Sekolah-sekolah di Lagos, ibu kota Nigeria di Afrika bagian Barat, baru bubar pukul 14.30. Itu sebabnya, sekolah harus menyediakan makan siang bagi siswa-siswinya. Salah satu sekolah di sana menyajikan olahan Indomie sekali dalam seminggu. Ya, merek mie instan yang sama dengan yang kita kenal di Indonesia dengan tagline “Indomie Seleraku” itu.
Begitu hari Indomie tiba, semua murid menyambut dengan sangat antusias. Dan hampir semua minta tambah karena itu menu favorit mereka. Pihak sekolah pun tekor dan akhirnya menu Indomie terpaksa dihapus dari daftar menu.
Itulah kisah kecil yang dibagikan oleh Irwan Gondosari, sobat lama GKY BSD yang sudah 14 tahun menjadi salah satu kontributor di balik keberhasilan Indomie menguasai pasar di Nigeria dan Ghana. Dialah yang bertanggung jawab memastikan produksi di pabrik Indomie di sana berjalan lancar hingga dapat memenuhi permintaan yang terus melonjak.
Saat ini Indomie menguasai 70-80 persen pangsa pasar di negara berpenduduk sekitar 230 juta jiwa tersebut. Sejak awal, Indomie memang diposisikan sebagai produk lokal. Saking populernya, Indomie bahkan sudah dianggap sebagai makanan nasional asli Nigeria selain umbi-umbian dan kacang-kacangan.
Tokoh kunci
Bersama redaktur Nafiri Anton Utomo dan Titus Jonathan, penulis mendapatkan kesempatan langka untuk mengulik perjalanan karir Irwan Gondosari yang sejak 2012 nekad memboyong keluarganya ke Lagos. Pria kelahiran Padang, Sumatera Barat, ini bergabung dengan Dufil Prima Foods Ltd., perusahaan joint venture antara PT Indofood CBP Sukses Makmur dan Grup Tolaram dari Singapura yang memproduksi Indomie di sana.
Irwan diangkat menjadi Factory Manager dan kemudian merangkap sebagai Head of Technical Training, tokoh kunci yang memastikan kelancaran produksi Indomie di pabrik-pabrik yang sudah didirikan di sana. Posisinya sekarang makin sentral: Head of Projects.


Ketika bertemu dengan Irwan dan istrinya, Marwati, yang sedang berkunjung ke Serpong pada Desember lalu, kami bertiga langsung memberondong Irwan dengan pertanyaan.
Catatan: Kalau Anda ingin tahu lebih banyak tentang keberhasilan Indomie di Nigeria, silakan googling atau buka YouTube. Banyak bahasan dan tayangan menarik tentang keberhasilan Indomie menguasai pasar Nigeria dan negara-negara lain di Afrika. Saat ini, berpuluh-puluh unit mesin Indomie sudah tersebar di berbagai negara di dunia termasuk di tujuh negara Afrika.
Indomie adalah brand asli Indonesia yang paling sukses menembus pasar global dan sudah masuk ke 100 negara. Indomie, menurut seorang pengamat, sudah menguasai seperempat pasar mie instan di dunia.
Belahan jiwa
Namun, bukan angka dan pencapaian Indomie yang akan kita bahas di sini. Kita akan fokus pada sosok Irwan dan keluarganya, bagaimana dia terus bersandar pada Tuhan dan tidak lupa diri ketika Tuhan memberi tanggung jawab lebih besar dalam hidupnya. Juga bagaimana dia menyiapkan keluarganya sebaik-baiknya supaya taat dan siap ketika kesempatan dibukakan oleh-Nya.
Setelah lulus dari jurusan Teknik Mesin di Institut Teknologi Bandung pada 1991, pria yang lembut tutur katanya ini bergabung dengan Indofood. Dia ditempatkan di pabrik Indomie di Daan Mogot, Jakarta Barat, untuk mengurusi mesin-mesin produksi.


Walaupun cukup sibuk, dia masih sempat lirak-lirik dan akhirnya menemukan belahan jiwa di kantornya, Marwati, akuntan asal Pontianak lulusan UKRIDA. Mereka menikah di 1995 dan dikaruniai dua putri: Anastasia (1996) dan Monalisa (1999).
Irwan dan keluarganya tinggal di Villa Melati Mas dan beribadah di GKY BSD, di masa-masa awal gereja berdiri. Irwan dan Marwati adalah aktivis dalam pelayanan di lingkungan gereja dan bagian dari Kelompok Pekerja Pos (sekarang disebut majelis) sejak 1997. Selain bersama-sama melayani sebagai usher, Irwan juga aktif mengajar Bahasa Inggris melalui program Peduli Anak Serpong (PAS), sementara Marwati yang supel aktif membina relasi dengan banyak kaum wanita di gereja.
