“Dhuarrr!”
“Jas ujan! Jas ujan! Bisa bayar pakai QRIS! Biar nggak kehujanan. Ayo, siapa lagi, boleh…boleehh…”
“Ojek! Ojek!”
Teriakan tukang ojek dan tukang jas hujan bersahut-sahutan di tengah suara hujan dan guntur yang sesekali menggelegar.
Trak! Trek! Trak!
Derap langkah kaki yang menuruni tangga besi stasiun kereta seakan tak mau kalah menghiasi Rabu pagi. Sudah hampir sepekan hujan rutin turun di pagi dan sore hari. Nampak beberapa orang menunggu bus Transjakarta atau ojek online di bawah tangga dekat jembatan penyeberangan dan halte bus sambil bergumam kesal, ”Uh, hujan melulu! Susah nih dapet ojek! Bisa telat lagi ini.”
Hari itu, saya hadir di dekat halte tersebut. Cuaca memang tidak mendukung untuk bepergian; hujan deras dan becek di mana-mana. Dingin-dingin begini ingin rasanya kembali ke dalam selimut…hahaha.. Namun, tugas menanti. Menjelang libur Lebaran kerjaan menumpuk, berbagai persoalan datang bertubi-tubi. Harus cepat diselesaikan biar hari libur bisa tenang. Saya yakin itu yang diinginkan semua orang. Sayangnya, menjelang libur panjang, beban pekerjaan terasa menggunung dan semua harus selesai sebelum Lebaran.


♫♬ Ngiiik…ngoookk…♫♬
Di tengah lamunan, sayup-sayup terdengar nada-nada biola yang cukup merdu dari halte Transjakarta Palmerah. Tanpa sadar saya ikut bersenandung:
♫♬♪♩ Persembahan kami, sedikit sekali.
Kiranya Tuhan t’rimalah, persembahan kami…♬♫♪♩
Penasaran, saya berjalan mendekati asal suara alunan musik tersebut, yang ternyata bersumber dari seorang pemusik (pengamen) jalanan yang cukup piawai memainkan biola. Memang bukan pertama kalinya saya mendengar pengamen memainkan biola, tetapi lagu rohani yang ia mainkan membuat saya tergelitik untuk mendekat. Saya pun memberanikan diri untuk berbicara dengan pengamen tersebut.
“Hai, Mas, bisa lagu rohani toh?” Saya bertanya setelah dia selesai membawakan satu lagu.
“Bisa, Mas,” jawab si pengamen yang belakangan saya tahu biasa dipanggil Opang.
Selesai ia memainkan lagu tersebut, sambil duduk saya mengajaknya mengobrol. Begini kira-kira pembicaraan kami ketika itu:
“Mas, belajar dari mana main biolanya?”
“Otodidak mas,” jawab Opang.
“Kok bisa main lagu rohani, Mas?”
“Senang aja, Mas, sama lagunya, walau saya Muslim.”
“Kenapa pilih lagu rohani, Mas?”
Mungkin dalam hatinya, Opang menganggap saya bawel sekali. Ia tetap menjawab ramah, “Kan pendengar di sini beda-beda, Mas, ada yang non-Muslim juga.”


Mas Opang mengatur lagi posisi biolanya dan melanjutkan lagu berikutnya. Dan alunan nada lagu itu langsung membuat saya bersenandung lagi dalam hati:
♬♫♪♩
Hidup ini adalah kesempatan
Hidup ini untuk melayani Tuhan
Jangan sia-siakan waktu yang Tuhan beri
Hidup ini hanya sementara
Oh Tuhan pakailah hidupku
Selagi aku masih kuat
Suatu saat aku tak berdaya
Hidup ini sudah jadi berkat
♬♫♪♩
Hujan belum berhenti, tapi hati ini lebih sejuk walau sedikit tersentil. Mas Opang, seorang non-Kristen, walau mungkin dengan alasan ekonomi, memainkan lagu yang disesuaikan dengan pendengarnya. Dia berani membagikan musik rohani di ruang publik. Andaikan Tuhan melihat dan menjamah hatinya, alangkah indahnya. Tiada yang mustahil.
Saya bergegas melanjutkan perjalanan, menyalami Mas Opang seraya berterima kasih. Nampak Mas Opang kaget sekaligus tersenyum.
Sambil naik kendaraan, hati ini malah terketuk, “Kenapa tidak beritakan Kabar Baik tadi?” Muncul pembelaan diri: “Ah, jalin persahabatan dulu. Kalau Tuhan mau, nanti pasti ada saatnya bertemu lagi. Semoga Roh Kudus mau membuka hatinya dan ia bisa menjadi terang bagi keluarganya.”
2 Timotius 4:2, berbunyi: “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya.” Sudahkah Anda melayani Dia? Tuhan bisa memakai siapa saja untuk mengetuk hatimu dengan sindiran yang merdu. Tuhan Yesus kiranya senantiasa mengingatkan iman kita dan memberkati kita semua.


No Comment! Be the first one.