Di Balik Realitas Perilaku Remaja

Daniel Abot Natanto

Riset yang dipublikasikan oleh Unicef, Badan Pusat Statistik, dan sejumlah jurnal mengungkapkan fenomena yang sulit diabaikan terkait kehidupan remaja selama beberapa tahun belakangan. Sekitar 312 ribu remaja di Indonesia sudah terekspos kepada narkotika, sementara satu dari empat remaja memiliki kebiasaan merokok. Di lingkungan sekolah, satu dari lima anak berusia 13-15 tahun mengalami perundungan (bullying), baik fisik maupun nonfisik. Sementara di dunia maya, sekitar 16 persen konten media sosial berisi hinaan, ancaman kekerasan, kata-kata kotor, dan serangan identitas. Ditambah lagi paparan terhadap pornografi, game yang memicu adiksi, serta pengaruh budaya konsumerisme dan materialistis yang kian deras.

Lebih dari sekadar data statistik, angka tersebut mengindikasikan perilaku negatif yang sedang dilakukan maupun dialami oleh anak-anak remaja. Tidak menutup kemungkinan bahwa anak-anak remaja Kristen juga termasuk dalam data tersebut. Anak-anak yang mungkin selama ini terlihat datang ke gereja dan rajin terlibat dalam aktivitas pelayanan, bisa jadi menyumbang angka dalam data tersebut.

Tak hanya berdampak buruk terhadap diri sendiri maupun orang lain, beberapa perilaku tersebut bahkan masuk kategori pelanggaran hukum. Jika terus dibiarkan, tentu akan mempengaruhi masa depan anak-anak remaja.

Masih mengacu pada riset-riset yang sama, ada beberapa kemungkinan penyebab perilaku remaja tersebut:

  1. Lingkungan (Ajakan/ Normalisasi)

Lingkungan adalah salah satu pengaruh terbesar terhadap setiap hal yang dialami oleh anak remaja. Pergaulan atau lingkungan sekitar dapat memberikan dampak positif maupun negatif. Dalam konteks di atas, perilaku negatif remaja bisa jadi disebabkan oleh dampak negatif dari lingkungan yang buruk.

Alkitab sudah mengingatkan hal ini dalam 1 Korintus 15:33 “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” Perilaku buruk seperti bullying, merokok, mengonsumsi narkoba, menonton pornografi, berkata-kata kasar, bahkan kebiasaan adiktif dapat ditularkan dari lingkungan yang juga buruk.

Lingkungan bisa mengajak, bahkan menekan dan memaksa anak-anak remaja untuk mengikuti perilaku tertentu. Namun, kita perlu memperhatikan bukan hanya lingkungan yang secara aktif mengajak para remaja, melainkan juga lingkungan yang secara pasif menormalisasikan perilaku buruk tersebut.

  1. Depresi yang tidak selesai

Berdasarkan hasil riset dari Unicef, hanya sebanyak 10 persen anak-anak remaja yang mengalami depresi berhasil ditolong. Artinya, jauh lebih banyak anak-anak remaja yang mengalami depresi tanpa mendapatkan pertolongan. Hal ini memperbesar kemungkinan anak remaja untuk mengalami kesehatan mental yang buruk. Sebuah riset yang diadakan oleh National Adolescent Mental Health Survey pada 2022 menemukan bahwa terdapat 15,5 juta anak-anak remaja di Indonesia mengalami tantangan kesehatan mental, dan 2,45 juta anak-anak remaja lainnya mengalami gangguan kesehatan mental.

Mereka yang tidak mendapatkan pertolongan lantas berusaha mencari jalan keluar atau cara bertahan (coping mechanism) sendiri, termasuk lewat perilaku buruk. Bukan hanya yang bersifat material seperti mengonsumsi narkoba dan merokok, tetapi juga bisa berupa kebiasaan atau perilaku bullying, pornografi, materialisme, dan lainnya.

  1. Kemudahan akses

Tak dapat dipungkiri, kemajuan teknologi dan kemudahan akses membuat godaan akan perilaku buruk semakin intens. Apalagi dengan penggunaan telepon pintar alias smartphone yang terus meningkat. Saat ini saja, di Indonesia ada sekitar 61 juta remaja dan pemuda usia 16-30 tahun menggunakan telepon pintar alias smartphone.