Kinerja Irwan di pabrik sangat prima sehingga pada 1997 dia dipromosikan menjadi manajer produksi di kantor Indofood di Ancol, Jakarta Utara. Sambil bekerja, Irwan masih menyempatkan melanjutkan studi di Magister Manajemen di Universitas Trisakti yang diselesaikannya pada 2000.
Pada masa Irwan bergabung di Indofood, perusahaan ini mulai melakukan ekspansi ke negara lain. Irwan pun tertarik, berharap suatu saat bisa berkarya di luar negeri.
“Ya, bayangan saya ingin anak kuliah di luar negeri seperti Singapura,” kenang pria kalem ini.
Dia tidak sekadar berangan-angan tanpa mengambil langkah nyata. Irwan dan Marwati secara serius mempersiapkan Tasia dan Mona, kedua putri mereka, sambil terus melihat peluang yang terbuka.
Ada lima prioritas yang diterapkan pada putri-putrinya sejak dini: baca Alkitab atau saat teduh, belajar alat musik, olahraga, Bahasa Inggris, dan mengerjakan tugas-tugas sekolah sebaik-baiknya.
“Di malam hari kami ada family altar. Saya dan Marwati menjelaskan kalau ada bagian-bagian Alkitab yang mereka kurang mengerti,” ujar Irwan. Karena sudah dilakukan secara reguler, “Ketika Tasia masuk SMP, dia sudah bisa disiplin melakukan renungan di pagi hari.”
Mereka juga meminta rekannya, Kwee Pao Tjoe, untuk mengajari Tasia dan Mona memainkan piano untuk menempa kedisiplinan. Kakak-beradik ini juga belajar renang, bersepeda, dan bulutangkis. Supaya lebih fasih berbahasa Inggris, setiap hari mereka membaca koran The Jakarta Post lalu membahasnya bersama papinya. Setahun sebelum bertolak ke Nigeria, kemampuan bahasa Inggris mereka diasah oleh Djenny Tanius, seorang guru Bahasa Inggris yang juga jemaat GKY BSD.
Dengan membekali anak-anak dalam hal spiritual dan keterampilan, Irwan dan Marwati merasa lebih tenang kalau mereka memasuki tahap-tahap usia yang makin dewasa nanti. “Tenang hati kami kalau iman mereka sudah semakin bertumbuh. Bentengnya sudah terbangun.”
Lowongan di Nigeria
Saat berkantor di Ancol, Irwan bertanggung jawab atas operasional beberapa pabrik Indomie, termasuk yang ada di Cibitung, Bekasi. Pada 2011, ketika melakukan inspeksi di sana, salah satu pimpinan memberi informasi kalau ada lowongan sebagai pimpinan di salah satu pabrik Indomie di Nigeria.
Indofood, melalui perusahaan patungan Dufil, sudah mempunyai pabrik di Nigeria sejak 1996. Permintaan pasar yang terus melonjak juga telah direspons Dufil dengan membangun pabrik mie ketiga yang fully automated. Dufil juga telah membangun pabrik kemasan dan bumbu yang khusus untuk memenuhi selera masyarakat di sana. Pabrik-pabrik itu ada di Ota, Port Harcourt, Kaduna, dan Aba.
Irwan langsung tertarik untuk melamar. Namun, keluarga tetap nomor satu. “Saya bahas dengan Marwati. Setelah mempertimbangkan banyak hal, istri pun mendukung.”
“Kenapa ke Nigeria sih, Pi?” Begitu respons Tasia yang saat itu masih duduk di kelas 1 SMA. Irwan dan Marwati memberi waktu pada Tasia untuk menimbang-nimbang. Mereka terus membina komunikasi dengan Tasia dan Mona agar lebih mengenal Nigeria. “Ya negara dekat Afrika Selatan yang jadi tuan rumah Piala Dunia Sepakbola tahun 2010,” ujar Irwan mengajari Tasia kalau ada kawan-kawannya yang ingin tahu.
“Baru tiga bulan kemudian Tasia bilang, ‘Oke Pi. Silakan lamar.’” Mona yang lebih kecil memilih untuk ikut pilihan kakaknya.
Tasia bahkan sudah melakukan riset tentang sekolah di Lagos kalau papinya diterima bekerja di sana.
Irwan pun mengirimkan lamaran yang langsung disambut sangat positif. Dia diterima sebagai Factory Manager dan kemudian merangkap Head of Technical Training. “Kami bahkan harus mempercepat waktu keberangkatan keluarga agar Tasia bisa segera masuk sekolah (SMA) di sana.”
Persiapan intensif yang telah dilakukan terbukti sangat bermanfaat. “Tasia hanya butuh tiga bulan untuk menyesuaikan diri, sedangkan Mona perlu waktu hingga enam bulan sebelum semuanya lancar.”
Bekal rohani
Tasia melanjutkan studi dan lulus di bidang kimia di Inggris sedangkan Mona lulus dari Teknik Sipil, juga di Inggris. Mereka berdua sekarang berkarier di sana.
