam kebaktian di tempat rahasia yang sederhana. Sayang ia tak bisa mengajak putranya. Konstantin yang sudah menjadi pemuda harus mendampingi sang ayah di medan pertempuran. Helena tak pernah menduga bahwa anaknya akan dipilih Tuhan untuk mengakhiri penindasan umat Kristen yang sudah terjadi hampir 300 tahun. Tentu dengan cara-Nya sendiri yang tak terselami akal.
Konstantin menyusul Konstantius, ayahnya, berjuang di berbagai medan pertempuran sebagai prajurit Romawi. Sampai suatu kali terjadilah petaka yang menimpa sang ayah. Konstantius terluka berat dalam suatu pertempuran di York (Inggris) dan wafat beberapa hari kemudian. Dalam suasana duka yang dalam, para tentara dan perwira di medan pertempuran bersepakat mengangkat Konstantin menggantikan sang ayah sebagai Caesar (Kaisar Junior) di Barat. Sejak itu, kiprahnya sebagai pemimpin Romawi tak terbendung. Sistem tetrarki memicu intrik dan pertikaian di antara mereka sendiri. Pelan tapi pasti, satu per satu pemimpin di Timur maupun Barat ditaklukkan Konstantin, sehingga pada tahun 324 ia menjadi kaisar tunggal penguasa Kekaisaran Romawi sampai ia wafat pada 337.


Dalam suatu pertempuran yang paling sulit, Konstantin mengalami pengalaman iman maha dahsyat yang menjadi titik balik hidupnya. Kisahnya terjadi di jembatan Milvian yang melintasi Sungai Tiber, di pintu masuk menuju Roma. Konstantin dan pasukannya berada di satu sisi jembatan, sementara Maxentius dan prajuritnya di sisi yang lain. Maxentius yang sejatinya adalah kakak ipar Konstantius (kakak Theodora) menguasai Romawi bagian Barat. Dengan jumlah pasukan dua kali lebih banyak, ia yakin bisa mengalahkan pasukan Konstantin yang berkemah di seberang Sungai Tiber. Konstantin pun sadar bahwa pasukannya kalah jumlah, sehingga ia perlu berdiam diri dan mematangkan strategi sebelum menyerang.


Dalam kegalauannya, beberapa malam sebelum penyerangan ia mendapatkan visi Tuhan yang amat jelas lewat mimpi. Konstantin melihat cahaya berbentuk salib di langit, disertai tulisan: In Hoc Signo Vinces. Artinya: dengan tanda ini, engkau akan menang.


Di malam berikutnya, ia mendapatkan mimpi hampir sama, dengan lebih spesifik melihat huruf Khi yang bersilang dengan huruf Rho. Belakangan ia tahu bahwa itu adalah dua huruf awal nama Kristus dalam alfabet Yunani. Maka, esoknya ia memperlengkapi pasukannya dengan panji-panji besar bertuliskan kedua huruf itu. Sampai sekarang, lambang yang sama masih tetap dipakai di gereja-gereja seluruh dunia. Para sejarawan menulis, hari itu Konstantin memenangkan perang di jembatan Milvian sedangkan Maxentius mati tenggelam di Sungai Tiber dan pasukannya menyerah.




