

“Wake Up Dead Man”: Melihat Keagungan Tuhan Melalui Gereja-Nya
Oleh: Firdaus Salim
Saat Anda menonton film Wake Up Dead Man: A Knives Out Mystery, Anda mungkin merasa bahwa film ini ditulis atau disutradarai oleh seseorang yang bukan hanya mengenal Kekristenan dari luar saja, tetapi pernah benar-benar hidup di dalam lingkungan Kristen. Dialog-dialog yang ditampilkan menunjukkan nuansa bahasa Kristen yang digunakan sehari-hari oleh orang-orang di dalam gereja.


Dugaan Anda benar. Rian Johnson, sang penulis dan sutradara film ini, tumbuh besar di gereja Injili – seperti GKY – sebelum meninggalkan gereja saat menginjak usia dewasa muda.
Dalam film ini, Detektif Benoit Blanc, yang diperankan oleh Daniel Craig, ditugaskan mengusut sebuah kasus pembunuhan. Ia mendatangi sebuah gereja dan bertemu dan kemudian berdialog dengan seorang romo atau imam Katolik bernama Jud. Dari perbicangan mereka, Romo Jud menyimpulkan bahwa Detektif Blanc bukanlah seorang beriman.
“You are not a Catholic,” ujarnya.
Lalu dengan bangga, Detektif Blanc mengonfirmasi, “Proud heretic. I kneel at the altar of the rational.”
Ia bangga menjadi seorang sesat yang tunduk di altar rasionalitas. Blanc memanglah seorang detektif yang sangat rasional.
Detektif Blanc kemudian mengamati arsitektur gereja bernuansa gotik itu. Lalu ia melontarkan sebuah kalimat yang sangat berlawanan dengan rasionalitasnya, “Well, the architecture, that interests me. I feel the grandeur, the… the mystery.” Kalau diterjemahkan, kira-kira begini katanya: “Arsitekturnya menarik. Aku merasakan keagungannya, misterinya.”
Tanpa disadari, kalimat Detektif Blanc membuat kita berpikir mengenai arsitektur gedung gereja modern saat ini. Hans Rookmaaker, seorang teolog dari Belanda, pernah menulis sebuah buku berjudul Modern Art and Death of Culture. Menurut Rookmaaker, sebelum zaman Renaissance (era kebangkitan rasionalitas dan akal budi), setiap karya seni memiliki pesan-pesan spiritual. 1Di balik sebuah karya seni yang ‘imanen’, yang down-to-earth, yang sangat dekat dan relevan dengan kita, ada sebuah transendensi yang melampaui dunia ini. Di dalamnya kita menemukan ‘otherwordliness’, ada sesuatu yang mempesona yang mengantarkan kita ke dunia lain.


Ini bisa terjadi misalnya sewaktu kita mendengarkan sebuah konser musik yang megah dan agung. Musik itu seakan-akan membawa kita kepada suatu kemegahan dan keagungan di luar dunia ini. Begitu juga dengan lukisan. Lukisan-lukisan di era sebelum Renaissance memiliki elemen supernatural dan memiliki makna religius di baliknya.2
Namun, memasuki Era Renaissance di mana akal budi mendominasi, elemen-elemen spiritual ini lambat laun pun hilang. Karya seni modern menjadi sangat imanen, relevan dan dekat dengan kita, tetapi kehilangan unsur transendensi yang mengantarkan kita kepada ‘otherworldliness’, yaitu Tuhan.
Karya seni mulai kehilangan pesan spiritualnya, termasuk arsitektur gedung-gedung gereja modern. Arsitektur gereja yang di zaman dahulu menampilkan kemegahan dan keagungan akan transendensi Tuhan, kini cenderung direduksi berdasarkan aspek fungsionalitas semata.
Karena didesain lebih demi fungsi semata, gedung-gedung gereja pun kehilangan unsur misteri yang transenden, kehilangan unsur keagungan, unsur kesakralan secara estetika. Semua unsur ini digantikan oleh sebuah function hall yang penuh dengan tata cahaya dan audio sistem canggih, tetapi mati dan kosong. Padahal, jiwa manusia mendambakan transendensi.
Sejatinya, manusia diciptakan untuk beribadah, mengagumi sesuatu dan bertemu dengan sesuatu yang ilahi. Ketika arsitektur tempat kita beribadah kehilangan misteri dan keindahannya, kita menjadi ‘spiritually malnourished’ atau kelaparan dan kekurangan gizi secara rohani.
Akhirnya, kita hanya menjadi puas dengan ‘a lesser substitute’. Kita mencari pengganti yang hilang dengan bentuk hiburan lain yang performatif, seperti lagu-lagu dan tata ibadah yang menghibur. Dan akhirnya, kita menyalahartikan hiburan sebagai perjumpaan dengan Tuhan. Kita telah kehilangan transendensi seperti ini:


