Kemeriahan hari Reformasi di Amerika dan Eropa tentu tak dapat dibandingkan dengan Halloween yang jatuh pada tanggal yang sama: 31 Oktober. Tak tampak perayaan khusus di Barat, kecuali mungkin di kalangan gereja Protestan, dan khususnya di sekitar Gereja Wittenberg, Jerman, yang menjadi lokasi Martin Luther menancapkan 95 Dalil yang mengguncang kemapanan Gereja Katolik masa itu.
Martin Luther (1483-1546)
95 Dalil di Gereja Wittenburg
Gereja Wittenburg saat ini
Sulit kita membayangkan kondisi masyarakat Eropa 509 tahun lalu saat Reformasi mulai digemakan, bila melihat saat ini semua negara di benua biru itu hampir semuanya telah menjadi 100 persen sekuler. Peran agama dinihilkan pada hampir semua bidang kehidupan. Pemimpin agama tak lagi memiliki kekuasaan mengatur kehidupan individu dan masyarakat.
Namun, lima ratus sembilan tahun yang lalu kondisinya tentu sangat berbeda. Martin Luther menghadapi risiko besar karena berani mengkritik pihak gereja yang memiliki kekuasaan mutlak. Doktor teologi yang juga seorang dosen dan imam ordo Agustinian , itu menjalankan ketaatan yang ketat dalam praktik agamanya, namun hatinya selalu diliputi ketidakpuasan dan penuh pertanyaan akan praktik keagamaan yang dilakoninya.
Keputusannya menulis ‘surat protes’ dipicu oleh praktik penjualan surat pengakuan dosa (indulgences) yang makin marak menjelang pembangunan berbagai katedral megah di Eropa. Kemarahannya memuncak manakala seorang utusan Paus dikirim ke Jerman pada tahun 1516 untuk pengumpulan dana melalui ‘obral’ surat-surat pengampunan dosa. Johann Tetzel, sang utusan itu, sangat terkenal dengan ucapannya, “As soon as the gold in the casket rings, the rescued soul to heaven springs” (kala mata uang (emas) bergemerincing di dalam kotak, jiwa yang diselamatkan berlompatan masuk ke sorga) .
Penjualan Surat Pengakuan Dosa
Tak seorangpun menyadari, termasuk Martin Luther sendiri, bahwa surat yang dikirimnya pada akhir Oktober 1517 kepada Archbishop (Uskup Agung) Albrecht of Brandenburg, itu akan menjadi titik awal Reformasi Kekristenan sekaligus Reformasi Eropa dan dunia. Kendati belum ada internet dan media sosial, surat Luther menyebar cepat ke seantero Eropa bagai virus menular.
Salinan surat Luther yang diproduksi dengan mesin cetak sederhana hasil penemuan Gutenberg setengah abad sebelumnya, segera menyebar ke tangan para bangsawan, cendekiawan, kalangan agama, maupun rakyat jelata. Isi surat itu adalah protes terhadap berbagai doktrin dan ritual keagamaan yang tak sesuai Firman Tuhan, diantaranya: penjualan surat pengampunan dosa, doktrin tentang Maria (Maryology), bermacam sakramen selain perjamuan kudus dan pembaptisan, api penyucian (purgatory), perintah selibat bagi imam, dan isu-isu lainnya. Isi surat ini rupanya sesuai dengan jeritan hati sebagian besar penerimanya. Ditambah lagi respon Uskup Agung Albrecht yang tak menggubris surat Luther dan hanya menganggapnya sebagai sebuah pikiran sesat seorang imam biasa, menyebabkan penyebaran surat Luther tak mengalami hambatan berarti pada awalnya.
Surat Luther baru diteruskan oleh Archbishop kepada Paus Leo X pada Desember 1517. Dan selama tiga tahun berikutnya, pihak gereja hanya menanggapi dengan enggan, mengeluarkan beberapa dekrit dan mengirimkan utusan yang lemah untuk melawan Luther. Akibatnya, buah pikiran Luther terus menyebar ke luar Jerman, menembus berbagai kalangan di benua Eropa. Ketika pihak gereja sadar akan ancaman yang terkandung dalam surat Luther, semuanya sudah terlambat. Luther sudah semakin terkenal dan kehadirannya disambut di mana-mana sebagai pembaharu gereja. Bukan hanya rakyat jelata, para bangsawan juga banyak yang diam-diam setuju dengan apa yang ditulis Luther.
