Penulis: Ronald Manuel
Istri saya adalah orang yang paling memahami bahwa pekerjaan merupakan pergumulan terberat dan terpanjang dalam hidup saya. Dari waktu ke waktu, saya menyadari bahwa pekerjaan bukan sekadar tantangan, tetapi juga telah mengambil tempat sebagai berhala dalam hidup saya.
Saya yakin saya tidak sendirian dalam pergumulan ini. Ada banyak dari kita yang diam-diam bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang pekerjaan. Mengapa kita harus bekerja? Bagaimana seharusnya kita menempatkan pekerjaan di dalam kehidupan kita? Apakah salah jika kita mengejar kualitas dan kesempurnaan dalam pekerjaan kita? Sampai sejauh mana pengejaran terhadap kesempurnaan itu masih sehat? Apakah ambisi memiliki tempat dalam kehidupan kerja seorang Kristen —dan jika iya, seperti apa ambisi yang bisa disebut sehat? Bagaimana kita menyikapi kegagalan dalam pekerjaan? Dan jika pekerjaan memang adalah panggilan dari Tuhan, mengapa Ia mengizinkan kegagalan terjadi di dalamnya?
Sampai hari ini, saya masih bergumul dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Ada masa-masa di mana saya merasa telah menemukan jawabannya, dan kemudian tiba pada sebuah peristiwa —kegagalan, kekecewaan, atau perubahan keadaan— yang membawa saya kembali ke titik pergumulan yang sama.
Dalam proses pencarian ini, saya mencoba membaca dan mendengarkan berbagai referensi. Salah satunya adalah seri khotbah tentang pekerjaan dari Calvary Church, Albuquerque, New Mexico, Amerika Serikat yang menolong saya mulai meletakkan pertanyaan-pertanyaan itu dalam bingkai iman. Namun ada satu referensi lain yang membawa saya lebih jauh: tidak hanya memberi kerangka teologis, tetapi juga bahasa yang jujur tentang pergumulan nyata di tempat kerja. Buku itu adalah God at Work, karya Ken Costa.


Costa bukan pendeta atau rohaniwan. Ia adalah seorang profesional yang menghabiskan lebih dari empat dekade waktunya di puncak dunia perbankan internasional, mulai dari S.G. Warburg, kemudian menjabat sebagai Vice Chairman di UBS Investment Bank untuk kawasan Eropa, Timur Tengah, dan Afrika, hingga akhirnya menjadi Chairman di Lazard International, salah satu firma penasihat keuangan paling bergengsi di dunia. Sebutan-sebutan ini bukan sekadar daftar jabatan —mereka mewakili lingkungan kerja dengan tekanan, ambisi, dan taruhan yang luar biasa tinggi. Costa menghidupi imannya tepat di tengah semua itu.
Namun Costa juga bukan sekadar praktisi bisnis biasa. Di luar kariernya, ia lama terlibat dalam kepemimpinan pelayanan Kristen, termasuk sebagai Chairman of Alpha International, sebuah program pengenalan iman Kristen yang kini telah dijalankan di puluhan ribu gereja di seluruh dunia dan menjangkau jutaan orang. Perpaduan inilah yang membuat God at Work terasa otentik —ditulis oleh seseorang yang memahami tekanan target periodik sekaligus kedalaman hidup berdoa. Ia tidak berbicara dari mimbar atau ruang kelas, melainkan dari tempat dimana banyak orang Kristen bergumul setiap hari: meja kerja.
Salah satu hal pertama yang menolong saya ketika membaca God at Work adalah cara Costa menempatkan pekerjaan dalam bingkai yang lebih besar. Ia mengingatkan bahwa tujuan utama bekerja bukanlah pencapaian diri, pengakuan, atau keamanan finansial, melainkan partisipasi dalam karya Allah di dunia. Pekerjaan menjadi salah satu cara kita untuk ikut mengambil bagian dalam apa yang Tuhan sedang kerjakan; melayani sesama, memelihara ciptaan, dan menghadirkan nilai-nilai Kerajaan Allah dalam keseharian.