Dan digantikan oleh ini:


Dalam sebuah adegan di Wake Up Dead Man, Romo Jud dengan jujur mengatakan kepada Detektif Blanc mengenai desain bangunan gereja modern saat ini, “It has more in common with Disneyland than Notre-Dame and the rites and rituals and costumes, all of it.” Bangunan dan ritual ibadah gereja hari ini lebih mirip pertunjukan hiburan Disneyland dibandingkan Gereja Notre-Dame yang memiliki unsur kesakralan.
Kalimat Romo Jud mengajak kita merenung kembali. Sering kali, orang Kristen bersusah payah membawa orang lain ke gereja untuk mengenal Tuhan. Bahkan kadang harus berapologetika dengan memakai segala argumen dan akal budi. Padahal, mungkin yang dibutuhkan seseorang adalah sebuah pengalaman transendensi yang mengundangnya dan menariknya ke dalam keagungan ilahi (divine majesty).
Membandingkan desain gedung Gereja Notre-Dame atau St. Peter’s Basilica dengan gedung gereja hari ini memang bukanlah sebuah perbandingan yang setara. Ada beragam perbedaan konteks, termasuk konteks zaman dan teknologi. Namun, setidaknya kita mulai menyadari bahwa di balik perkembangan teknologi, zaman, budaya, sosial-ekonomi yang kita miliki saat ini, ada unsur transendensi dan kesakralan interior gedung gereja yang masih perlu mendapatkan tempat dan perhatian. Desain gedung gereja berpotensi menjadi sebuah sarana penginjilan non-verbal. Ketika seseorang tidak dapat menerima Tuhan dengan akal budinya, gedung gereja bisa dengan sendirinya ‘menginjili’ orang itu.
Dalam sebuah perbincangan daring saya dengan seorang dosen teologi, ia mengatakan bahwa desain gedung gereja adalah “a means of theologizing”. Desain gedung gereja pada dasarnya adalah sebuah sarana berteologi. Arsitekturnya menyampaikan sebuah pesan teologi mengenai Allah yang transenden.
Dengan demikian, kita bisa membiarkan seseorang mengalami sebuah kontradiksi di dalam dirinya seperti yang dialami Detektif Blanc. Meskipun Blanc mengaku berlutut dan tunduk di depan altar rasionalitasnya, tetapi nuansa transendensi Tuhan yang dihadirkan oleh arsitektur gedung gereja justru mengkhianati rasionalitasnya. “The architecture, that interests me. I feel the grandeur, the… the mystery,” ujar Blanc tak berdaya seperti sedang merasakan misteri keagungan Tuhan.
Menonton film Wake Up Dead Man menggelitik kita untuk mulai berpikir. Sejauh mana desain gereja di sekitar kita sudah menjadi sarana berteologi, baik bagi umat Kristiani maupun bagi orang yang tidak mengenal Tuhan? Apakah menurut Anda gedung-gedung gereja masa kini masih mengundang kita ke dalam misteri keagungan ilahi-Nya?
Referensi untuk bacaan lebih lanjut:
Rookmaaker, H. Modern Art and Death of Culture. (Wheaton, Il:1973).
Penulis adalah seorang pengajar teologi, filsafat, dan bisnis di sebuah institusi pendidikan di Tangerang. Sebelumnya ia berkecimpung sebagai konsultan di bidang perdagangan internasional.





