Catatan: artikel ini pernah dimuat dalam Nafiri Edisi Cetak April 2021.


Kala ingatan warga Yerusalem mulai memudar terhadap peristiwa penyaliban seorang tokoh “pemimpin umat” beberapa puluh tahun sebelumnya, seorang sejarawan terkenal Yahudi menuliskan sepotong informasi di buku catatannya yang kelak menjadi manuskrip yang sangat berharga. Josephus –nama sejarawan itu– menulis bahwa pernah hidup seorang bijak yang dihukum mati oleh Pontius Pilatus. Kemudian ia menambahkan bahwa, “Sekte Yahudi” yang dipimpin Yesus Sang Mesias yang disalib itu, kini banyak diikuti orang Yahudi dan Yunani. Josephus menulis sekitar akhir abad pertama, berarti lebih dari setengah abad setelah peristiwa penyaliban Yesus.
Sejatinya, seperti yang juga disampaikan pemimpin Farisi Gamaliel, sebuah “sekte” atau kelompok perlawanan akan hancur sendiri saat pemimpinnya mati. Bila yakin itu bukan karya Tuhan sendiri, para pemimpin mahkamah agama Yahudi tidak perlu cemas akan perkembangan gerakan mereka. Apalagi, Yesus hanya punya dua belas orang murid inti yang sebagian besar adalah nelayan dan orang-orang sederhana.
Gamaliel sepenuhnya benar. Petrus, Andreas, Yohanes, Yakobus, dan beberapa murid lainnya hanyalah para nelayan yang berasal dari desa kecil di tepi danau Galilea. Murid-murid yang lain juga bukan orang terpelajar pada masanya. Mungkin hanya Matius si pemungut cukai yang biasa memegang kertas dan pena, itu pun lebih banyak untuk menulis angka ketimbang huruf dan kata. Jadi, bagaimana “sekte” yang bermula dari 12 orang yang “sangat biasa” ini bisa berkembang menjadi 2,3 miliar jiwa pengikut Kristus saat ini? Bagaimana pekabar injil mula-mula ini berkarya dan bagaimana akhir hidup mereka? Mari kita ikuti riwayat mereka, terutama yang kisahnya tidak tertulis jelas di Alkitab tapi jejaknya tampak nyata dalam bentuk gereja dan relik/peninggalan yang masih ada sampai sekarang.
Murid-Murid di Lingkaran Dalam
Empat nelayan asal desa Betsaida di Kapernaum adalah murid-murid pertama Yesus. Andreas, yang sebelumnya adalah murid Yohanes Pembaptis, mengajak saudaranya Simon (Petrus) menemui Yesus yang sedang berjalan menyusuri tepi danau Galilea dan kemudian memanggil mereka berdua. Tak berapa lama, Yesus juga menemui dua bersaudara Yohanes dan Yakobus yang juga sedang menjala ikan di danau yang sama. Keempat murid dua bersaudara inilah yang kemudian kita kenal menjadi murid-murid terdekat Yesus. Mereka kerap hadir di saat-saat penting dalam pelayanan Yesus di tanah Israel. Pelayanan dan akhir hidup mereka relatif jelas walaupun tidak semuanya tercatat dalam Alkitab. Petrus yang kelak menjadi pemimpin gereja awal mengakhiri hidup sebagai martir di Roma. Menurut tradisi, ketika dijatuhi hukuman mati dengan disalib, ia minta disalib dengan kepala di bawah karena merasa tak pantas menyamai Tuhannya. Yakobus yang mati dipenggal Herodes adalah satu-satunya murid yang akhir hidupnya diberitakan Alkitab (Kisah Para Rasul 12:1). Saudaranya, Yohanes, adalah satu-satunya murid yang kematiannya karena sebab alamiah, bukan dibunuh/dihukum mati. Setelah dibebaskan dari pembuangan di Pulau Patmos, konon ia pergi ke Efesus dan tinggal di sana sampai akhir hayatnya. Bagaimana dengan Andreas? Murid yang rendah hati dan tampaknya seringkali lebih memberikan kesempatan kepada saudaranya untuk tampil ini, ternyata menjelajah begitu banyak tempat dan dicintai banyak umat di berbagai belahan bumi. Gereja Ortodoks Timur menganggap Andreas adalah kepala gereja pertama, sama seperti Petrus bagi Gereja Katolik Roma. Tiga negara mengangkat Andreas sebagai Santo Pelindung mereka: Rusia, Skotlandia dan Yunani. Bahkan bendera Skotlandia sampai saat ini disebut “Salib Andreas” yang serupa huruf X, sesuai tradisi gereja yang mempercayai Andreas mati martir dengan disalib di atas palang kayu serupa huruf X. Sama seperti Petrus, ia minta tidak disalib seperti Tuhan Yesus karena merasa tak layak.






