Author: Firdaus Salim
Kata orang, film Project Hail Mary adalah sebuah popcorn movie. “Film ini jangan terlalu dianggap serius seperti Interstellar,” kata seorang teman yang sudah nonton duluan. Namun, sewaktu menonton film ini, saya tidak beranggapan begitu. Meski tidak seserius Interstellar, tetapi tetap ada satu hal yang menjadi pikiran sejak menonton film ini. Satu hal yang dapat diwakili dua kata: ruang hampa.
Dalam film tersebut, dikisahkan sinar matahari yang diterima Bumi terancam redup karena munculnya sebuah mikroorganisme asing (disebut astrophage) yang bertebaran di antara Matahari dan Venus. Mikroorganisme asing tersebut menjadi satu masalah besar karena mereka melipatgandakan diri dengan cara mengonsumsi energi matahari yang terpancar ke bumi. Celakanya, kalau mikroorganisme ini terus mengonsumsi cahaya matahari dan berkembang biak, intensitas cahaya matahari yang diterima bumi akan berkurang dan bumi akan menjadi dingin.
Ryland Grace (Ryan Gosling), seorang ahli molecular biologist, dikirim NASA ke luar angkasa untuk mengunjungi sebuah bintang bernama Tau Ceti yang juga diserang oleh mikroorganisme serupa. Ia ditugaskan untuk menyelidiki apa yang membuat Tau Ceti bisa bertahan menghadapi serangan si mikroorganisme.
Di sebuah adegan, Grace yang sedang dalam perjalanan ke Tau Ceti, keluar dari kapalnya mengenakan baju astronot untuk melakukan spacewalk. Namun, sewaktu melihat hamparan ruang kosong alam semesta di hadapannya, mendadak nyalinya ciut. Ruang hampa itu begitu menakutkan.
Ruang Hampa: Ada atau Tiada?
Gara-gara adegan tadi, ditambah membaca sebuah artikel tentang ruang hampa, saya jadi terpikir akan satu hal. Apa sebenarnya “ruang hampa” (space)? Apakah sebuah ‘keberadaan’ atau sebuah ‘ketiadaan?’ Dengan kata lain, ruang hampa itu ‘ada’ atau ‘tidak ada?’
Waktu saya bertanya ke Google dan AI, muncul dua pendapat. Ada yang mengatakan bahwa secara fisika ruang hampa ada karena di dalamnya terdapat partikel-partikel. Namun, jika divakumkan, maka ruang hampa akan menjadi sebuah ketiadaan. Akan tetapi, kalau ruang hampa adalah ‘sebuah ketiadaan,’ maka frasa ini pun adalah sebuah kontradiksi, karena ketiadaan tidak bisa disebut sebagai ‘sebuah’. Kalau ruang hampa adalah ketiadaan, maka ruang hampa hanyalah ‘sebuah’ voidness semata. A meaningless nothingness–kekosongan yang tidak punya arti, tidak punya makna apapun. Mengapa? Karena tidak ada makna apapun dari ‘sebuah’ ketiadaan. Ketiadaan adalah sebuah negasi (negation). Ketiadaan itu kosong akan makna, hampa akan arti. Sebaliknya, jika ruang hampa ada sebuah ‘keberadaan’, lalu apa sesungguhnya ruang hampa itu? Apa makna atas keberadaannya?
New City Catechism
New City Catechism mengajukan pertanyaan demikian di poin kelima: “What else did God create?” Apa lagi yang Allah ciptakan selain manusia? Dijawab oleh catechism tersebut: “God created all things by his powerful Word.” Selain menciptakan manusia, Allah juga menciptakan semuanya (dunia ini) dengan firman-Nya. Dan salah satu sifat ciptaan, termasuk alam semesta, adalah menyingkapkan diri Allah kepada manusia. Jadi, pada hakikatnya, alam semesta tidaklah hampa makna (devoid of meaning).
