Dua Jalan…Mana Kau Pilih?

“Di dalam dunia ada dua jalan, lebar dan sempit, mana kau pilih?

Yang lebar api jiwamu mati, tapi yang sempit jiwa ber-glori/ Tuhan berkati.”

Lagu anak-anak ini mungkin langsung mengingatkan kita – dan pernah kita nyanyikan bersama-sama – saat dulu di Sekolah Minggu. Namun, saat saya menyanyikannya dulu dan sekarang, ternyata pemahamannya sungguh sangat berbeda.

Waktu kecil saya bayangkan bahwa benar-benar ada jalan yang harus dijalani orang Kristen dalam arti fisik. Jalan itu kemudian ada percabangannya menjadi dua jalan: satu jalan yang lebar menuju api neraka dan satu jalan sempit yang nantinya ternyata kinclong (maaf ya laoshi2-ku :p) karena ada surga di ujungnya.

Mengapa tiba-tiba saya teringat lagu ini? Karena kebetulan di awal Juli 2026, kami sekeluarga melakukan liburan berupa road trip ke Jawa Tengah, tepatnya ke Dieng dan

Magelang. Perjalanan cukup panjang ini, walau sebagian besar melalui tol, juga harus melalui jalan biasa yang menanjak, berkelok, turunan, tikungan tajam bahkan melewati tanjakan Sikarim yang terkenal ekstrem dan sering menyebabkan mobil mogok/kecelakaan. Jadi rubrik ini sebenarnya gabungan Serpihan Perjalanan dan Corner Kick.

Berbekal informasi dari teman gereja, data dari Google, ChatGPT, Instagram dan segala informasi internet lainnya, menyetir dan berliburlah kami ke Dieng selama tiga hari. Dan sesuai ChatGPT, kota terdekat dari Dieng adalah Magelang, dimana di sekitarnya cukup banyak objek wisata lain selain Candi Borobudur.

Di sana, antara lain, ada rumah doa Bukit Rhema (Gereja Ayam) yang jadi salah satu lokasi syuting film AADC 2, spot foto Silancur, lalu ada Nepal van Java dan juga Negeri Sayur Suka Makmur. Nepal van Java adalah julukan Dusun Butuh yang panoramik di lereng Gunung Sumbing. Intermezzo sedikit, sebagai generasi tahun pertama Gen-Y yang sudah lama bekerja di perusahaan AI dan Tech Startups, saya sangat terbiasa dengan apa yang namanya ChatGPT, Gemini AI, Claude AI dan segala sesuatu yang berhubungan dengan AI dan teknologi, khususnya saat ini menyangkut motor listrik kekinian. Namun Tuhan sungguh mengajarkan suatu pelajaran berharga yang berada diluar semua teknologi tersebut.

Singkat cerita, setelah turun dari Dieng, kami menginap di Magelang. Hari selanjutnya dengan mobil pribadi kami meluncur ke Silancur yang jalannya cukup berkelok-kelok tapi kondisinya masih cukup bagus.

Berhenti sebentar, kami mencari informasi kondisi jalan lokasi berikutnya melalui ChatGPT tentang Nepal van Java. Jawabannya: ”Oh jangan kuatir, dengan mobil kamu, apalagi kamu sudah sampai di Silancur. Artinya kemampuan mengemudimu sudah sangat baik. Jalanan ke Nepal van Java pun rusak hanya di tahun 2024. Tanjakannya pun tidak se-ekstrim tanjakan Dieng. Sekarang kamu bisa berkendara dengan santai dan aman.”

Berbekal insting dan waspada di dunia bisnis dan pekerjaan, saya tidak langsung percaya. Saya coba tanya seorang Mbak di warung. Jawabannya, ”Oh jalannya susah pak, mending naik jeep.” Hmmm…masa sih? (saya masih percaya ChatGPT walau mulai muncul rasa ragu).

Jadi saya tanya lagi pada petugas parkir di Silancur. Jawabannya, ”Oh, jalannya rusak dan sempit, mending naik jeep pak.” Loh kok? Pikiran iseng saya, “Akh, mungkin dia kerja sama dengan penyewaan jeep, dapat komisi kali, sewanya pasti mahal pula.”

Makin ragu juga sih sebenarnya. Tapi, akhirnya kami tancap lah dengan mobil pribadi ke arah Nepal van Java.

Tidak disangka, saat kami melaju di jalan sempit, mobil pribadi kami berpapasan dengan sebuah jeep yang baru turun dari Nepal van Java. Istri saya langsung mengenali Yoas dan keluarganya di jeep itu. Mereka adalah jemaat GKY BSD dan kami kenal di program GKGW.

Langsung kami tanya kondisi jalan di depan. Yoas pun menjawab, ”Wah, pake mobil ini hati-hati, tanjakannya ekstrem dan jalan rusak.” Supir jeepnya memberi komentar senada, ”Pelan-pelan pak, hati-hati, mending pake jeep.” (Saya mulai percaya karena informasinya dari orang-orang yang saya percaya…) Begitu melihat kantor Base Camp Pendaki, spontan saya belok dan mencari info untuk menyewa jeep; untungnya ada walau harus menunggu 30 menit.

Sentilan Tuhan nyata adanya. Gusti mboten sare. Tuhan terus berupaya berbicara. Pemikiran saya dan istri sama: Tuhan kirim angels beberapa kali untuk mengingatkan kalau jalan di depan “berbahaya” dan “berbatu”. Ibarat “satelit”, Tuhan tahu jalan di depan dan lebih tahu segalanya, lebih dari sekedar ChatGPT-mu, “Dengarkan Aku.”

Ini mobil yang membawa Yoas dan keluarganya, dimana kami berpapasan di jalan sempit di tanjakan Nepal van Java.

Akhirnya, sebuah jeep merah (pengeluaran extra deh, hiks…pikirku dalam hati…) membawa kami ke arah tempat wisata Nepal van Java. Kurang lebih begini situasi jalan yang berhasil saya abadikan (mungkin tidak terlihat jelas, tapi jalannya memang berbatu, rusak, menanjak, dan sempit):

Spontan saya komplain pada ChatGPT perihal jalan yang berbatu, menanjak, dan sempit. Bahkan infonya jeep pun harus dimodifikasi dengan penggerak 4×4, dan sulit kalau ditempuh dengan mobil biasa. Jawaban ChatGPT: “Oh kamu benar, sepertinya memang kondisi jalan tidak memungkinkan, memang hal itu bergantung pada kondisi jalan setempat ya, hati-hati berkendara.” (Pikiran saya: “$%#@$%@#” :p. Ternyata kita tidak bisa percaya sepenuhnya pada teknologi, percaya Tuhan saja).

Bersama keluarga saat beribadah di GKI Pajajaran, Magelang.

Jalan yang ada di depan memang kita tidak tahu sepenuhnya. Mungkin ada dua jalan dan mana yang kau pilih? Tuhanlah yang maha tahu: jalan bisa jadi berbatu, menanjak, berkelok, menurun, dan sebagainya. Setiap kita pasti ada kepekaan yang berbeda-beda. Tuhan mungkin menguji, “mencubit” kita atau menghadiahkan Corner Kick alias “tendangan sudut” yang berbeda-beda.

Seperti ada ayat: “Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.” (Amsal 14:12). Benar bahwa “…lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya.” (Matius 7:13).

Tuhan mau agar kita makin tekun berdoa, terus bersandar dan membangun komunikasi karena Dia mau berbicara dengan kita. Apakah kita bersedia untuk belajar lebih peka, belajar untuk makin mampu mendengar suara-Nya, dan bersedia mengikuti pimpinan-Nya?