Tomas Si Peragu
Tomas yang dipanggil juga Didimus (artinya kembar), mendapatkan julukan peragu karena pernah tak mempercayai kebangkitan Yesus. Tak dijelaskan dalam Injil apakah ia sempat mencucukkan jarinya ke lubang bekas paku saat Yesus kemudian menemuinya. Tapi, yang jelas, jawaban Tomas selanjutnya, ”Ya Tuhanku dan Allahku!”, menjadi pengakuan iman umat Allah sepanjang zaman. Tomas Peragu lantas berubah drastis setelah kejadian itu. Ia tak ragu-ragu mengabarkan Injil ke tempat terjauh dibandingkan murid-murid lainnya. Para ahli sekuler masih berdebat apakah Tomas benar-benar pergi sampai ke India, mengingat di masa itu transportasi masih sangat terbatas. Namun, bukti-bukti yang masih ada sampai saat ini sulit dibantah. Contohnya, tujuh gereja yang didirikan Tomas di India masih ada sampai sekarang. Kemungkinan besar Tomas memanfaatkan jalur sutera dan jalur rempah yang dipakai para saudagar kapal pada masa itu. Entah berapa bulan waktu yang dibutuhkan Tomas untuk melakukan pelayanan sampai ke Pantai Malabar, di sebelah barat anak benua India, pada tahun 52. Selama di India ia mendirikan berbagai gereja dengan beragam komunitas yang berbasis keluarga. Sampai saat ini banyak nama keluarga di daerah tersebut yang bisa ditelusuri sampai ke masa Tomas membaptis leluhur mereka. Menurut cerita tradisi, pada tahun 72, seorang bangsawan/ raja di daerah Madras/ Chennai sangat marah saat mendapati sang ratu dan anak-anaknya mengikuti ajaran Tomas, sehingga ia memerintahkan para pengawalnya menyergap Tomas di sebuah bukit dan membunuhnya. Sebuah tikaman tombak mengakhiri hidup Tomas di atas bukit yang kemudian dinamakan bukit St Tomas sampai saat ini. Jenazahnya kemudian dikubur di kota Mylapore, di pantai timur India. Di atas kuburnya, tertulis dalam huruf besar: “My Lord and My God”.




Bartolomeus putra Bangsawan
Bila ada murid Kristus yang berdarah “bangsawan”, mungkin hanya Bartolomeus orangnya. Sesuai tradisi Yahudi, Yesus kerap disebut anak Daud, sedangkan Bartolomeus yang bernama lain Natanael ini disebut anak Talmai. Talmai adalah raja Gesur, salah satu mertua dari raja Daud. Yesus sendiri menyebut Bartolomeus sebagai “seorang Israel sejati yang tidak ada kepalsuan di dalamnya”. Dengan tradisi kuat menjaga prinsip hidup yang telah diteladani Kristus, Bartolomeus berjalan jauh membawa Injil ke Armenia (dekat Turki sekarang), hingga kelak menjadi negara (kerajaan) Kristen pertama di dunia. Ketika berhadapan dengan ancaman siksaan yang menakutkan, Bartolomeus tetap bergeming, tak gentar sedikitpun. Kisahnya bermula saat raja Armenia Polymius yang bertobat menerima Kristus dan menjadi pengikut Kristus. Saudara Polymius, Pangeran Astyages, tak bisa menerima keputusan kakaknya. Sebagai negara taklukan Romawi, ia takut ancaman dari kaisar Romawi bila Armenia menjadi negara Kristen. Kemudian, ia menangkap Bartolomeus dan menyiksanya, memaksa untuk mengingkari imannya. Karena tetap bertahan, akhirnya Bartolomeus dikuliti hidup-hidup, kemudian kepalanya dipenggal. Di masa selanjutnya, keteguhan hati Bartolomeus ini terus dikenang dan menjadi sumber kekuatan bagi para misionaris Kristen. Uniknya, pada abad ke-16, pelukis terkenal Michael Angelo di salah satu lukisan paling terkenalnya yang berjudul “The Last Judgement” menggambarkan Bartolomeus membawa ‘lembaran kulit’ yang mirip mantel menggantung di tangan kirinya. Lukisan ikonik itu dilukis dengan indahnya di dinding barat Sistine Chapel, Vatican, dan terus dikagumi pengunjung sampai sekarang.