Menurut Mazmur 19:2, “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya.” Bagi seorang teolog dan penulis bernama John Calvin, dunia adalah the mirror of divinity. Dunia adalah cerminan atas keilahian-Nya. Lewat keindahan dunia ini, maka manusia bisa mengenal natur dan sifat Allah, yaitu keagungan, kekudusan, dan kuasa-Nya
Kalau semua hal di alam semesta ini, tanpa kecuali, adalah ciptaan, maka “ruang hampa” seharusnya juga adalah bagian dari ciptaan. Dan konsekuensinya, kalau ruang hampa juga adalah sebuah hasil ciptaan, maka ruang hampa juga adalah sebuah ‘keberadaan’. Ruang hampa juga adalah sebuah keberadaan yang positif (positive existence) yang muncul dari ketiadaan/ kenihilan (ex-nihilo).
Jadi, ruang hampa pada esensinya adalah sebuah ‘keberadaan’, bukan ‘ketiadaan’. Entah mengapa kata ‘keberadaan’ rasanya masih kurang tepat. Mungkin lebih tepat dikatakan bahwa ruang hampa adalah suatu ‘ke-ada-an’ (kondisi ‘ada’, existence). Dan kalau ruang hampa adalah sebuah ke-ada-an, maka berarti ruang hampa juga adalah sebuah bentuk pewahyuan akan diri Allah, akan sifat dan natur-Nya.
Dari sini muncul pertanyaan selanjutnya: apa yang bisa Allah wahyukan dari ruang hampa?
Twofold Knowledge
Seorang astrophysicist bernama Hugh Ross pernah menulis sebuah buku berjudul Why the Universe is the Way It is. Di bab kedua buku tersebut, ia membahas satu hal yang spesifik, yaitu tentang ruang hampa. Bab itu berjudul: Why Such a Vast Universe? Mengapa alam semesta begitu luas?
Bagian buku tersebut membukakan sebuah wawasan. Luasnya ruang hampa alam semesta ini (the vastness of the universe) menyingkapkan makna dan nilai dari keberadaan manusia lewat sebuah paradoks. Sewaktu manusia melihat dirinya sebagai sebuah bintik kecil yang tidak ada artinya di dalam luasnya kosmos, manusia entah mengapa bisa merasakan (sensing) akan insignifikansi keberadaan dirinya. Tetapi, di saat yang sama manusia juga bisa menyadari akan kebermaknaan dari keberadaan dirinya. Thus, a paradox.
Lewat keberadaan kosmos yang hampa, kita punya sense bahwa kita tidak berarti apa-apa. Namun, di saat yang sama, kita juga punya sense bahwa kita yang kecil ini memiliki arti. Intuisi primitif kita tidak bisa menerima begitu saja kalau kita hanya sekumpulan debu angkasa yang terbentuk menjadi organisme hidup. Di tengah-tengah insignifikansi manusia di alam semesta, kita bisa mendapatkan pengertian bahwa kita pasti lebih dari sekadar debu angkasa. Kita pasti punya makna. Kekosongan ruang hampa memaksa manusia mencari makna atas keberadaan dirinya itu.
Begini kalimat Ross di pembukaan bukunya, “That vastness says something about the high value of and high purposes for humanity’s existence. Rather than seeing ourselves as insignificant specks in the immensity of the cosmos, we can consider that immensity an indicator of our worth.”
Selain ruang hampa menyingkapkan mengenai natur manusia yang punya makna, alam semesta juga menyingkapkan satu hal lain, yaitu diri Allah sendiri. Dengan kata lain, alam semesta memberikan kita twofold knowledge atau pengetahuan ganda, yaitu mengenai diri manusia sendiri dan mengenai diri Allah. Seperti apa maksudnya?