Paus Leo X
Diet of Worms, semacam sidang yang diselenggarakan tahta suci Roma, akhirnya diadakan pada tahun 1521. Tujuannya hanya satu: mengadili Martin Luther dengan segala pemikirannya yang dianggap sesat. Walaupun cemas akan keselamatan dirinya, Martin Luther hadir dalam sidang tersebut setelah mendapatkan jaminan keamanan dari Roma sendiri. Jaminan ini sangat diperlukan, mengingat 100 tahun sebelumnya, Jan Hus – kini dikenal sebagai Bapak Pra Reformasi — mengakhiri hidupnya di tiang pembakaran setelah berdebat dengan utusan Paus. Ia ditahan dan dieksekusi usai memenuhi undangan persidangan. Bersyukur sejarah penghakiman yang kejam itu tidak terulang. Ketika persidangan Luther menemui jalan buntu karena ia tak bersedia menarik 95 dalil yang sudah ditulisnya, pihak Tahta Suci Roma yang diwakili Raja Charles V berusaha menahan Luther, namun ia berhasil menghilang malam itu. Para bangsawan yang diwakili Frederich III, kemudian melindungi dan menyembunyikannya di Wartburg Castle (Benteng Wartburg) yang terpencil.
Luther berdiri di hadapan Diet of Woms
Frederich III_Pelindung Martin Luther
Wartburg Castle bagi Martin Luther bagai Pulau Patmos, tempat pengasingan Yohanes murid terkasih Yesus. Di tempat persembunyiannya, Luther terus berdoa dan bekerja mencari kehendak Allah. Kitab Suci Perjanjian Baru secara lengkap berhasil diterjemahkannya ke dalam bahasa Jerman di tempat itu. Ia juga menuliskan beragam tulisan tentang doktrin dan pengajaran Kristen yang warisannya sampai kepada kita sekarang. Beragam lagu pujian, salah satunya yang kelak digunakan membangkitkan semangat pejuang saat Perang 30 Tahun antara penguasa Katolik dan Protestan berkecamuk, diciptakan pula oleh Luther. Lagu itu, A Mighty Fortress Is Our God (Allah Bentengku yang Teguh: KPPK387), diciptakannya berdasarkan Mazmur 46. Di tengah kecemasannya dikejar-kejar orang-orang yang ingin membungkamnya, ia mendapatkan kekuatan Tuhan melalui lagu pujian tersebut.
Wartburg Castle
Sementara itu, api reformasi yang pada mulanya disulut oleh Martin Luther, terus bersemi di seluruh Eropa. Ulrich Zwingli, berdiri di depan Dewan Kota Zurich pada tahun 1521. Ia mempertahankan 67 dalil yang mirip dengan apa yang disampaikan Luther dua tahun sebelumnya di Jerman.
Argumentasi Zwingli yang lebih persuasif, membuatnya diterima oleh Dewan Kota dan ia terus dibiarkan berkarya. Salah satu penekanan ajarannya adalah “Kristus yang paling utama, bukan gereja. Ia adalah satu-satunya mediator antara Allah dan kita”. Dengan ucapan itu ia menentang praktik pengakuan dosa oleh awam kepada para imam/pastor yang adalah manusia biasa.
Di belahan Eropa lainnya, John Calvin, generasi berikutnya setelah Martin Luther, meletakkan dasar yang kokoh akan doktrin Protestan. Pada tahun 1541 ia diundang kembali ke kota Geneva setelah tiga tahun menyingkir akibat kuatnya ancaman pihak gereja Katolik terhadap dirinya. Karyanya di pengasingan: Institutes of the Christian Religion menjadi dasar awal prinsip teologi Protestan.
Perumus ‘predestinasi’ dan ‘kedaulatan Allah’ (sovereignty) itu kemudian menjadi pemimpin spiritual sekaligus politik di Geneva sampai ia wafat tahun 1564. Di bawah pimpinannya, Geneva menjadi menjadi pusat agama Protestan, sangat aktif mengirimkan pengajar ke seluruh Eropa, sehingga terbentuklah Presbyterianism di Skotlandia, Pergerakan Kaum Puritan di Inggris dan Gereja Reformed di Belanda.
Bukan hanya di bidang keagamaan, reformasi pada gilirannya juga mengubah tata pemerintahan, sistem perekonomian, dan perilaku individu dan masyarakat Eropa.