Tadeus dan Simon orang Zelot
Bukan hanya nelayan, Yesus juga memilih murid-murid dari kalangan pejuang nasionalis yang fanatik. Mereka terbiasa menggunakan senjata untuk membunuh penjajah Romawi dan orang Yahudi pengkhianat bangsanya. Tadeus yang disebut juga Yudas (bukan Iskariot) awalnya seorang pejuang kemerdekaan Israel, demikian juga Simon orang Zelot. Tadeus pernah bertanya kepada Yesus,”…apa sebabnya maka Engkau hendak menyatakan diri-Mu kepada kami, dan bukan kepada dunia?” Tampak kerinduannya memperkenalkan Yesus sebagai Raja yang berkuasa, bukan Juruselamat yang menderita. Jawaban Yesus menegaskan bahwa kekerasan tak akan pernah bisa menggantikan cinta kasih. Di kemudian hari, bersenjatakan iman dan kasih, Tadeus mengiringi Bartolomeus sampai ke Armenia. Gereja Armenia mengangkat Tadeus dan Bartolomeus sebagai Santo Pelindung mereka. Menurut tradisi, Tadeus mati sebagai martir di Ararat (Turki sekarang). Sebatang anak panah menembus jantungnya. Akhir hidup Simon orang Zelot masih menjadi perdebatan sampai saat ini, namun ia diketahui mengabarkan injil ke Mesir dan Persia, tempat ia mengakhiri pelayanannya sebagai martir.
Murid-Murid Lainnya
Murid Yesus lainnya adalah Filipus, Matius, Yakobus anak Alfeus, dan Matias yang menggantikan Yudas Iskariot. Filipus berasal dari Betsaida, kota yang sama dengan Petrus dan Andreas. Kemungkinan besar ia juga seorang nelayan. Perjalanan misi Filipus tercatat ke Phyrgia di Asia Kecil dan berakhir sebagai martir di Hierapolis. Sebelum dihukum mati dengan digantung, ia sempat berpesan agar tubuhnya dibungkus dengan papyrus dan bukan dengan kain linen seperti Yesus, karena merasa tak layak disamakan dengan Tuhannya.
Matius juga salah satu murid yang berjalan jauh mengabarkan kabar keselamatan. Selain tercatat sebagai penulis Injil, ia dikenang sebagai pekabar injil ke Afrika dan hidupnya berakhir di Ethiopia saat dihukum mati oleh penguasa setempat. Yakobus anak Alfeus mengabarkan Injil ke tanah Palestina dan Mesir. Menurut kisah tradisi, ia mati digergaji di Mesir. Murid terakhir yang dipilih para murid lainnya adalah Matias. Ia diperkirakan telah menjadi pengikut Kristus sebelumnya, menjadi rombongan yang turut dalam pelayanan Yesus selama tiga setengah tahun, walaupun bukan termasuk dua belas murid. Ia tercatat mengabarkan Injil ke Kaspia dan Kapadokia di Asia Kecil dan mengakhiri pelayanannya ketika dihukum mati di sana.


Orang Biasa Melakukan Hal Luar Biasa di Tangan Allah
Saat Yesus tergantung di kayu salib di Golgota, hanya satu murid yang tinggal, setia menyaksikan dari kejauhan. Kesebelas lainnya tercerai-berai, lenyap dalam cengkeram ketakutan. Bahkan yang paling berani sampai tiga kali bersumpah tak mengenal-Nya demi menyelamatkan diri. Dan satu lagi, menggantung diri dalam penyesalan setelah menjual Gurunya dengan ciuman.
Dari sudut pandang para sejarawan Yahudi dan Romawi kala itu, semuanya tampak sudah usai. Kekristenan hanya riak kecil yang akan lenyap ditelan sejarah, seperti sekte-sekte lain yang pernah lahir dan mati di tanah Yudea.
Ternyata, hanya butuh lima puluh hari untuk segalanya berubah.
Empat puluh hari pertama setelah kebangkitan, Yesus berulang kali menjumpai mereka—bukan sekadar menampakkan diri, tetapi membangkitkan kembali hati yang hancur, menyalakan kembali iman yang padam. Dan di hari kelima puluh, saat Roh Kudus turun, semuanya meledak dalam transformasi yang tak terduga.
Si penakut menjadi pemberani. Si pemarah menjadi peramah. Pedang yang dulu dihunus di taman Getsemani kini dikalahkan oleh Firman yang mengalir dari bibir para nelayan dan pemungut cukai. Mereka yang datang karena berbagai motivasi—ambisi kuasa, hasrat kaya, mimpi merdeka dari Romawi—kini dibentuk menjadi duta yang tak tergoyahkan.
Satu per satu mereka gugur sebagai martir, namun tak satu pun kematian mereka sia-sia. Karena di Yerusalem Baru, kelak, nama mereka akan terukir abadi. Seperti yang disaksikan Yohanes dalam Wahyu 21:14:
”Dan tembok kota itu mempunyai dua belas batu dasar dan di atasnya tertulis kedua belas nama kedua belas rasul Anak Domba.”
Referensi:
- Twelve Ordinary Men,John F.MacArthur Jr.,Penerbit Immanuel
- https://www.learnreligions.com/the-apostles-701217
- https://www.bibleinfo.com/en/questions/who-were-twelve-disciples
- https://en.wikipedia.org/wiki/Bartholomew_the_Apostle
- https://en.wikipedia.org/wiki/Thomas_the_Apostle
- https://www.worldatlas.com/articles/who-were-the-twelve-disciples-apostles-of-jesus.html





