Benarkah hidup di era serba cepat dapat memicu stres dan gangguan kesehatan mental?
Pada 2021, Jakarta masuk dalam daftar 10 kota dengan tingkat stres tertinggi di dunia dalam laporan The Least and Most Stressful Cities Index 2021. Pada tahun yang sama, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa setiap satu dari tujuh orang di dunia, atau lebih dari satu miliar manusia, hidup dengan gangguan mental. Di Indonesia, data Kementerian Kesehatan pada 2021 menunjukkan bahwa setidaknya 20 persen penduduk negeri ini mempunyai potensi masalah kejiwaan, mayoritas berasal dari kalangan remaja dan dewasa muda.
Faktor biologis, psikologis, dan lingkungan adalah tiga faktor penyebab dan pemicu gangguan kesehatan mental. Sedangkan gangguan kesehatan mental berat yang tak tertangani dapat berakhir dengan kasus bunuh diri. Tercatat ada lebih dari 1.200 kasus bunuh diri di Indonesia sepanjang 2025, kebanyakan dipicu oleh tekanan mental dan sosial.
Setiap manusia tentu pernah merasakan dan memiliki tekanan hidup, baik yang bersumber dari lingkungan sekitar maupun dari dalam diri sendiri. Jika tidak dikelola dengan baik, tekanan dapat menimbulkan gangguan psikologis, termasuk emosi dan mood yang naik-turun, rasa cemas berlebih, stres, hingga depresi.
Lalu, dapatkah kita hidup bebas dan bahagia di era yang serba cepat dan penuh tekanan?
Tantangan Kehidupan Perkotaan
Kehidupan di perkotaan, khususnya, menuntut kita untuk bekerja cepat dan efisien. Beberapa waktu lalu saya melihat sebuah video di media sosial tentang bagaimana orang-orang rela berlarian dan berebut masuk ke sebuah stasiun ketika hari masih subuh demi bisa mendapatkan tempat duduk di kereta. Sore harinya, saat jam pulang kantor, mereka lagi-lagi harus berebut untuk sekadar berdiri berdesakan di kereta agar bisa pulang ke rumah.
Saya pernah mengalaminya juga saat mengikuti pelatihan di sebuah kantor di Jakarta Utara. Cuma beberapa hari saja saya sudah merasa stres. Bagaimana dengan orang-orang yang menjalaninya setiap hari selama bertahun-tahun? Dan semua itu mesti mereka lakukan demi mendapatkan penghasilan untuk bertahan hidup.
Ditambah lagi tekanan pekerjaan di kantor. Ada target yang harus dipenuhi dan beban kerja yang berlebih sementara kebutuhan ekonomi kian berat. Akibatnya, banyak orang akhirnya mengalami burn out – kelelahan fisik, mental, dan psikologis yang ekstrim. Tak heran bila kemudian muncul fenomena orang perkotaan yang mendambakan slow living alias hidup tenang dan di pedesaan.
Menjalani Hidup Slow di Tengah Hiruk Pikuk Perkotaan
Slow living adalah konsep gaya hidup yang berkembang di Italia. Awalnya, di era 1980-an, seorang jurnalis menginisiasi gerakan slow food sebagai bentuk protes terhadap kemunculan restoran fast food yang mengancam usaha rumah makan tradisional. Dari situ, konsep serupa juga merambah ke area lain seperti slow fashion, slow cities, dan slow living.
Slow living bukan berarti menjalani hidup dengan bermalas-malasan atau melakukan segalanya dengan lambat. Slow living menekankan soal menjalani kehidupan dengan penuh kesadaran (mindfulness) dan fokus pada saat ini. Menikmati setiap proses dan aktivitas sederhana serta mensyukuri setiap hal yang biasanya berlalu begitu saja.
Di era serba cepat seperti sekarang ini, slow living ibarat udara segar yang memberi harapan untuk bebas dari tekanan. Namun, slow living tidak mengharuskan kita meninggalkan pekerjaan atau studi yang berat dan mencari alternatif hidup yang lebih santai. Bahkan dalam keseharian kita yang sibuk pun kita dapat menerapkan gaya hidup yang lebih lambat. Dimulai dari mengubah cara berpikir, kebiasaan, dan bagaimana kita merespons setiap hal yang terjadi dalam kehidupan kita.
Menikmati Koneksi dengan Diri, Alam, dan Tuhan
Kita dapat melatih diri dengan lebih memaknai kehidupan dan aktivitas sehari-hari kita. Bagaimana kita menikmati warna, bau, dan tekstur makanan yang kita santap. Bagaimana kita merasakan sensasi hangatnya sinar mentari pagi di kulit kita. Bagaimana kita menikmati alam sekitar saat berjalan kaki dan menikmati kesendirian dalam keramaian. Juga bagaimana kita dapat menikmati waktu luang dengan merawat diri, beristirahat, merenung atau membuat jurnal harian, dan menjauhkan diri sejenak dari keriuhan dunia digital dan media sosial. Hal-hal sederhana ini dapat menolong kita agar lebih terkoneksi dengan lingkungan sekitar dan terutama dengan Tuhan sebagai pencipta kita.
Menjalani hidup yang lebih damai, seimbang dan terkoneksi secara sadar dengan diri sendiri, alam, dan Tuhan dapat menjauhkan kita dari stres dan kelelahan mental maupun fisik. Dalam sebuah jurnal dikatakan bahwa slow living juga dapat meningkatkan kualitas hubungan dengan sesama, membuat kita menjadi lebih fokus untuk hadir dan mendengarkan. Tidak hanya lebih peka terhadap perkataan orang lain, tetapi juga menjadi lebih peka mendengarkan keresahan diri sendiri dan perkataan Tuhan dalam kehidupan kita.
Kemampuan untuk mengenali apa saja emosi yang sedang kita rasakan, seperti ketakutan, kecemasan, kemarahan, dan juga kebahagiaan sangatlah diperlukan. Terutama ketika kita dihadapkan pada sebuah permasalahan ataupun berada dalam tekanan. Dengan menyadari dan melakukan regulasi emosi, kita akan lebih mampu mengendalikan respons kita terhadap masalah.
Koneksi dengan diri dan alam akan sempurna bila kita hidup dekat dengan Tuhan. Bukan hanya di saat sulit, tetapi dalam keseharian kita. Melekat dengan Tuhan membuat kita sadar untuk tidak mengandalkan kemampuan diri sendiri, melainkan berpegang pada Tuhan yang tak pernah lelah bekerja dalam kehidupan kita.
“Dia memberi kekuatan pada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya. Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru; mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.” (Yesaya 40:29-31).
Maka sejatinya hidup lebih lambat akan memampukan kita melihat maksud dan berkat Tuhan dengan lebih jelas. Dan orang-orang yang selalu berpegang pada Tuhan akan selalu dikuatkan untuk menghadapi hidup yang penuh tantangan.
***




