Kala Saya Berdamai dengan Papa

Author: Jeanne Pattisina R.

Sejak kecil saya sangat dekat dengan Papa, bahkan bisa dibilang yang paling dekat. Saya hanya dua bersaudara, saya dan adik perempuan yang 10 tahun lebih muda. Saking dekatnya dengan Papa, Papa-lah yang pertama kali mengajari saya bagaimana membuat pisang goreng! Saya juga sering mengikuti Papa ke kebun, dan kami berdua sering menyiram pohon-pohon di sana waktu musim kemarau mengganas. Papa menjemput saya setiap malam waktu saya mulai ikut masa “plonco” alias masa perkenalan mahasiswa baru. Papa juga yang mengajari saya menyetir mobil saat saya masih kelas 3 SMP.

Namun, ada satu masa lain yang tidak bisa saya lupakan. Papa-lah yang datang jauh-jauh dari Manado ke Jakarta untuk menemani saya dan anak-anak waktu suami saya meninggal. Saya berusia 35 tahun kala itu, dengan dua anak berusia 9 dan 5 tahun. Di hari yang paling kelam dalam hidup itu, Papa memberikan satu ayat Alkitab, yaitu Mazmur 68:6. “Bapa bagi anak yatim dan Pelindung bagi para janda, itulah Allah di kediaman-Nya yang kudus.”

Ayat ini berulang kali menjadi penolong saat membesarkan kedua anak saya. Dalam menghadapi masalah-masalah yang tiap hari ada saja, sering saya berkata kepada diri sendiri dengan suara keras: Bapa bagi anak yatim dan penolong bagi para janda, itulah Allah di kediaman-Nya yang kudus. Allah adalah Bapa dan Penolong yang setia, masalah diubah menjadi berkat sesuai kehendak-Nya. Tidak ada yang mustahil bagi Dia.

 

Saat Saya Berselisih dengan Papa

Pada 1988,  Mama  meninggal. Empat belas tahun kemudian, tiba-tiba Papa ingin menikah lagi. Papa berusia 77 tahun ketika itu. Saya sebenarnya tidak masalah, saya mengerti Papa tentu kesepian. Tetapi pilihannya adalah seorang perempuan yang berusia sekitar 30 tahun, terlalu muda menurut pendapat saya dan adik saya. Satu hal yang lucu, ia memanggil kami dengan sebutan “tante”, karena usia kami memang terpaut jauh. Saat itu saya berusia 53 tahun dan adik saya 43 tahun. 

Saya mengusulkan agar Papa menikah dengan seorang pendeta wanita yang suaminya sudah meninggal. Sang pendeta tersebut berusia sekitar 50 tahun, sehat, kalem, berparas cukup cantik, dan mempunyai seorang anak remaja. Namun, Papa langsung menentang.

“Yang akan menikah adalah saya. Saya yang berhak memilih. Waktu kalian menikah, saya kan tidak mengatur-atur, kalian pilih sendiri.”  

Saya membalas tidak mau kalah, “Papa mau setelah Papa menikah, keluarga Papa punya hubungan baik dengan kami atau tidak?”

Dari kecil Papa sering meluluskan permintaan saya. Namun rupanya kali ini tidak. Papa sangat mantap dengan kemauannya. Kami mulai berselisih dan saling mengancam.

Akhirnya Papa menentukan sendiri hari pernikahannya dan kami memutuskan untuk tidak hadir. Kami juga mengajak saudara-saudara kami yang lain untuk tidak hadir. Namun, mereka tetap melangsungkan pernikahan. Papa kemudian membeli rumah dan mereka berdua tinggal di sana. Sejak itu, saya sangat kecewa dengan Papa. Sering kali saya mengomel sendiri di kamar sebelum tidur. Saya kehilangan rasa damai. Saya tetap ke gereja, tetap berdoa, tetap baca Alkitab. Tapi saya tetap tidak bisa menerima keputusan Papa. Kami tidak bertemu beberapa bulan, sampai saya berangkat ke Jakarta untuk mendampingi anak-anak. 