Kegemilangan Konstantin menyatukan kembali Kekaisaran Romawi (bagian Barat dan Timur) menuntun kerajaan itu memasuki masa kejayaan baru. Pertikaian antarfaksi diakhiri, lalu diskriminasi dan persekusi terhadap umat Kristen berakhir selamanya, setelah hampir tiga abad sejak peristiwa penyaliban Kristus.
Konstantin Agung (Constantine the Great), julukan yang kemudian disematkan pada Konstantin, mengeluarkan Maklumat Milan (Milan Edict) pada tahun 313, yang menjamin kebebasan beragama kepada setiap warga negara Romawi. Ini meliputi kebebasan beribadah dan memiliki rumah ibadah resmi serta pengembalian properti gereja yang pernah dirampas kerajaan.
Setelah menjadi penguasa tunggal Romawi, hal pertama yang dilakukan Konstantin adalah memboyong sang ibu tercinta dari Nikomedia kembali ke Roma. Dibangunlah sebuah istana megah untuk Helena, ibu yang sangat dicintai dan dihormatinya. Masih belum cukup, Helena dianugerahi gelar kehormatan “Augusta”, gelar tertinggi bagi wanita Romawi. Wajah Helena juga mulai muncul pada mata uang baru yang dikeluarkan pemerintah.
Apakah Helena menikmati masa tuanya dengan hidup tenang bergelimang kemewahan di istana megah di Roma? Sama sekali tidak. Eusebius, seorang uskup dan “bapak sejarah gereja” mencatat bahwa setelah kembali ke Roma, Helena minta dibaptis dan kemudian melakukan banyak hal bagi kemajuan kekristenan dan umat Kristen. Ia tetap rendah hati, mengenakan pakaian sederhana dan berbaur dengan jemaat biasa. Ia juga tetap gemar memberi sedekah kepada orang miskin, mengunjungi tawanan dan menguatkan prajurit dan pegawai rendahan.




Selain kemurahan hatinya, ada satu hal monumental yang dilakukannya pada usia lanjut (lebih dari 70 tahun) yang selalu dikenang orang segala zaman, yaitu perjalanan ziarah ke Yerusalem dan Betlehem. Pada masa itu, perjalanan dari Roma di Eropa ke tanah Palestina tentu membutuhkan fisik yang prima dan alat transportasi yang beragam (kapal laut, kereta kuda, tandu, dan lainnya) yang menghabiskan waktu berminggu-minggu. Namun, kerinduan Helena mengunjungi tanah kelahiran, kematian, dan kebangkitan Tuhannya melampaui segala kendala yang menghadang. Berbekal dukungan pasukan dan mandat penuh dari Kaisar Konstantin yang menguasai tanah Palestina, maka hasilnya sungguh menakjubkan!
Di Betlehem ia mendirikan Gereja Kelahiran Kristus (Church of Nativity). Gereja yang masih berdiri sampai sekarang ini konon didirikan di atas gua/ kandang tempat Yesus dilahirkan. Di Yerusalem, karya Helena lebih spektakuler. Mula-mula ia meruntuhkan kuil Venus dan Jupiter yang dulu sengaja didirikan Kaisar Hadrian di atas bukit Kalvari (Golgota) setelah peristiwa penyaliban. Dengan gigih Helena menggali, mencari, dan akhirnya berhasil menemukan potongan kayu salib asli yang digunakan untuk menyalibkan Yesus. Juga ditemukan paku-paku dan potongan papan. Kini bermacam relik itu disimpan di berbagai museum di Roma dan Vatikan.
Kemudian, di atas bukit Kalvari yang sudah rata, didirikan Gereja Makam Suci (Church of the Holy Sepulchre) yang setelah direnovasi dan dipugar, masih berdiri kokoh di lokasi aslinya hingga sekarang. Selanjutnya, di atas Bukit Zaitun, Helena juga mendirikan sebuah gereja yang dinamakan Gereja Kenaikan (Church of the Ascension atau Church of Eleona).




Helena menutup mata dalam pelukan Konstantin, putra yang sangat mengasihinya, pada tahun 330, di usia sekitar 82 tahun. Di seluruh penjuru Kekaisaran Romawi, jejak kehadirannya bertebaran—akan tetapi, warisan terindah yang ditinggalkannya bukanlah tahta dan mahkota, melainkan iman yang hidup dan kasih nyata kepada mereka yang tersisih.


Gereja Katolik menempatkannya dalam daftar para santa. Gereja Ortodoks dan Lutheran pun memberi penghormatan yang dalam, mengenangnya sebagai ibu sederhana yang membentuk jiwa dan karakter kaisar Kristen pertama, penguasa kerajaan terbesar di dunia pada masanya.
Dari pangkuan seorang ibu, kekristenan berakar di istana, berjalan dari Roma dan menyebar ke seluruh Eropa, lalu merentang panjang hingga ke Nusantara, kepada kita hari ini.
***