Cara pandang ini menantang saya secara langsung. Selama ini, tanpa saya sadari, saya sering menjadikan pekerjaan sebagai pusat identitas dan sumber makna hidup. Ketika pekerjaan berjalan baik, saya merasa bernilai; ketika gagal, saya merasa runtuh. Saya bahkan kesulitan memilih satu kegagalan untuk diceritakan di sini, bukan karena tidak ada, melainkan karena terlalu banyak. Istri saya menyaksikan semuanya. Costa menolong saya mengadopsi pemahaman baru: pekerjaan adalah hal penting, tetapi bukan yang utama. Pekerjaan adalah panggilan, bukan penentu nilai diri.
Pertanyaan tentang kualitas dan kesempurnaan pun mulai mendapat makna baru. Costa tidak mengajak kita untuk berhenti peduli terhadap kualitas kerja. Sebaliknya, ia memandang etos kerja yang tinggi sebagai bentuk penghormatan kepada Tuhan, Sang pemberi talenta. Namun, ada garis yang perlu dijaga: ketika pengejaran kualitas tidak lagi lahir dari rasa syukur dan kesetiaan, melainkan dari ketakutan akan penilaian orang atau kebutuhan untuk membuktikan diri, di situlah ia berubah jadi salah. Membaca Costa menolong saya menyadari bahwa: perfeksionisme yang tidak sehat sering kali adalah ekspresi dari identitas yang belum sepenuhnya bersandar pada kasih Tuhan.
Costa juga menjawab pertanyaan saya tentang ambisi. Ia tidak menolak ambisi, tetapi menatanya ulang. Ambisi yang sehat bukanlah dorongan untuk mengungguli orang lain atau membuktikan diri, melainkan kerinduan untuk setia menggunakan talenta yang dipercayakan Tuhan. Ambisi yang sehat tidak diukur dari posisi atau pengakuan, tetapi dari kesetiaan dan integritas menjalani peran. Bukankah ini juga pelajaran yang kita petik dari rasul Yakobus, sang martir yang ambisius, bahwa ambisinya tidak salah, arahnyalah yang dikoreksi oleh Tuhan?
Lalu bagaimana dengan kegagalan? Inilah bagian yang paling saya butuhkan dan yang paling jujur dibahas Costa. Ia tidak menawarkan jawaban yang menyederhanakan rasa sakit. Sebaliknya, ia mengajak kita melihat kegagalan bukan sebagai bukti bahwa Tuhan tidak hadir, melainkan justru sebagai salah satu ruang di mana Ia paling aktif bekerja membentuk karakter kita. Sebab justru dalam kelemahan kita, kekuatan Tuhan menjadi nyata.
Kegagalan dalam pekerjaan, ketika dihadapi dengan iman, bisa menjadi tempat kita belajar melepaskan kendali dan menemukan bahwa nilai kita tidak pernah bergantung pada hasil yang kita capai. Costa mengingatkan bahwa tokoh-tokoh iman dalam Alkitab pun tidak luput dari kegagalan di dalam panggilan mereka. Yang membedakan bukan absennya kegagalan, melainkan ke mana mereka membawa kegagalan itu.
Costa juga menulis dengan jujur tentang stres. Tekanan dan tuntutan tidak bisa sepenuhnya dihindari, tetapi stres menjadi berbahaya ketika pekerjaan mengambil alih ruang yang seharusnya menjadi milik Tuhan: ruang kepercayaan, penyerahan, dan istirahat. Hal serupa berlaku untuk uang: bukan sesuatu yang jahat, tetapi alat yang perlu dikelola dengan bijak, bukan disembah. Perspektif ini menolong saya untuk melihat kembali motivasi di balik keputusan kerja dan keputusan keuangan yang saya ambil: apakah didorong oleh rasa cukup dan syukur, atau oleh ketakutan dan keinginan untuk mengamankan diri?
Pada akhirnya, God at Work tidak memberi jawaban sederhana atas semua pertanyaan saya tentang pekerjaan. Namun, buku ini menolong saya untuk mengajukan pertanyaan yang lebih jujur dan lebih tepat: bukan hanya apa yang saya kerjakan, tetapi siapa saya di hadapan Tuhan ketika saya bekerja. Dan mungkin, di sanalah pekerjaan kembali menemukan tempat yang semestinya: bukan sebagai berhala, melainkan sebagai ruang pembentukan iman dan kesetiaan.
***
Tentang Penulis
Ronald Manuel adalah seorang suami, ayah, dan pegawai swasta yang selama tiga tahun belakangan bergabung di GKY BSD. Saat ini ia aktif melayani sebagai fasilitator remaja.





No Comment! Be the first one.