Knowledge of God and Knowledge of Self
John Calvin membuka bukunya yang berjudul Institutes dengan tema Knowledge of God and Knowledge of Self. Kalau kita semakin mengenal siapa Allah, maka kita juga akan semakin mengenal siapa diri kita. Dan sebaliknya, semakin mengenal diri sendiri juga berarti semakin mengenal Allah. Jadi, apabila kita semakin mengerti kekudusan Allah, maka kita juga akan semakin mengerti diri kita sebagai seorang berdosa dan sebaliknya. Pengenalan ganda inilah yang disebut sebagai twofold knowledge.
Nah, alam semesta juga memberikan kita twofold knowledge. Selain menyingkapkan natur manusia, alam semesta juga menyingkapkan diri Allah. Tetapi, kembali ke pertanyaan awal, apa yang alam semesta singkapkan mengenai diri Allah?
Luasnya ruang hampa di alam semesta menyingkapkan sifat-sifat Allah yang manusia tidak bisa mengerti, yaitu ketidakterbatasan-Nya. His infinity. Dengan melihat luasnya ruang kosong di kosmos, manusia mendapatkan sebuah intuisi akan adanya suatu ketidakterbatasan yang melampaui dunia ruang dan waktu yang terbatas. Melalui ruang kosong alam semesta, esensi diri Allah yang tidak terbatas (misal: kekudusan-Nya, hikmat-Nya, kekekalan-Nya) yang tidak bisa diamati, tidak bisa diukur, tidak bisa diobservasi secara empiris, dan bahkan yang tidak bisa dipahami oleh logika manusia, tercerminkan melalui karya-Nya dan dapat dialami secara personal oleh manusia.
Dalam bahasa John Calvin di Institutes 1.5.1.: “The invisible and incomprehensible essence of God, to a certain extent, made visible in his works.” Allah mewahyukan ketidakterbatasan diri-Nya melalui alam, dan manusia bisa mengenal Allah lewat apa yang Allah ciptakan.
Kembali ke Project Hail Mary
Sewaktu Grace dengan baju astronotnya bersiap melakukan spacewalk, nyalinya ciut begitu melihat kekosongan ruang hampa di depannya. Dari perspektif ini, maka di momen tersebut Grace mendapatkan sebuah pengetahuan ganda akan dirinya dan akan Tuhan. Lewat ruang hampa, ia melihat kefanaan dan insignifikansi dirinya di alam semesta yang membuatnya takut. Sekaligus, ia dipaksa berpikir mengenai makna dan keberadaan dirinya di kosmos ini. Di momen itu juga, ia mendapatkan sebuah pengetahuan atau wahyu umum akan natur Tuhan yang tidak terbatas. Ia memiliki sense bahwa ada sesuatu di luar sana yang tidak terbatas, yang melampaui kesanggupan dia untuk memikirkannya.
Kalau disimpulkan: Allah memakai ruang hampa, yang secara fisik terbatas ini, untuk menyingkapkan ketidakterbatasan-Nya. Dan intuisi primitif manusia akan ketidakterbatasan Tuhan di dalam ruang fisik yang terbatas ini bukan hanya sebuah science-fiction, tapi sebuah realita yang dialami oleh kru Artemis II.
Kru Artemis II
Kiri ke kanan: Victor Glover, Reid Weisman, Jeremy Hansen, Christina Koch
Dari Sci-fi ke Realita: Dari Project Hail Mary ke Artemis II
Entah kebetulan atau tidak, beberapa film dirilis sangat dekat dengan peristiwa nyata. Tahun lalu, film Conclave dirilis dekat sekali dengan kepergian Pope Francis. Tahun ini, film Project Hail Mary dirilis dekat dengan diluncurkannya Artemis II.
Di misi Artemis II yang mengitari Bulan pada April 2026, salah seorang dari empat krunya, Reid Wiseman, terpukau akan kekosongan ruang hampa ketika berada di balik Bulan. Sebagai seorang non-religius, sewaktu berada di balik Bulan dan melihat luasnya kekosongan ruang hampa, akal budinya mengalami sebuah goncangan. Pikirannya tidak sanggup menampung dan memahami apa yang ia lihat di hadapannya.