Kedua anak saya sudah tamat sarjana. Anak yang sulung baru mulai bekerja, dan  yang bungsu sedang mencari pekerjaan. Masa itu cukup berat bagi kami. Tapi Allah setia, Dia adalah Bapa dan Penolong yang tidak pernah meninggalkan ataupun membiarkan kami bertiga. Masalah datang silih berganti, tapi semua kendali ada dalam tangan Tuhan.

 

Khotbah Berulang Soal Pengampunan

Suatu saat saya harus ke Manado untuk satu urusan. Rencananya saya akan berada di sana selama satu-dua minggu. Sebelum berangkat, tema khotbah hari Minggu di gereja saya adalah tentang “Pengampunan”. Saat itu saya merasa agak risih mendengarkan khotbah, karena membuat saya teringat Papa. Namun, saya pikir khotbah itu belum waktunya untuk saya. Saya berusaha menunda memikirkannya.

Anehnya, dalam kebaktian keluarga Rabu malam sebelum saya berangkat, khotbah dengan tema serupa kembali mengisi renungan ibadah: pengampunan dan perdamaian. Saat menaikkan Doa Bapa Kami bersama-sama, kalimat ini membuat saya terdiam: “Ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni mereka yang bersalah kepada kami.” 

Saya pun tiba di Manado dan tinggal bersama adik saya di rumah kami yang lama, yaitu rumah orang tua saya. Papa tinggal di rumahnya di area lain yang cukup jauh. Saya berusaha menyibukkan diri dengan urusan saya. Namun, khotbah dengan tema yang sama, yakni tentang pengampunan, kembali menyambut saya di Manado, baik di gereja, maupun ibadah di rumah. Saya akhirnya mulai merasa bahwa khotbah itu memang ditujukan untuk saya. Tidak mungkin suatu kebetulan, karena sudah terjadi berulang-ulang.

Saat itu ada ayat yang kembali mengagetkan saya, yaitu Matius 6:14-15: “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.”

Saya sudah sering mendengar ayat ini, tapi sekarang rasanya lebih mengena di hati. Saya membacanya berulang-ulang, pelan-pelan. Dengan sedih, saya pun berdoa mohon kemampuan dari Tuhan untuk mengampuni. Saya merasa memang perlu berdamai dengan Papa.

Pada hari ketiga saya di Manado, sekitar pukul empat sore, mobil putih Papa berhenti di depan rumah. Papa turun seorang diri. Supir membuka pintu pagar dan Papa berjalan perlahan. Di rumah ada adik saya, suaminya, dan saya. Papa masuk melalui pintu samping yang terbuka. Adik dan ipar saya langsung menjemputnya. Sementara saya? Diam, duduk, dan hanya mengikutinya dengan pandangan mata saya. Papa terus berjalan, tidak melihat ke arah saya, tidak duduk, dan langsung berjalan ke arah pintu depan. Papa berpesan sesuatu ke adik saya, dan langsung kembali ke mobil.

Saya langsung sadar bahwa Papa tidak mau berlama-lama, tidak mau duduk, dan jalan terus untuk pulang. Saya langsung berdiri dan mengikutinya dari belakang. Tapi Papa sudah naik mobil dan pulang.

Papa sudah terlihat tua. Sudah kira-kira tiga tahun saya tidak bertemu dengannya. Jalannya sudah lambat, bicaranya makin perlahan, kulit di tangan dan muka sudah makin keriput. Dia yang dulunya gagah, kini di usianya yang sekitar 80 tahun, terlihat sudah sepuh. Malam itu saya diam-diam menangis di kamar saya. Mengapa saya tidak cepat berdiri dan menyambutnya? Mengapa saya begitu keras kepala? Mengapa saya tidak mengampuni? Mengapa saya tidak mencari damai dengan Papa, yang sebenarnya sangat sayang kepada saya?

