Jika kita mengamati perjalanan iman pasangan Dahera Rustam dan Naomy Marie Tando hingga hari ini, maka kita akan melihat jelas jejak Tuhan berjalan di samping mereka. Betapa tidak, begitu banyak hal yang dapat mereka bagikan tentang perjalanan sebagai murid Tuhan, terutama dalam 22 tahun terakhir, setelah kisah pertama mereka yang dimuat pada Nafiri edisi 2004.
Pada artikel Profil di Nafiri edisi 2004 tersebut, Anton Utomo mengakhiri tulisannya dengan pergumulan Bu Naomy yang rindu suaminya menerima Kristus. “Kasihanilah suami saya, Tuhan. Ia yang begitu setia dan penuh kasih kepada keluarganya, mohon Tuhan selamatkan hidupnya.” Begitu doa Bu Naomy yang tak henti-hentinya ia panjatkan ke hadirat Tuhan.

Ketika bergabung sebagai jemaat GKY BSD di 1996, waktu Bu Naomy sudah aktif terlibat dalam pelayanan, sang suami masih belum tergerak. Ia hanya mau hadir sebagai ‘tamu’ walau sudah dibaptis saat mereka menikah pada 1982. Pdt. Agus M. Susanto, gembala GKY BSD saat itu, terus menaburkan benih Firman Tuhan. Baru sekitar 14 tahun kemudian, di 2010, Pak Dahera mengambil keputusan terpenting dalam hidupnya: ia menerima peneguhan iman dan diberkati oleh Pdt. Joni Sugicahyono, gembala di periode tersebut.
“Ada yang menabur dan menanam, dan ada pula yang menuai,” kata Bu Naomy.
Hari ini Pak Dahera memegang imannya dengan teguh, melayani Tuhan dengan setia, dan melakukan apapun yang bisa ia kerjakan. “Selama masih diberi kesehatan dan kekuatan, selama Tuhan masih mau pakai,” kata Pak Dahera.
Kecil tapi Tegas dan Teguh
Lahir di Palopo, Sulawesi Selatan, 71 tahun lalu, Pak Dahera adalah sosok yang keras, tegas, dan pemberani. Ia teguh memegang prinsip. Postur tubuhnya kecil, tetapi nyalinya besar.

Usai lulus kuliah dari Fakultas Kehutanan Universitas Hassanudin pada 1982, Pak Dahera mengawali kariernya di Dinas Kehutanan Bengkulu. Selama bertahun-tahun, di kawasan tempatnya bertugas marak terjadi perambahan hutan lindung. Sebagai kepala subdinas keamanan hutan, Dahera muda bertugas mengeluarkan para perambah hutan untuk dikembalikan ke kampung halamannya.
“Ini bukan bicara puluhan atau ratusan orang perambah, tetapi sekitar seribu keluarga atau sekitar lima ribu orang yang harus saya keluarkan. Tentunya mereka memiliki perilaku keras yang bahkan bisa berpotensi membunuh petugas,” kata Pak Dahera. “Saya memilih melakukan pendekatan kemanusiaan dan menghindari bertindak terlalu keras, agar jangan terjadi sesuatu yang dapat membahayakan diri petugas, termasuk diri saya dan keluarga.”

“Bahkan salah-salah Bapak bisa dibunuh bila melakukan patroli di dalam kawasan hutan,” kata Bu Naomy menambahkan.
Meski sebagai kepala keamanan ia membawahi sekitar 300 polisi kehutanan, Pak Dahera mengaku kadang merasa amat sedih dan tertekan menjalankan tugasnya. “Saat itu memang sangat dilematis. Hati nurani saya tersentuh karena orang-orang itu hanya mencari hasil yang tidak seberapa untuk membiayai kehidupannya, sehingga saya sangat kasihan melihat mereka. Tapi apa boleh buat, kawasan hutan lindung tidak boleh dirambah,” ujar Pak Dahera.
Bukan hanya melanggar hukum, Pak Dahera mengatakan, “Itu juga dapat membahayakan kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya, sehingga harus dikosongkan supaya dapat berfungsi sebagai pelindung.”
Pendekatan Pak Dahera, ditambah dengan dana dari pemerintah untuk ganti rugi tanaman kopi sebagai ‘pesangon’ meski tak seberapa, dan bantuan TNI dan Polri, membuahkan hasil. Para perambah hutan tersebut akhirnya kembali ke kampung halaman mereka.
Kisah lain yang melekat di ingatan Pak Dahera adalah peristiwa di 1994. Ia bertugas di Kalimantan Timur ketika itu. Pemerintah berencana membikin ‘sabuk pengaman’ di perbatasan Malaysia dan Indonesia, yang sekarang masuk wilayah Kalimantan Utara. Sabuk pengaman tersebut adalah semacam garis demarkasi sepanjang 800 kilometer yang membentang dari Kalimantan Timur ke Kalimantan Barat. Untuk merealisasikannya, pemerintah harus membuka kawasan hutan lindung dan Taman Nasional selebar 500 meter di kiri-kanan di sepanjang jalan batas tersebut.
Proyek tersebut diperkirakan berisiko membahayakan keselamatan masyarakat pulau Kalimantan karena hulu ketiga sungai besar di sana, yaitu Sungai Kapuas, Sungai Mahakam, dan Sungai Barito, berada di garis perbatasan tersebut. Jika dilanjutkan, daerah tersebut akan mengalami kekeringan di musim kemarau dan banjir di musim penghujan.
“Dalam sebuah rapat di Kalimantan Tengah, kami menyarankan agar rencana pembuatan jalan tersebut dibatalkan. Pemerintah menerima saran kami, aparat kehutanan yang hadir, sehingga sampai sekarang tidak diteruskan,” ujar Pak Dahera.
Pak Dahera selalu memegang prinsip, bahwa dalam menjalankan tugasnya sebagai aparat, ia bekerja sesuai perintah Tuhan. Baginya, kawasan hutan lindung harus tetap dilindungi apapun risikonya, karena hal itu merupakan tanggung jawab bersama.

