Salah Satu Rumus Matematika Paling Rumit Di Dunia
Sebuah persamaan matematika, yaitu Navier Stokes Equation, disebut sebagai salah satu persamaan matematika yang paling rumit di dunia. Apa yang dimaksud dengan Navier Stokes Equation ini?
Pada tahun 1998, berdiri sebuah lembaga yang dinamakan The Clay Mathematics Institute. Lembaga ini didirikan oleh Landon T. Clay, seorang pengusaha sukses di Boston yang sangat memperhatikan perkembangan ilmu matematika. Ia meyakini bahwa perkembangan ilmu matematika di masa depan akan berkontribusi besar bagi kesejahteraan manusia.
Dalam upayanya mengembangkan ilmu matematika, pada tanggal 24 Mei 2000, The Clay Mathematics Institute mengumumkan adanya tujuh persamaan matematika yang paling sulit dipecahkan di dunia. Tujuh persamaan ini dikenal dengan nama Millennium Prize Problems. Bagi siapapun yang mampu memecahkan satu dari tujuh persamaan matematika ini, maka akan dianugerahi hadiah sebesar 1 juta dollar. Nah, di antara tujuh persamaan matematika tersebut, salah satunya adalah apa yang disebut sebagai “Navier Stokes Problem”.

Dalam pemahaman sederhana saya mengenai Navier Stokes Problem ini, para ilmuwan meyakini bahwa fluida, yaitu zat yang mengalir seperti air dan udara, tidaklah bergerak secara acak atau random. Semua gerakan fluida (fluid motion) di dunia ini pastilah tunduk pada hukum alam (misalnya: gravitasi). Dengan demikian, pastilah ada sebuah rumus baku yang bisa memprediksi pergerakan fluida. Di abad ke-19, dua orang peneliti, yaitu Claude-Louis Navier dan George Gabriel Stokes, mencoba menemukan rumus ini.
Tapi, tidak hanya Navier dan Stokes dan para ahli matematika di abad ke-21 saja yang tertarik untuk memecahkan rumus ini. Seorang bocah berusia 7 tahun juga tertarik akan rumus ini.
Gifted
Di film Gifted, Mary (Mckenna Grace) adalah seorang bocah berusia 7 tahun yang jenius dalam bidang matematika. Ketika disadari bahwa Mary adalah anak jenius, neneknya, yang juga adalah seorang ahli matematika, membawa Mary ke seorang profesor. Ia berharap agar Mary bisa dididik dan dibimbing seumur hidupnya di dalam bidang matematika agar ketika dewasa kelak ia bisa memecahkan salah satu persamaan matematika yang paling sulit di dunia itu: The Navier Stokes Problem.
Agar cucunya termotivasi, maka sang nenek membawa Mary melihat sebuah “hall of fame”, sebuah tribut bagi mereka yang bisa memecahkan Millennium Prize Problems. Neneknya berharap foto Mary suatu hari bisa terpampang di sana sebagai seseorang yang berhasil memecahkan persamaan Navier Stokes Problem tersebut. Tapi, ternyata harapan neneknya Mary mungkin terlalu muluk. Kenapa?
Navier Stokes Problem Solved by AI
Di tanggal 8 September 2026, website BBC memuat sebuah berita yang menyatakan bahwa Open AI mengklaim telah berhasil memecahkan Navier Stokes Problem. Ternyata, mendadak tidak lagi membutuhkan seorang Mary yang jenius yang menghabiskan seumur hidupnya belajar matematika untuk memecahkan masalah tersebut. Open AI hanya membutuhkan 88 jam untuk menyelesaikan persamaannya dengan mempekerjakan sekitar 10.000 AI bots. Ketika artikel ini ditulis, masih diperlukan verifikasi dari The Clay Mathematics Institute atas klaim dari Open AI ini.
Saya membayangkan apabila persamaan Navier Stokes ini dapat terjawab, mungkin suatu hari nanti, semua masalah Millenium Prize Problems itu pun akan terjawab semua. Apabila pertanyaan-pertanyaan paling sulit di dunia telah dipecahkan, apakah masih akan ada hal lain yang tidak bisa dijawab oleh manusia? Apakah dengan intelegensia buatan yang mampu membantu pertumbuhan science, semua pertanyaan di dunia ini akan terjawab? Kalau begitu, apakah ada batas bagi ilmu pengetahuan? Does science have a limit?
What Science Cannot Explain
Dalam bukunya berjudul Can Science Explain Everything? John C. Lennox, seorang profesor dari Oxford mempertanyakan apakah ilmu pengetahuan dapat menjawab semua hal di muka bumi ini. Lennox yang adalah seorang ahli matematika, meski ia tidak membahas Navier Stokes Problem dalam bukunya, namun ia mengatakan bahwa jawaban yang dapat science sediakan tetaplah terbatas. Science mampu menganalisa hal-hal yang sifatnya empiris (dapat dideteksi oleh kelima indera manusia). Namun, ada hal-hal yang non-empiris yang tidak bisa dijawab oleh science.
Dalam bukunya, Lennox menggunakan analogi Aunt Matilda yang sedang memanggang kue. Menurutnya, seorang biochemist dapat menganalisa struktur protein dari kuenya beserta semua elemen-elemen dari kue tersebut, termasuk partikel-partikelnya. Tetapi, pada akhirnya, pertanyaan mengapa kue tersebut dibuat adalah sesuatu yang tidak dapat dijawab oleh science. Science mampu menjawab “the what” (what things are made of, sesuatu itu terbuat dari apa), tetapi tidak mampu menjawab “the why”, untuk apa dan mengapa sesuatu itu ada.
