ditulis oleh Susanti

Percakapan dalam dongeng Alice’s Adventures in Wonderland karya Lewis Carroll di atas menjadi refleksi kehidupan yang mendalam, terutama bagi orang tua dan para murid yang sedang duduk di kelas 11 dan 12. Kita umumnya memandang perjalanan setelah SMA seperti sebuah garis lurus, yaitu berkuliah di universitas terkemuka, memilih jurusan menjanjikan, meraih nilai IPK yang tinggi, lulus, lalu bekerja dan membangun karier yang diimpikan. Semuanya jelas penting, tetapi sebenarnya ada satu pertanyaan mendasar yang mungkin tidak mudah untuk dijawab:
“Ke mana sebenarnya kita ingin pergi?”
Kesuksesan suatu perjalanan ditentukan oleh arah yang tepat. Mereka yang mengetahui arah tujuan hidupnya akan berjalan dengan pasti. Mereka yang tidak mengerti arah tujuan hidupnya, hanya akan mengumpulkan pencapaian-pencapaian gemilang, tetapi pada akhirnya akan merasakan kekosongan. Seperti yang disampaikan Cheshire Cat dalam dongeng Alice’s Adventures in Wonderland: “If you do not know where you are going, any road will take you there, but none of them will take you home.”
Pertanyaan sebenarnya bagi para murid bukanlah, “Universitas mana yang harus saya pilih?” melainkan, “Akan menjadi siapakah saya?” Ini adalah proses menemukan identitas, mengenali bakat yang dipercayakan Tuhan, memahami nilai kehidupan, dan membayangkan kontribusi apa yang dapat diberikan kepada masyarakat.
Sementara bagi para orang tua, pertanyaan yang perlu direnungkan adalah: “Apakah saya sudah membantu anak-anak menemukan panggilannya? Atau ternyata diam-diam saya mengarahkan mereka menuju impian yang pernah gagal saya raih?”
Ekspresi kasih terbesar yang orang tua dapat berikan adalah menjadi pendamping bagi anak-anak, bukan sekadar menjadi kompas penunjuk arah. Orang tua perlu memberikan ruang pada anak-anak untuk bertanya, mengeksplorasi, gagal, bangkit, dan bersama mereka menemukan tujuan yang Tuhan sudah tanamkan dalam diri mereka.
Sebagai anak-anak Kristus, kita memegang suatu keyakinan yang tidak dimiliki oleh Cheshire Cat. Jalan hidup manusia bukanlah suatu kebetulan. Tuhan sudah menyediakan peta perjalanan bagi setiap orang karena kita diciptakan dengan tujuan yang unik. Tuhan mempercayakan talenta, memberikan kesempatan, bahkan pembelajaran di masa-masa kebingungan melanda. Dengan begitu kita akan membentuk pribadi yang semakin setia dan turut dalam kemuliaan-Nya.
Sering kali kita dihadapkan pada pertanyaan: “Jalan mana yang menuju kesuksesan?” Namun, mari kita juga merefleksikan:
“Bagaimana menjadi pribadi seperti yang Tuhan panggil?”
“Karunia apa yang telah Dia percayakan kepada saya?”
“Bagaimana pendidikanku dapat menjadi berkat untuk melayani dan memberkati orang lain?”
Banyak murid mungkin belum memiliki jawabannya sekarang. Alice juga tidak mengerti jalannya. Ia berjalan, bertemu karakter aneh, membuat kesalahan, dan kemudian menemukan hal baru tentang dirinya. Dalam perjalanan menempuh pendidikan, murid-murid pun akan menemukan hal yang sama. Tuhan tidak menunjukkan seluruh peta perjalanan pendidikan dan kehidupan kita sekaligus. Sebaliknya, Dia mengundang kita untuk melangkah dengan iman dan belajar untuk mendengarkan suara-Nya di sepanjang perjalanan.
Pada akhirnya, diterima di universitas, berkarier, dan berprestasi hanyalah sebagian bab dalam buku kehidupan, bukan keseluruhan cerita. Yang lebih penting adalah apakah perjalanan tersebut membawa seorang muda lebih dekat mengenal dirinya, lebih dekat kepada Tuhan, dan lebih siap menggunakan bakat mereka untuk melayani orang lain?

Jalan setelah SMA bukanlah tentang memilih jalur paling bergengsi. Universitas mungkin bisa menjadi tujuan jangka pendek, tetapi panggilan hidup adalah tujuan yang sesungguhnya. Ketika seorang muda memahami untuk apa mereka diciptakan, setiap langkah pendidikan akhirnya menemukan maknanya. Ini adalah tentang menemukan jalur yang selaras dengan tujuan, bakat, dan panggilan yang telah disiapkan Tuhan sejak awal.