“Karena sikapnya itu, Bapak selalu dimusuhi banyak orang yang ingin melanggar hukum di bidang tugasnya,” kata Bu Naomy.
“Makanya saya sedih ketika akhir-akhir ini banyak terjadi banjir dan tanah longsor karena hutan banyak dibuka dengan berbagai alasan. Dulu hutan kami pertahankan dan kalau ada pengusaha yang mencoba bermain tidak sesuai peraturan maka akan berhadapan dengan kami tanpa kompromi,” ujar Pak Dahera menambahkan.
Keteguhan hati dan prinsip yang dipegangnya ternyata diperhitungkan oleh Tuhan. Berkat Tuhan selalu dirasakan dalam bentuk dan cara Tuhan yang menakjubkan.
“Seandainya waktu itu Bapak tidak menjaga integritasnya, mungkin kami tidak bisa menikmati masa tua yang tenang seperti sekarang,” ujar Bu Naomy mengiyakan.
Tangan Dingin sebagai Bidan
Puluhan tahun menjadi seorang bidan, Bu Naomy telah membantu begitu banyak pasien. Keberhasilannya menolong pasien, kata Bu Naomy, semata hanya pertolongan Tuhan. Ia tak pernah lupa berdoa setiap kali akan menangani pasien. “Saya bilang terus-terang kepada pasien, ‘Bu, saya orang Kristen, saya akan berdoa dulu untuk Ibu ya’,” katanya.
Sering kali ketika ada kondisi kritis di rumah sakit, rekan-rekan kerjanya menghubungi Bu Naomy untuk menangani. “Saya hanya bilang bahwa semuanya bukan karena saya, tetapi oleh anugerah Tuhan,” ujar Bu Naomy.

Tentu saja perjalanannya tak luput dari peristiwa menyedihkan. Suatu waktu, Bu Naomy menolong persalinan seorang ibu yang datang ke rumah sakit dalam kondisi pendarahan. Plasentanya lepas sebelum sang bayi lahir. Segala upaya dilakukan untuk menyelamatkan ibu dan sang bayi. Apa daya, keduanya tak tertolong.

“Saya sedih sekali saat itu. Bayangkan, ibu ini sudah menantikan anaknya selama sembilan bulan, tetapi akhirnya harus pergi dengan cara seperti itu,” katanya mengenang.
Sampai sekarang, lulusan sekolah bidan Gunung Wenang di Manado ini aktif melayani di Klinik Shalom GKY BSD. Ia mewariskan ilmu dan pengalamannya kepada perawat-perawat muda, termasuk cara memasang alat kontrasepsi dengan implant. Doanya selalu kepada Tuhan agar ia menjadi saksi untuk orang lain (pasien), sebab pasien bisa datang dari mana saja termasuk orang-orang non-Kristen.
Anak-anak yang Penurut
Kemurahan dan keajaiban Tuhan juga dirasakan Pak Dahera dan Bu Naomy dalam membesarkan anak-anak mereka, yakni Putri Ekawana yang biasa disapa Pingkan dan Dwi Putra Nugraha. Mereka memberikan komentar serupa, “Dua anak kami cukup penurut.”

Pingkan adalah seorang dokter lulusan Universitas Pelita Harapan (UPH) dengan beasiswa penuh. Setelah itu Pingkan melanjutkan studi program spesialis di Universitas Airlangga Surabaya. Ia lalu menikah dengan seorang anggota TNI Angkatan Laut berdarah Manado-Madura-Tionghoa dan dikaruniai dua orang anak.