Ulrich-Zwingli 1484-1531
John Calvin 1509-1564
Sejarah dunia, khususnya di Eropa, bergerak lebih cepat kala reformasi melanda. Eropa seperti terbelah menjadi dua akibat reformasi. Di bagian Utara (Jerman, Inggris, Belanda, Swiss) mayoritas berubah menjadi negara Kristen (Protestan), sedangkan di bagian selatan (Italia, Spanyol, Portugal) tetap bertahan dengan iman Katolik.
Gerakan Kontra Reformasi menghambat penyebaran Protestantisme, dan gesekan akhirnya baru berakhir saat Perang 30 Tahun yang sangat menyakitkan usai. Perang agama yang merenggut puluhan juta jiwa tersebut berakhir setelah ditandatanganinya Perjanjian Westphalia pada Oktober 1648. Konon, perlu waktu satu abad untuk mengembalikan jumlah penduduk Jerman seperti sebelum perang.
Dampak Reformasi yang segera jelas terjadi adalah terbentuknya negara-negara berdaulat di Eropa, tidak lagi di bawah kekuasaan Paus di Roma. Sistem demokrasi yang kini dikenal dunia modern juga berkembang akibat Reformasi. Sampai saat ini, walaupun tidak sempurna, sistem demokrasi masih dianggap lebih baik daripada sistem monarki, komunis, apalagi diktator.
Etika Protestan yang dirumuskan sosiolog Jerman Max Weber, diperolehnya saat mengamati etos kerja masyarakat Protestan di Eropa dan Amerika Serikat. Akarnya tak dapat dipungkiri adalah ajaran Calvin yang menekankan kerja keras, hemat, dan efisien dalam menggunakan sumber daya, talenta dan berkat yang telah Tuhan anugerahkan kepada setiap orang Kristen. Kapitalisme dalam arti positif, juga terbentuk dari nilai dan ajaran tersebut. Masyarakat dunia kini dengan gamblang menyaksikan bagaimana negara-negara yang dijiwai semangat Protestan seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Kanada, dan Australia memiliki kehidupan yang jauh lebih maju dibandingkan negara-negara tetangganya yang Katolik di Amerika Selatan dan Eropa Selatan.
Max Weber dan karyanya
Di sisi lain, gerakan Kontra Reformasi yang digaungkan pihak Katolik untuk mengimbangi gerakan Reformasi, juga telah memberikan dampak yang baik bagi kehidupan umat Katolik maupun masyarakat dunia. Ordo Jesuit yang didirikan Ignatius de Loyola, seorang tentara yang menjadi pastor, dibentuk sebagai bagian dari gerakan Kontra Reformasi. Para pastor Jesuit sangat berjasa dalam menyebarkan injil melalui pendidikan dan kegiatan sosial di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Kanisius di Jakarta, Loyola di Semarang dan De Britto di Yogyakarta adalah beberapa sekolah khusus pria yang didirikan Ordo Jesuit.
Ignatius dari Loyola
Porsi Kekristenan Dunia
Kesimpulannya, bukan saja meluruskan kembali arah Kekristenan sesuai Firman Tuhan, gerakan Reformasi juga membentuk dunia yang lebih baik bagi penghuninya, di segala bidang kehidupan.
Kembali kepada Martin Luther, sang reformator, apa yang terjadi andaikan ia tak memiliki keberanian menulis surat kepada Uskup Agung Albrecht? Tuhan pasti memiliki cara lain untuk menjalankan rencana-Nya, tapi jalan sejarah tentu juga berbeda. Martin Luther, sebagai manusia biasa yang memiliki banyak kelemahan, berani menjawab panggilan Tuhan, tampil di hadapan Sidang di Worms dan berkata, ”Here I stand. I can do no other.”
Kalimat sederhana itu terus bergema dan banyak disitir para politikus dan negarawan termasuk Presiden Sukarno saat posisinya terjepit di tahun 1966. Katanya di suatu sidang kabinet, ”Saya Sukarno, Pemimpin Besar Revolusi. Sebagaimana Martin Luther katakan di gereja Wittenburg, saya pun berkata, ‘Di sini saya berdiri, saya tak bisa berbuat lain’.”
Sola Scriptura, Sola Fide, Sola Gratia, Solus Christus, Soli Deo Gloria
Selamat memperingati hari Reformasi