Saya mulai sadar bahwa kemungkinan besar kedatangannya sore itu karena dia mendengar saya ada di rumah adik saya. Seseorang mungkin telah meneleponnya.

Malam itu saya berdoa: “Bapa di sorga… Ampuni saya, ampuni kekerasan hati saya, ampuni kesombongan saya, ampuni keangkuhan saya, ampuni saya yang merasa benar sendiri. Tolong, Tuhan, supaya saya punya kesempatan lagi untuk bertemu dengan Papa. Saya mau berdamai dengan Papa. Tuhan, tolong berikan saya kesempatan satu kali lagi.”

 

Waktu Saya Berdamai dengan Papa 

Beberapa hari kemudian, sekitar pukul 10 pagi, saya sedang sendirian di rumah. Adik saya dan suaminya sudah pergi ke kantor. Anak mereka sudah berangkat ke sekolah. Saya sedang duduk membaca di ruang tamu.

Tiba-tiba saya melihat mobil putih Papa memelan dan berhenti di depan pintu pagar. Supir membuka pintu, dan Papa kemudian turun. Saya segera berdiri, membuka pintu, dan berjalan ke teras. Papa berjalan masuk dan bertanya tentang adik saya.

Saya diam, dan berbicara perlahan, sangat perlahan, “Papa…saya tidak mau lagi marah-marah ke Papa…”

Hanya itu yang saya katakan. Saya tidak sanggup berbicara lagi saat itu. Papa langsung berhenti berjalan, dan berkata dengan suara yang juga perlahan, “Ya…harus begitu… Memang harus begitu…”  

Papa terdiam dan kemudian duduk. Dia bertanya, “Kamu tiga semua sehat?” Tentu maksudnya saya dan anak-anak saya.

Saya merasa beban di dada saya seketika lenyap. Tidak banyak kata-kata. Tidak ada basa-basi. Tidak ada perdebatan. Saya tidak lagi memikirkan siapa benar dan siapa salah. Saya hanya ingin berdamai. Saya tidak mau lagi pertengkaran. Toh setiap orang menanggung hidupnya sendiri. Toh saya di Jakarta tidak bisa mengurus Papa di hari tuanya di Manado. Toh saya juga banyak salahnya, baik yang saya sadari maupun tidak.

Saya menawarkan Papa kopi, yang langsung diterimanya, seperti yang biasa saya lakukan bertahun-tahun lalu. Secangkir kopi dengan susu kental manis kesukaannya. Ini menjadi pertanda damai sudah hadir. Terima kasih, Tuhan. Begitu cepat Tuhan menjawab doa saya.

Semenjak malam itu, kebiasaan saya mengomel tentang Papa sebelum tidur langsung lenyap. Saya mulai tidur dengan lega dan lelap. Saya tidak habis-habisnya bersyukur. Damai memberi kelegaan. Damai yang mengalir dari Golgota. Terima kasih, Tuhan!!

Papa meninggal dengan damai pada 2009 dalam usia 84 tahun. Kami masih sempat menikmati sekitar lima tahun yang  damai. Beruntung sudah ada telepon dan telepon genggam yang memudahkan komunikasi. Sebelum meninggal, Papa menyuruh adik saya untuk memanggil saya. Saya langsung membeli tiket pulang. Sayang, saya tidak sempat bertemu dengannya di jam terakhir hidupnya. Kami–adik saya, suami dan anaknya; saya dan anak perempuan saya (anak laki-laki datang beberapa hari kemudian)–bersama istri Papa, dan keluarga besar, menghantarkan Papa ke tempat peristirahatan terakhir.

Saya sungguh bersyukur saya masih sempat berdamai dengan Papa, dan mempunyai beberapa tahun kesempatan untuk berkomunikasi lagi dengannya. Tidak terbayang betapa menyesalnya saya jika saya tidak sempat berdamai dengan Papa.

 

***