Sedangkan Dwi, si bungsu, lebih tertarik belajar ilmu hukum. “Saya mau masuk perguruan tinggi yang terbaik di Indonesia seperti Universitas Indonesia.” Begitu tekad Dwi sewaktu lulus SMA. Sebelum tes di perguruan tinggi yang diidamkan, Dwi mengikuti tes dan dinyatakan lulus di Universitas Atmajaya dan UPH, tapi ia tak mau mengambil studi di situ. Terakhir, ia juga lulus tes di Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Pak Dahera lantas menasihati putranya, “Dwi, kalau kau tidak mau kuliah di UGM dan ingin mencoba lagi di UI sebagai perguruan tinggi terbaik, Tuhan akan marah, karena kau sudah dikasih tiga kali keberhasilan di universitas tetapi masih belum mau terima.” Akhirnya Dwi mengikuti nasihat ayahnya untuk menempuh studi hukum di UGM.
Jauh dari rumah dan pengawasan orang tua sempat membuat Bu Naomy khawatir akan putranya. Ia pun menasihati putranya, “Dwi, kalau kamu punya pacar, Mami tidak persoalkan ia dari suku mana pun, yang penting harus seiman.”
Setelah lulus kuliah, Dwi sempat bekerja sebagai staf ahli Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok di Dewan Perwakilan Rakyat. Ia kemudian melontarkan keinginannya untuk melanjutkan sekolah hukum di Belanda. Pak Dahera dan Bu Naomy mengizinkan dengan syarat Dwi harus menikah dulu. Selang beberapa waktu, Dwi menikah dengan drg. Indira Betari Sumendap Sp.KGA yang berdarah Manado dan Jawa, dan kini dikaruniai dua orang anak.
Selepas studi, Dwi terus berkarier di bidang hukum, antara lain di Badan Pengawas Pemilu, Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu, Komisi Pemilihan Umum, dan hingga saat ini menjadi dosen di UPH.
Pak Dahera dan Bu Naomy tak berhenti bersyukur jika mengingat kebaikan Tuhan kepada anak-anak mereka. “Sejak kecil kami tanamkan iman kepada mereka. Jadi sekolah minggu adalah keharusan, tidak boleh bolos. Dan saya sangat mengapresiasi sekolah minggu GKY BSD yang mengajar anak-anak kami dengan baik,” kata Bu Naomy.
Melayani Tuhan Sampai Akhir
Setelah puluhan tahun bergereja di GKY BSD, Pak Dahera dan Bu Naomy tidak bisa tidak untuk terus aktif dalam pelayanan, walaupun bidang yang mereka kerjakan berganti-ganti seiring dengan berjalannya waktu dan umur mereka.
Bu Naomy sebelumnya pernah menjadi pengurus Komisi Wanita (KW), sekarang menjadi pengurus Komisi Kaleb, dan aktif melayani di Klinik Shalom. Selain itu, bersama dengan Pak Dahera, mereka menjadi usher dan aktif dalam pelayanan kedukaan.
“Saya kira tim kedukaan kita perlu ditingkatkan dan ditambah anggota timnya, dan kalau bisa dari majelis juga bisa bergantian datang ke rumah duka untuk menghibur keluarga yang sedang berduka,” kata Pak Dahera dan Bu Naomy memberi saran.
Sebagai jemaat GKY BSD sejak 1990-an dan menyaksikan pertumbuhan jemaat yang sangat pesat, mereka heran mengapa hal itu tak tercermin di kebaktian doa. “Yang datang kebaktian doa, terutama kebaktian doa Sabtu, masih kurang sekali,” kata mereka.
Beberapa jemaat pernah bertanya kepada Pak Dahera dan Bu Naomy, mengapa sampai sekarang masih mau menjadi usher. “Selagi Tuhan masih mau pakai, dan selama kaki masih kuat berdiri mengapa tidak?” kata Bu Naomy sambil tertawa. “Dan di Kerajaan Surga nanti, siapapun yang mau lewat pintu surga, harus melewati para usher dulu kan?” canda Pak Dahera.
Mereka tetap setia, walaupun di antara grup usher mereka yang paling tua, bahkan banyak jemaat yang terkadang tidak mempedulikan mereka, tidak menganggap mereka ada. Sebagai usher, mereka bisa melihat karakter jemaat yang bermacam-macam, dari yang sering terlambat dan bersikap acuh tak acuh, maupun kebiasaan mereka sewaktu datang ke gereja.