Manusia bisa saja memecahkan persamaan Navier Stokes dengan memakai AI. Tapi, masih akan ada pertanyaan-pertanyaan yang tidak mampu manusia jawab. Pertanyaan tentang Tuhan, tujuan hidup manusia, nilai (values) dari eksistensi manusia, semua ini mungkin berada di luar jangkauan science.
Is There a God?
Frank, paman Mary yang juga seorang jenius (diperankan Chris Evans kalau tidak sedang memakai kostum Captain America-nya), menolak Mary dieksploitasi oleh neneknya yang ingin menghabiskan hidupnya memecahkan Navier Stokes problem itu. Berbeda dari neneknya, Frank ini ingin agar Mary tumbuh sebagai bocah biasa dan normal tanpa menghabiskan hidupnya terobsesi dengan memecahkan masalah matematika itu. Maka, di suatu sore, Frank mengajak Mary bermain-main di halaman rumahnya. Ketika mereka bermain di halaman rumah tersebut, muncullah sebuah adegan yang merupakan salah satu adegan paling estetik dan thought-provoking di film ini.
Ketika Frank menggendong Mary di bahunya sambil mengajaknya bermain di tengah sunset, entah dari mana Mary lalu mendadak mengejutkan pamannya dengan sebuah pertanyaan ke pamannya,
Mary: “ls there a God?”
Frank: “I don’t know.”
Namun, Mary tampaknya tidak puas dengan jawaban Frank tersebut. Dengan nada sedikit begging, Mary memelas ke Frank,
Mary: “Just tell me…”
Dan Frank yang jenius itu, dalam kejujuran dan keputusasaannya hanya bisa menjawab,
Frank: “I would if I could. But I don’t know.”
Adegan yang sederhana dan pendek ini hits really hard dan totally heartbreaking. Di tengah-tengah kejeniusan manusia yang bisa menjawab berbagai hal, kejeniusan Mary dan Frank ternyata tidak mumpuni untuk menjawab pertanyaan apakah Tuhan ada.
Closing
Pertanyaan mengenai apakah Tuhan ada atau tidak memang tidak terjawab di dalam film itu. Namun, dari adegan film itu, kita hanya cukup menyadari sebuah pertanyaan: Apakah semua hal bisa dijawab oleh intelektualitas manusia dan ilmu pengetahuan? Jangan-jangan seperti yang John C. Lennox katakan, ilmu pengetahuan memiliki keterbatasannya sendiri. Ilmu pengetahuan bisa menjelaskan how things work. Dalam kasus Navier Stokes Problem, ilmu pengetahuan bisa menjelaskan bagaimana air bergerak, tetapi tidak dapat menjelaskan why. Mengapa ada hukum alam? Mengapa ada dunia ini? Mengapa manusia ada?
Mungkin yang Mary dan Frank butuhkan bukanlah intelektualitas yang lebih cerdas, bukan sebuah program AI yang lebih canggih atau ilmu pengetahuan yang lebih unggul. Apa yang dibutuhkan mungkin jauh lebih simple dan sederhana dari itu, yaitu sebuah mata hati yang Tuhan bukakan. Sangat menarik apabila kita melihat doa Paulus yang ia tuliskan bagi jemaat di Efesus.
Ketika Paulus berharap jemaat di Efesus dapat melihat janji pengharapan di dalam Tuhan, Paulus tidak berdoa agar mereka diberikan intelektualitas yang lebih. Melainkan, Paulus mendoakan agar mata hati mereka dibukakan oleh Tuhan. Demikian doa Paulus, “I also pray that the eyes of your heart may be enlightened…” (Efesus 1:18, NIV). Paulus berdoa agar Tuhan menjadikan mata hati mereka terang, dibukakan, agar mereka bisa mendapatkan suatu pengertian yang baru mengenai pengharapan yang terkandung di dalam panggilan Tuhan dalam hidup mereka. Hal inilah yang melampaui science.
Manusia tidak bisa menemukan Tuhan bukan karena sekadar masalah ketidakmampuan intelektualitasnya (not simply because of the inability of the human mind), tetapi juga karena kerusakan hatinya (the depravity of the human heart). Apabila manusia tidak mengetahui tujuan hidupnya, tidak mengetahui mengapa ia hidup, lalu untuk apa semua ilmu pengetahuan yang dikejarnya itu? Bahkan, untuk apa memecahkan persamaan Navier Stokes? Bahkan, kembali ke sebuah pertanyaan yang lebih mendasar: Kalau manusia tidak tahu kenapa dia ada dan untuk apa tujuannya, dari mana kita tahu kalau manusia perlu memecahkan permasalahan Navier Stokes Problem itu?
Harapan bagi Mary dan Frank menemukan Tuhan bukanlah dengan sekadar mengandalkan kejeniusan mereka, namun terletak pada mata hati yang dibukakan Tuhan. Mungkin sebuah lagu bisa menjadi jawaban bagi pertanyaan Mary, yaitu lagu “Open the Eyes of My Heart” dari Michael W. Smith. Liriknya demikian:
Open the eyes of my heart, Lord
Open the eyes of my heart
I want to see You
I want to see You
***
Author: Firdaus Salim
*) Penulis pernah berkecimpung sebagai konsultan perdagangan internasional, penggemar film, pengajar, dan pembelajar teologi.