Bekal pembinaan rohani yang sudah dilakukan sejak kecil membuat mereka terus bersandar pada Tuhan walaupun jauh dari orang tuanya. Sesuai arahan Irwan dan Marwati, mereka bergabung dalam persekutuan/organisasi Kristen. Tasia pun bertemu dan akhirnya menikah dengan Benjamin Sothmann, pria berkebangsaan Inggris. Saat ini Mona juga sedang membina hubungan serius dengan pria asal Inggris.
Irwan dan Marwati juga aktif dalam pelayanan. “Saya terinspirasi oleh atasan saya waktu di Indofood di Jakarta. Dia aktif melayani Tuhan dan khotbah di mana-mana setelah pensiun.”


Irwan tidak menunggu hingga pensiun. Sejak 2019 dia bersama 5-6 rekan senior di Leadership Team di Logos Christian Fellowship bergantian sebagai worship leader dan berkhotbah bagi 50-70 jemaat. Salah satu rekannya adalah doktor teologi asal Sierra Leone. Dia aktif mendampingi Irwan dan kawan-kawan agar makin terlatih berkhotbah.
“Awalnya saya sempat menolak karena kesibukan dalam pekerjaan. Tapi akhirnya saya terima setelah mendoakan, karena ada kesempatan mempersiapkan khotbah untuk jabatan yang baru. Dengan berjalannya waktu, Tuhan makin memperlengkapi saya,” ujar Irwan. Penugasan ini membuat Irwan makin intensif mendalami Firman Tuhan.
Marwati yang fasih berbahasa Mandarin aktif membina relasi dengan ibu-ibu asal Hong Kong, Taiwan, China, dan negara lain yang juga mendampingi suami bekerja di Lagos. Dia banyak mendampingi mereka untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi di Nigeria.
Tampaknya, Irwan dan Marwati menyadari panggilan mereka untuk selalu melayani di manapun mereka tinggal, sehingga di negeri yang jauh pun mereka ikut membangun komunitas Kristen untuk berbagi dan saling menguatkan.
Mendengar cerita Irwan dan Marwati, bisa dikatakan bahwa mereka adalah contoh keluarga yang sangat teguh dalam mengambil keputusan dan bertindak. Rasanya tidak banyak orang yang berani migrasi sekeluarga ke negeri yang jauh, apalagi ke negara di benua Afrika. Tetapi Irwan melangkah dengan hati teguh karena ia –ditopang oleh istri dan anak-anaknya– selalu mengandalkan Tuhan untuk memberi arah dan memimpin perjalanan hidupnya.
Mereka berjuang dan tidak takut gagal, karena keyakinan bahwa tangan Tuhan selalu menopang dan tidak pernah melepaskan, sesuai dengan janji firman-Nya.
“Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya. Percayalah kepada TUHAN selama-lamanya, sebab TUHAN ALLAH adalah gunung batu yang kekal.” (Yesaya 26:3-4)
***
| BIODATA | ||
| Nama Lengkap | Irwan Gondosari | |
| Tempat & Tahun Lahir | Padang, 1966 | |
| Nama Istri | Marwati | |
| Nama Anak | 1. Anastasia Gondosari | |
| 2. Monalisa Gondosari | ||
| Riwayat Pendidikan | ||
| SD | Katolik Andreas Padang | |
| SMP | Katolik Yos Sudarso Padang | |
| SMA | Negeri 2 Padang | |
| Perguruan Tinggi | S1 ITB Bandung | |
| S2 Magister Management Trisakti | ||
| Riwayat Pekerjaan/Karir | ||
| Perusahaan | Lokasi | Periode |
| Prod & Teknik Spv, PT Sarimi Asli Jaya | Jln Daan Mogot Tangerang | Thn 1991 – 1997 |
| Prod & Teknik Mgr, PT Indofood Sukses Makmur | Jln Lodan Ancol | Thn 1998-2007 |
| Penugasan sbg Factory Mgr di Pabrik Luar Negeri | Shanghai, China | Thn 2000 (6 bulan) |
| Operation Development, PT Indofood CBP Sukses Makmur | Jln Lodan Ancol | Thn 2008-2011 |
| Penugasan sbg Kepala Team utk setting mesin dan training di pabrik baru di Luar Negeri | Mesir | Thn 2009 (3 bulan) |
| Factory Mgr, Dufil Prima Foods Ltd | Nigeria | Thn 2012-2017 |
| Factory Mgr, De United Foods Ghana Ltd | Ghana | Thn 2018-2019 |
| Head of Projects | Nigeria | 2019- sekarang |
| Riwayat Pelayanan | ||
| KPP Sarana & Prasarana | GKJMB BSD | Thn 2000 –2003 |
| Majelis Sarana & Prasarana | GKY BSD | Thn 2003-2009 |
| Mengajar B.Inggris PAS | GKY BSD | Thn 2009-2011 |
| Usher | GKY BSD |





No Comment! Be the first one.