“Saya bersyukur bisa melayani bersama Bapak, karena dulu Bapak ini tidak bisa tersenyum. Sekarang sebagai usher sudah bisa tersenyum, bahkan murah senyum,” kata Bu Naomy disambut tawa Pak Dahera.
“Pada akhirnya kami mengerti, Tuhan memperhitungkan semua yang kami kerjakan. Untuk itulah tak henti-hentinya kami bersyukur,” kata Bu Naomy yang begitu gembira karena sehari-hari dikelilingi oleh empat cucunya yang sehat dan pintar.
Oh. Betapa perjalanan kehidupan yang panjang. Apakah mereka lelah? Barangkali secara fisik lelah. Tetapi bukankah hidup yang berarti adalah hidup yang dijalani bersama Tuhan? Karena ada yang menopang di saat lelah, dan ada yang menggendong di saat letih. Mereka hanya memegang janji Tuhan.
“Hidup manusia ada batasnya kan? Dan hidup kami saat ini ibarat matahari yang sudah dekat terbenam. Mau apa lagi?” sambung Pak Dahera.
“Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti. Setiap hari ia menaruh belas kasihan dan memberi pinjaman, dan anak cucunya menjadi berkat.” – Mazmur 37:25-26
***
*) Pewawancara: Titus Jonathan & Lily Ekawati
Biodata keluarga
Nama : Dahera Rustam
Tempat & tahun lahir : Palopo, 1953
Pendidikan : Fakultas Kehutanan UNHAS 1982
Pekerjaan : Dinas Kehutanan Bengkulu 1982-1991
Kanwil Kehutanan Kaltim 1991-1996
Kanwil Kehutanan Sulteng 1996-1999
Inspektur pembantu pada Itjen Dephut 1999-2007
Auditor Utama pada Itjen Dephut 2008
Pelayanan Gereja : Usher
Nama : Naomy Marie Tando
Tempat & tahun lahir : Tombatu, 1957
Pendidikan : Sekolah Bidan 1976
Akademi Kebidanan 2004
S1 Kebidanan 2006
S2 Menajemen Kesehatan 2009
Pekerjaan : RS Cikini Jakarta 1978
RSU Bengkulu 1982-1991
Puskesmas Air Putih Samarinda 1991-1996
Dinas Kesehatan kota Palu 1997-1999
Puskesmas Tambora 2000-2010
Sudin Jakarta Barat 2010-2011
Dosen di Poltekes Manado 2011-2013
Pelayanan Gereja : Ketua Komisi Wanita 2003
Pengurus KW 2015-2021
Tim Doa 2018-2023
Pengurus Kaleb 2024-2025
Ketua Komisi Kaleb, 2025- sekarang
Klinik Shalom, 2015-sekarang
Usher, 1989-sekarang
Nama Anak (1) : Putri Ekawana
Tempat & tahun lahir : Bengkulu, 1983
Pendidikan : FK UPH 2007
FK Unair 2022
Pekerjaan : Dokter Sp KFR
Pelayanan Gereja : WL GKY Lampung
Nama Anak (2) : Dwi Putra Nugraha
Tempat & tahun lahir : Bengkulu, 1986
Pendidikan : S1. FH UGM 2004
S2 FH UI 2009
S3 FH UI 2022
Pekerjaan : Tenaga Ahli anggota DPR (Ahok) 2009-2012
Dosen UPH 2013-sekarang
Tim Asistensi Bawaslu RI 2016-2019
Tenaga Ahli DKPP RI 2020-2022
Tenaga Ahli KPU RI 2023-2024
Pelayanan Gereja : Aktivis Sirem
Pengurus Pasutri 2024-sekarang
WL 2018-sekarang
Tuhan Tuntun Langkahku
oleh: Dahera Rustam
Di dalam hutan aku berseru.
Tuhan, tuntun langkahku setiap hari,
lewati lembah kelam, daki gunung tinggi.
Ku tak mampu jalan sendiri,
tanpa tangan-Mu menopang hidupku.
Walau badai datang menghadang jalanku,
Berikan damai di tengah gelisahku.
Untuk aku selalu percaya pada-Mu,
karena rencana-Mu indah bagiku.
Tuhan tuntun langkahku di tiap waktu,
saat suka maupun duka datang melanda.
Jadikan diriku pujian bagi-Mu,
Karena setiap napasku menyembah nama-Mu.
Tuhan ampuni salah dan dosaku,
Ubah hatiku jadi seperti hati-Mu.
Kumau taat, walau tak mengerti,
Karena jalan-Mu indah bagiku.
Tuhan tuntun langkahku pulang,
ke rumah kekal yang Kau sediakan.
Di sana tak ada takut dan air mata,
Di hadirat-Mu penuh sukacita.
Sampai akhir hidupku ku ‘kan berseru,
Tuhan tuntun langkahku, tuntun aku.
Untuk nanti kubertemu muka dengan-Mu,
Dan ku ‘kan berseru. tak berkesudahan kasih setia-Mu kepadaku.
Serpong, 2 Juni 2026
***


