Gerakan “Christlikeness” gereja kita sudah memasuki tahun ketiga. Di tahun pertama, kita telah berkenalan dengan gerakan “Christlikeness” yang menjadikan Yesus sebagai pusat. Tahun berikutnya, di 2025, kita fokus belajar tentang hidup Kristus dan lahirlah tema “The Jesus Way”.
Nah, tahun ini, kita dituntun untuk menjadi semakin serupa Kristus melalui kisah transformasi hidup para rasul Kristus. Dengan segala keunikan karakter mereka, Kristus membentuk para rasul menjadi pejuang Injil dan memakai mereka untuk memberitakan kabar keselamatan. Para rasul adalah gambaran orang percaya, merepresentasikan kita sebagai orang yang juga telah dipilih Yesus dan mengenal Dia.
Nafiri berbincang dengan gembala kita, Pdt. Tommy Elim, untuk membahas lebih jauh tentang tema 2026: Living Out The Jesus Way.
Mengapa Mushi memilih “bedah murid” untuk gerakan “Christlikeness” tahun ini?
Sangat menarik melihat bahwa murid-murid Yesus, para rasul, memiliki karakter yang begitu beragam. Yesus tidak hanya memanggil pribadi-pribadi yang tampak “unggul” seperti Petrus, tetapi juga rasul-rasul yang namanya tidak begitu dikenal dan tidak banyak diceritakan dalam Alkitab. Namun demikian, Tuhan Yesus tetap memanggil dan memakai para silent apostles ini.
Di dalam kamus Tuhan Yesus, tidak ada istilah “nobody”. Itu hanyalah cara pandang manusia. Sayangnya, kita seringkali justru berlomba-lomba menjadi “somebody” yang dianggap unggul di mata dunia. Kita gagal melihat isi hati Tuhan.
Melalui kehidupan para rasul, kita belajar tentang proses transformasi yang mereka alami, serta bagaimana setiap karakter mereka dipakai Allah secara luar biasa. Bukan hanya kehidupan mereka yang memuliakan Allah, tetapi bahkan kematian mereka pun menjadi kesaksian yang memuliakan nama-Nya.
Bicara mengenai transformasi hidup, ada remaja yang bilang, “Hidup saya baik-baik saja, tidak ada sesuatu yang harus diubah. Saya tidak bandel, rajin ke gereja, di sekolah ‘fine-fine’ saja”. Apa lagi yang harus ditransformasi?”
Intinya bukan baik, bukan fine-fine saja, melainkan hidup seperti Kristus. Target kita adalah menjadi Kristus-Kristus kecil.
Jangan menilai hidup kita sendiri, karena dengan begitu kita jadi kehilangan fokus, yang seharusnya Christ-centered, menjadi self-centered. Beranikah kita berkata, “Di dalam pikiranku, dalam tutur kataku, dalam tingkah lakuku, aku adalah Kristus kecil?”
Sebenarnya ini mirip dengan hidup saya. Dari kecil saya adalah anak yang baik-baik, tidak pernah berbuat onar. Kalau mau dinilai, ya I’m an OK kid. Namun, ketika semakin mengenal Kristus, saya mulai menggali hidup saya, dan ternyata I’m not really OK. Banyak hal yang harus saya ubah, mulai dari motivasi, emosi, sampai kehidupan sehari-hari saya.
Saya ingat definisi John Calvin akan orang kudus (saint): orang kudus adalah orang yang sangat peka pada hal-hal kecil yang tidak benar, mulai dari pikiran yang tidak benar, emosi yang tidak menjadi berkat. Jadi mungkin kalau orang merasa dirinya baik, dia hanya mengkontraskan dirinya dengan orang-orang jahat. Dia tidak sensitif terhadap hidupnya sendiri.
Dalam proses transformasi “Christlikeness”, jelas sekali bahwa membangun relasi dengan Tuhan sangatlah penting dan perlu disiplin diri. Bagaimana cara paling mudah untuk membangun disiplin? Apa di awal saya perlu memaksakan diri dulu, lalu makin lama jadi biasa?
Nah, di sini ada hal tersirat yang penting: KERINDUAN untuk dapat berubah. KERINDUAN untuk membangun disiplin. Itu yang perlu dipelihara dan didoakan terus, supaya kita selalu punya kerinduan ingin diubah Tuhan.
Tanpa kerinduan, disiplin rohani akan menjadi aktivitas religius yang mati, seperti para ahli Taurat. Mereka sangat disiplin, tapi tanpa kerinduan untuk menjadi serupa Kristus.
Selain menjaga kerinduan, kita juga harus menjaga ritme hidup untuk tetap punya kepekaan rohani. Ingat, kita dibentuk oleh dunia sekeliling kita dan dunia sangat sibuk dengan segala informasi, kegaduhan, kesibukan, dan lain sebagainya. Kalau kita tidak punya “ritme rohani”, kita akan ditelan oleh kegaduhan dunia.
Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana menjaga ritme rohani? Yang saya lakukan adalah mengadopsi Daily Examen dari Ignatius Loyola. Secara berkala dalam satu hari, selama satu tahun, saya mengambil waktu untuk melatih kepekaan rohani. Setelah melakukan latihan ini, dalam anugerah Tuhan, saya merasa lebih peka akan apa yang saya pikirkan dan ingin katakan, agar itu semua berpusat pada Tuhan.
Nafiri kemudian menggali tentang daily examen yang dimaksud. Ringkasnya, ada lima langkah yang secara konsisten dilatih setiap hari:
- Menyadari kehadiran Tuhan
- Meninjau kembali hari yang telah dijalani dan bersyukur
- Memperhatikan emosi yang kita rasakan
- Memilih satu hal dari hari ini, lalu jadikan sebagai bahan doa
- Mengarahkan hati untuk menyambut hari esok
Wah berarti bagian latihan rohani di gerakan “Christlikeness” tidak boleh dianggap ringan ya, Mushi? Kadang karena waktu yang kurang, jadi sambil lalu saja.
(Sambil tersenyum) Ya.
***






No Comment! Be the first one.