Dikutip dari artikel BBC, “Wiseman described the moment the Sun passed behind the Moon–an eclipse seen from 250,000 miles away–as something that overwhelmed the capacity of the human mind.”*
Wiseman mendapati dirinya berada dalam ketakjuban akan ruang hampa yang melampaui kapasitas manusia untuk memahaminya. Di dalam ketidakmengertiannya itu, ia menghubungi seorang rohaniwan (chaplain) di sebuah kapal angkatan laut untuk mengekspresikan apa yang dia alami. Ketika bicara dengan rohaniwan itu, air matanya mengalir.
“I’m not really a religious person,” he said, “but there was just no other avenue for me to explain anything or to experience anything. So I asked for the chaplain on the Navy ship…and I broke down in tears.” *
Menurut Wiseman, manusia tidak siap atas apa yang ia lihat. Manusia belum sanggup mengerti ruang hampa yang ia lihat di hadapannya. Ada sesuatu yang betul-betul otherworldly di luar sana yang entah apa. Kata Wiseman, “I don’t think humanity has evolved to the point of being able to comprehend what we’re looking at right now, because it was otherworldly.”*
Seperti Ryland Grace di Project Hail Mary, Wiseman mengalami sebuah duplex cognitio (twofold knowledge of God and of self: Pengetahuan ganda akan diri sendiri dan Tuhan). Pertama, ia mendapati sebuah intuisi akan keterbatasan dirinya. Kedua, ia mendapati adanya suatu ketidakterbatasan di luar sana yang bisa ia rasakan tetapi tidak bisa ia pahami. Seperti halnya ketidakterbatasan Tuhan tidak bisa dipahami logika, Wiseman menangkap pewahyuan yang ia sendiri katakan sebagai otherworldly ini di luar nalarnya.
Seorang kru lainnya, Jeremy Hansen, memiliki pengalaman serupa. Ruang hampa membuatnya terpukau. Ada sebuah kekaguman secara visual. Ia terpukau atas luasnya ruang angkasa. Sebuah artikel BBC menuliskannya demikian: “Beyond the emotional weight, there was sheer visual wonder. Hansen found himself transfixed by the depth of space, as though seeing it for the first time. “We just saw so many amazing things,” he said. “I kept seeing this depth to the galaxy that I just had never experienced before.”
Kesimpulan
Pada akhirnya, kekosongan ruang hampa bukanlah sebuah ketiadaan, melainkan sebuah ‘ke-ada- an.’ Melalui ruang hampa, manusia mendapatkan twofold knowledge–pengetahuan ganda akan dirinya sendiri dan akan Tuhan. Manusia mendapati pemahaman akan keterbatasan dan kefanaan dirinya dan manusia juga mendapatkan pemahaman akan adanya sesuatu di luar sana yang melampaui dunia ruang dan waktu yang terbatas ini, yaitu sifat dan natur Allah, ketidakterbatasan-Nya. Melalui ruang hampa, Allah menyingkapkan ketidakterbatasan diri-Nya melalui keterbatasan.
Fun Fact

- Tahukah Anda bahwa Brian May, gitarisnya Queen, punya gelar PhD di bidang astrophysics? Kalau biasanya melihat Brian May ber-rock n’ roll di atas panggung, susah dicerna kalau Brian May yang sama berbicara panjang lebar tentang alam semesta di Oxford: https://www.youtube.com/watch?v=6nISwx3VbRA
- Victor Glover, pilot dari misi Artemis II, adalah seorang guru sekolah minggu.
Tentang penulis:
Pernah berkecimpung sebagai konsultan perdagangan internasional, penggemar film, pengajar, pembelajar teologi.
*) https://www.bbc.com/news/articles/ce8jpz9rx2yo



