Matahari Hidupku

Shalom! Saya didiagnosa sebagai penderita skizofrenia pada tahun 2015, sekitar akhir bulan September.  Beberapa hari setelah itu, di bulan Oktober awal, saya dibawa ke sebuah Rumah Pemulihan oleh keluarga saya. Mereka bukan kejam, tetapi mereka tidak punya cara lain untuk mengatasi penyakit saya ini. Bagi saya sendiri, istilah ini juga asing dan saya hanya bisa minum obat yang diberikan oleh psikiater. Saya mendengar suara-suara di kepala saya, yang memaki-maki saya dengan istilah dalam bahasa ibu saya. 

Pada masa-masa awal di Rumah Pemulihan itu, hati saya tidak bisa menerima keadaan. Walaupun begitu, saya mengikuti semua kegiatan di rumah itu dengan taat, karena tidak ada pilihan lain. Ada ruangan isolasi yang disediakan bagi pasien yang tidak mau taat, maka saya memilih untuk taat dan bekerja sama. 

Saya melewati hari-hari di rumah itu dengan hati yang rindu pulang ke keluarga saya, dan tidak terasa 3 tahun terlewati. Saya tidak lagi mendengar suara-suara yang menakutkan itu, karena obat yang saya konsumsi cocok mengobati penyakit ini dan saya dinyatakan stabil sehingga diijinkan pulang. Bulan Agustus 2018, saya pulang ke rumah. Keluarga menyambut saya dengan kerinduan yang sama. Saya diharuskan untuk kontrol ke psikiater tiap bulan dan harus mengkonsumsi obat setiap hari dengan rutin. Puji Tuhan! Tuhan membuka jalan bagi saya untuk bekerja kembali. Maka secara keuangan saya tidak kekurangan apa pun, Tuhan memelihara.

Saya rajin kontrol ke psikiter dan rutin mengkonsumsi obat sehingga kondisi saya stabil tanpa masalah, saya merasa sehat dan bahagia dengan keadaan saya yang stabil. Saya berusaha mencari di Google apa sebenarnya skizofrenia ini, tetapi hasilnya nihil. Saya tidak mengerti istilah ini dan tidak bisa menerima bahwa saya memang penderita gangguan kesehatan mental. 

Akhirnya di akhir tahun 2022 saya tidak lagi kontrol ke psikiater dan saya berhenti konsumsi obat. Awal tahun 2023 saya mulai mendengar suara-suara lagi, tetapi kali ini suara-suara itu mengajak saya berimaginasi. Saya dinyatakan bahwa saya bukan anak kandung dari orang tua saya. Mama yang melahirkan saya sudah meninggal, dan saya adalah salah satu saudara dari kembar perempuan dan laki-laki. Saya punya satu abang laki-laki yang terdampar di Korea dan diangkat anak oleh keluarga Korea yang saat itu terpisah di usia 5 tahun. Adik kembar saya dibawa ke Taiwan dan diangkat anak oleh keluarga lokal sana. Papa masih hidup sampai tua sebagai misionaris dan melayani rakyat Cina semasa dia hidup.  Dia dinyatakan meninggal di tahun 2024 sebagai misionaris Cina. 

Saya asyik berkhayal dan berimaginasi, sampai mengganggu pekerjaan. Saya dikeluarkan dari tempat saya bekerja dua kali, sehingga saya jobless selama satu tahun. Saya tidak bisa bekerja kembali karena tidak ada perusahaan yang saya lamar di Job Street (tempat saya mencari lowongan kerja) yang mau menerima saya. 

Keluarga saya mendesak saya untuk pergi ke psikiater dan kembali minum obat karena mereka tahu skizofrenia saya kambuh. Tetapi saya menolak dan menyangkal bahwa saya punya penyakit itu. Akhirnya di tahun 2024 bulan Oktober saya dibawa masuk ke RS Carolus untuk perawatan skizofrenia. Saya dirawat selama satu bulan di RS ini. Saya dirawat di satu unit, yang bernama unit Pius, dimana semua pasiennya adalah pasien dengan gangguan kesehatan mental. 

Di RS ini psikiater menyadarkan saya bahwa saya memang menderita sakit skizofrenia. Penyakit ini, membuat penderitanya mendengar suara atau melihat imaginasi atau mencium dengan hidung bau yang tidak nyata atau mengalami delusi. Penderita penyakit ini akan berhalusinasi dan bisa berbicara sendiri dengan bayangan delusi yang ada di otaknya. Setelah dirawat dengan disuntik obat dan konsumsi obat dari psikiater yang ada, saya tidak lagi mendengar suara dan tidak lagi berbicara dengan suara-suara itu. Di RS ini saya menyaksikan sendiri pasien penderita skizofrenia yang berbicara sendiri dari pagi sampai malam. Di malam hari setelah minum obat, pasien ini barulah istirahat dan tidak lagi berbicara sendiri.   

Setelah satu bulan di RS Carolus, saya kembali dibawa ke Rumah Pemulihan. Rumah Pemulihan ini memiliki perpustakaan, dimana buku-buku yang ada adalah buku-buku psikologi yang menceritakan pengalaman para pasien dengan gangguan kesehatan mental. Dari pasien-pasien lain di rumah ini, saya juga mendapat pengalaman bergaul dengan para pasien gangguan kesehatan mental yang sama maupun berbeda dengan saya. Di sini saya menyadari bahwa saya harus mengkonsumsi obat dengan rutin. Tanpa obat, saya bisa kambuh kembali.

Akhir tahun 2025, saya dibawa pulang. Saya pulang ke rumah dengan penerimaan diri dan pemahaman bahwa saya adalah penyintas penderita skizofrenia itu. Sampai hari ini saya rutin kontrol ke psikiater 3 bulan sekali dan rutin konsumsi obat setiap hari. 

Saya bersyukur kepada Tuhan untuk semua pengalaman hidup ini, karena Tuhan tidak pernah meninggalkan saya sendirian. Semua kebutuhan saya, biaya perawatan, biaya obat, kebutuhan hidup, disediakan oleh Tuhan yang memelihara. Bagi saya, anugerah Tuhan yang saya alami sungguh berlimpah. Sampai hari ini, saya hanya bisa bersyukur atas anugerah-Nya yang berlimpah.  Kasih setia Tuhan seperti matahari yang terbit di setiap pagi, yang menerangi bumi dan mengusir kegelapan. Hidup saya yang pernah sangat gelap, telah saya lalui dengan penyertaan Tuhan, terang-Nya telah mengusir kegelapan itu.

Kiranya sharing saya ini menjadi berkat, khususnya bagi mereka yang menderita gangguan kesehatan mental seperti saya. All glory for God! Soli Deo Gloria! 

***

Related Post