Author: Hendro Suwito
“Tuling…tuling… Tuling…tuling.” Sore itu HP saya berbunyi. GI Samuel Kurniadjaja, salah satu Hamba Tuhan di GKY BSD, mengontak saya. Surprise, karena selama ini saya belum pernah berbincang langsung dengan beliau.
Setelah berkenalan, GI Samuel menanyakan kapan saya akan menjalani operasi. Tampaknya, kabar tentang rencana operasi bypass jantung ini sudah beredar di gereja pada pertengahan April 2026. Dan GI Samuel melakukan follow-up dengan menelepon saya.
Kami pun berbicang semakin intens. Beliau mencoba memberi semangat agar saya bisa menjalani operasi dengan tenang. Di ujung perbincangan, beliau mengajak saya berdoa bersama, memohon pada Tuhan agar operasi berjalan dengan lancar.
GI Samuel menelepon dan mendoakan saya lagi menjelang operasi dilakukan. Pascaoperasi, ketika saya masih dirawat di rumah sakit, beliau juga mengontak dan mendoakan saya lagi.
Pada 20 April lalu, saya menjalani operasi. Pembuluh darah dari kaki dan dada diambil untuk membuat beberapa saluran baru di jantung; menggantikan fungsi pembuluh-pembuluh darah yang sudah tersumbat sangat parah.
Puji Tuhan! Proses operasi dengan fasilitas BPJS lewat RSU di Karawaci berjalan sangat lancar. Kesehatan saya sudah hampir pulih sepenuhnya saat menuliskan kisah ini, ketika World Cup 2026 akan memasuki babak semifinal.
Memberi Peringatan
Semua bermula akhir Februari lalu. Dada saya sesak seperti ditekan benda berat. Dan rasa tidak nyaman ini tidak kunjung hilang. Otak saya langsung klik, ”Wah, jantung saya akhirnya memberi peringatan.”
Memang, ketika saya menjalani medical check-up pada November 2025, dokter menemukan sejumlah sumbatan di jantung saya. Dokter meresepkan beberapa obat dan menyarankan saya melakukan kateterisasi untuk memastikan kondisi sumbatan dan tindakan yang harus diambil. Namun, karena merasa badan masih oke-oke saja, ditambah banyak kesibukan keluarga di akhir tahun, akhirnya lupa. Hingga mendadak dada saya sakit.
Saya sempat masuk IGD, dirawat di ICU, dan menjalani kateterisasi yang menyimpulkan sumbatan sudah parah di beberapa bagian. Saya diminta menjalani operasi bypass karena tidak efektif lagi untuk dipasang ring/stent. Dokter jantung yang melakukan kateterisasi adalah rekan satu gereja: Pak Hardja Priatna.
Satu bulan lebih saya harus menjalani proses cek paru-paru, cek gigi, dan juga cek kondisi pembuluh darah di otak karena ada dugaan penipisan pembuluh darah dari hasil pemindaian otak sebelumnya. Setelah semua diperiksa dan dokter-dokter bersangkutan memberi lampu hijau, barulah dokter bedah jantung melakukan operasi.
Operasi dilakukan oleh dr. Royman Simandjuntak, Sp. BTKV. Bersyukur operasi berjalan sangat baik dan setelah dirawat di ICCU dan ruang rawat inap selama enam hari, saya boleh pulang untuk rawat jalan.
Yang membuat saya penuh syukur adalah Tuhan sudah mempertemukan saya dengan Dokter Royman tujuh tahun sebelumnya. Beliau saya wawancara karena dia bersahabat dengan Om Lie Bok Tie yang saat itu sedang saya tulis kisahnya.
Operasi bypass memang bukan tindakan medis yang ringan. Bersyukur operasi ini membawa hasil positif sehingga saya kembali bisa melakukan aktivitas sehari-hari dengan baik.
Namun, tulisan ini bukan hanya ingin berbagi tentang operasi yang saya jalani. Fokus tulisan ini justru ingin mengangkat semangat persaudaraan dalam Kristus yang telah saya rasakan, seperti lewat GI Samuel, Dokter Hardja, dan Dokter Royman di atas.
Telur Ayam Kampung
Begitu kabar tentang rencana operasi jantung didengar rekan-rekan CGF Bethel, mereka langsung ramai memberi dukungan lewat grup Whatsapp. Mereka mendoakan operasi lancar dan saya cepat pulih. Seorang rekan mengirimi telur ayam kampung untuk memperkuat kondisi badan saya. Rekan lain bahkan mentransfer dana untuk membantu biaya yang tidak ditanggung BPJS.
Ketika saya dirawat di rumah sakit, walaupun kami sudah memberi update berkala agar rekan-rekan tidak perlu repot-repot menjenguk, tetap saja ada sejumlah rekan yang muncul.
Uniknya, mereka membawakan makanan ringan dan berat yang justru cocok dengan syaraf perasa di lidah saya yang sedang kacau pascaoperasi. Berkat makanan yang mereka bawa, saya bisa mendapat asupan makanan yang cukup.
Pengalaman ini mirip dengan apa yang saya alami pasca operasi tumor otak 16 tahun lalu. Syaraf perasa di lidah kacau dan tidak bisa memproses makanan dan minuman bergizi yang disediakan rumah sakit. Rekan dan saudara yang menjenguk ada yang membawakan pisang dan singkong rebus, snack serta beberapa makanan lain yang justru cocok di lidah saya yang sedang ngaco.
Bukan hanya itu, waktu itu kami juga dibawakan bedcover oleh seorang rekan sehingga istri saya–yang sudah menjaga beberapa hari hanya dengan duduk di kursi–akhirnya bisa berbaring dan tidur lebih nyaman di lantai. Saat itu rumah sakit belum menyediakan kasur lipat untuk keluarga yang menjaga.
Setelah pulang ke rumah pascaoperasi bypass, saya sempat mencegah rekan-rekan CGF untuk menjenguk karena istri sedang drop kesehatannya dan saya belum bisa bergerak dengan bebas. Baru beberapa hari kemudian rekan-rekan mulai mampir berbagi rasa.

Melalui kehadiran dan kehangatan mereka, kami pun makin dikuatkan dan banyak tertawa bersama.
Seorang rekan di Nafiri juga khusus memasak ayam tim agar saya makin cepat pulih.
Positif Covid
Lima tahun lalu, pada Februari 2021, lain lagi yang kami alami. Saat itu pandemi Covid sedang melanda dan kami ada di Yogyakarta karena putri bungsu menikah di sana. Setelah pemberkatan dan resepsi terbatas, istri saya mulai meler. Dia langsung menjalani tes di rumah sakit. Hasilnya: positif Covid.
Kami langsung chatting dengan dr. Indawati Kamil, sobat lama di CGF Bethel, dan langsung dikirimi foto resep lewat Whatsapp. Kami teruskan ke putri kami. Satu jam kemudian, menantu kami sudah datang ke hotel membawakan obat-obatan untuk istri saya. Setelah minum obat dan menjalani isolasi lebih dari 10 hari, statusnya sudah negatif.
“Pak Hendro…” Suara rekan Aria Widjaja, Kristin Kamil, Semuria, Pao Tjoe atau rekan lain terdengar di depan rumah. Mereka berbagi kue, buah atau makanan lain untuk kami…pertemuan yang kadang berlanjut dalam perbincangan serius atau ringan penuh tawa.
Melalui hal-hal seperti ini, yang saling kami lakukan bertahun-tahun, kami pun meresapi indahnya persaudaraan dalam Kristus.

***A