Mungkin anak-anak remaja tidak aktif mencari dan mengakses konten-konten yang tidak pantas, tetapi kita perlu mewaspadai mereka terpapar secara pasif lewat iklan atau konten yang berseliweran di ponsel mereka.

Berhala Tersembunyi

Seperti fenomena gunung es, perilaku buruk hanyalah sesuatu yang tampak di permukaan. Ada begitu banyak persoalan yang tersembunyi di baliknya, termasuk trauma, kesepian, kesedihan, atau perasaan tidak dihargai.

Namun, bila kita telisik lebih jauh, ada sebuah persoalan mendasar dalam hati manusia, yakni hati yang menyembah sesuatu selain Allah. Ada hati yang ‘menyembah’ diri sendiri, otonomi, kepuasan, kenyamanan, dan allah-allah lain yang bukan Allah sejati.

Dengan demikian, saat merencanakan sebuah solusi, menyelesaikan persoalan di level permukaan tidaklah cukup. Kita perlu mengarahkan hati mereka kembali kepada sang Allah sejati. Dan hal ini memerlukan komitmen personal serta dukungan dari keluarga dan komunitas.

Personal

  1. Mengubah kepuasan sementara menjadi kepuasan kekal

Sering kali seseorang melakukan dosa hanya untuk menerima dan menikmati sebuah janji palsu yang ditawarkan si jahat. Siapa pun yang melakukan dosa tersebut sambil mengejar janji yang fana, tidak akan mendapatkannya. Ketika seseorang berusaha mengisi kekosongan hatinya dengan dosa dan segala kebohongan yang ditawarkannya, maka orang tersebut tetap akan kosong, seiring dengan dosanya terhadap Tuhan. Sama halnya dengan setiap anak-anak remaja yang sedang mengejar sesuatu yang sudah dijanjikan dunia dalam perilaku buruk tersebut, hasil yang diperoleh akan tetap nihil.

John Piper di dalam bukunya Battling Unbelief mengatakan bahwa persoalannya bukan hanya soal mengejar kepuasan yang sementara, tetapi juga dari awal kita sudah tidak percaya akan janji Tuhan. Kita lebih memilih dan memercayai janji palsu serta kepuasan fana dari dunia dibandingkan menantikan janji Tuhan yang kekal. Dibandingkan kepuasan dan kesenangan kekal yang Tuhan janjikan, sering kali manusia tidak sabar lantas mencari jalan pintas dengan melakukan apa yang dijanjikan dunia. Ketidakpercayaan akan janji Tuhan adalah hal yang harus diselesaikan terlebih dahulu agar anak-anak remaja dapat memilih mana yang lebih baik antara Tuhan atau dunia.

Di dalam banyak janji Tuhan akan masa depan kita yang terjamin di dalamnya, segala aspek yang kita butuhkan akan dipenuhi oleh-Nya. Mengutip Roma 8:32, John Piper mengatakan jika Allah rela memberikan segalanya, yaitu Anak-Nya, maka tidak ada yang tidak disediakan-Nya untuk kita. Segala kebutuhan kita, baik secara material maupun immaterial, akan dicukupkan di dalam Kristus bagi kita yang setia menantikan janji-Nya.

  1. Hidup Coram Deo

Sering kali hal yang mendorong kita untuk berani berbuat dosa adalah perasaan bahwa tidak ada yang mengawasi di sekitar kita. Mungkin di dalam benak anak-anak remaja ada pemikiran: “Papa dan Mama sedang tidak ada di rumah, maka aku bisa melakukan …”

Kita lupa bahwa “mata Tuhan ada dimana-mana”. Amsal 15:3 mengatakan bahwa “Mata Tuhan ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik.” Ayat tersebut menunjukkan bahwa tidak ada tempat yang ‘aman’ bagi kita untuk diam-diam melakukan dosa.

Ada sebuah frasa dalam bahasa Latin, yaitu Coram Deo, yang berarti “di hadapan Allah”. Istilah ini merupakan sebuah pemikiran yang membantu kita untuk terus mengingat bahwa kita hidup di hadirat Tuhan, tidak ada satu pun perbuatan kita yang tersembunyi dari pandangan-Nya, dan kita hidup untuk kemuliaan-Nya. Konsep pemikiran ini akan menolong para remaja terhindari dari cobaan meski ada kesempatan untuk berbuat dosa.

Keluarga & Komunitas

  1. Tidak hanya mengoreksi sikap tetapi hati

Peran keluarga bagi anak-anak remaja bukan hanya menjadi tempat membentuk anak agar mempunyai sikap dan karakter yang baik, tetapi juga hati yang benar. Maka rumah adalah salah satu tempat utama untuk membetulkan hati yang melenceng, bukan hanya membetulkan karakter dan sikap anak. Rumah harus menjadi tempat di mana keluarga melihat ke dalam hati anak-anak sampai ke akar permasalahan mereka.

Membereskan masalah dari akar dapat dimulai dengan membangun percakapan untuk perlahan membuka hati anak-anak remaja. Ingatlah untuk membangun koneksi sebelum koreksi. Bukan dengan percakapan to the point membahas perilaku buruk remaja, tetapi pelan-pelan menggali apa yang menjadi berhala dalam hati mereka, untuk kemudian membimbing mereka memiliki hati yang benar dan menyembah Allah secara utuh. Pertanyaan-pertanyaan yang tepat juga akan membantu mereka sadar dari kebutaan terhadap aspek spiritual, khususnya tentang sikap hati.

  1. Membantu anak-anak remaja dengan menjadi cermin Firman Tuhan

Meski para remaja mulai semakin independen dan dipengaruhi oleh teman-teman juga lingkungan, mereka sebenarnya tetap mencontoh teladan orang tua mereka. Karena itu penting bagi keluarga, khususnya orang tua, untuk menjadi cerminan Firman Tuhan. Dengan demikian anak remaja dapat melihat posiblitas dalam hidup sesuai dengan Firman Tuhan. Caranya adalah dengan menjaga standar hidup sesuai standar Tuhan. Keluarga dapat mencontohkan bagaimana hidup sesuai kebenaran Firman Tuhan yang dapat diikuti oleh anak-anak.

Keluarga yang dipenuhi dengan aspek-aspek yang penuh dengan kedagingan (Galatia 5:19-21) pasti akan memberikan contoh yang buruk bagi anak remajanya. Sebaliknya, dengan menjadi model yang baik (Galatia 5:22-23), keluarga dapat menjadi berkat dan cara Tuhan membentuk anak-anak remaja di rumah. Dengan demikian keluarga bukan hanya menjadi tempat aman bagi anak-anak, tetapi juga menjadi tempat anak-anak dibentuk hatinya untuk kemuliaan Tuhan.

***

Penulis adalah Guru Injil (GI) yang melayani sebagai Hamba Tuhan pembina remaja di GKY BSD.

Bacaan Lebih Lanjut

Age of Opportunity karya Paul David Tripp

Battling Unbelief karya John Piper

Don’t Waste Your Life karya John Piper

Sumber Riset:

IndoToxic2024: A Demographically-Enriched Dataset of Hate Speech and Toxicity Types for Indonesian Language oleh Lucky Susanto dan teman-teman.

https://www.researchgate.net/publication/381770390_IndoToxic2024_A_Demographically-Enriched_Dataset_of_Hate_Speech_and_Toxicity_Types_for_Indonesian_Language

BNN Edukasi Maba UI, Cegah Narkoba Di Kalangan Remaja oleh BNN.

https://bnn.go.id/bnn-edukasi-maba-ui-cegah-narkoba-di-kalangan-remaja/

Evaluation Of The Roots Indonesia Peer Violence And Bullying Prevention Pilot oleh Unicef.

https://www.unicef.org/indonesia/media/7021/file/Roots%20Indonesia%20Programme%20Evaluation.pdf

 

Indonesia Adolescent Health Profile 2024 oleh Unicef.

https://www.unicef.org/indonesia/id/media/23811/file/adolescent-health-profile-2024.pdf

Statistik Pemuda Indonesia 2024 oleh Badan Pusat Statistika.

https://www.bps.go.id/id/publication/2024/12/31/b2dbaac4542352cea8794590/statistik-pemuda-indonesia-2024.html